logo

Pola Komunikasi Anak Muda Masa Kini

Pola Komunikasi Anak Muda Masa Kini

15 Oktober 2018 05:43 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Haryono Suyono

Minggu lalu BPS bersama BKKBN menggelar suatu pertemuan di Jakarta menjelaskan hasil Survey SDKI 2017 yang baru saja diselesaikan pengolahannya. Survey tersebut merupakan kegiatan rutin tiga tahunan yang menarik karena merekam perkembangan selama tiga bulan terakhir sebelum masa survey.

Atas kebaikan Kepala BPS Dr Kecuk Suhariyanto yang memberikan file hasil Survey tersebut, di bawah ini disajikan salah satu hasil yang menarik tentang Pola Komunikasi Remaja masa kini. Kecuali pola komunikasi tersebut sesungguhnya Survey yang mengambil sample dengan jumlah sangat besar itu memberikan pula beberapa hasil lain yang tidak kalah menariknya. Namun, untuk memahami beberapa hal tersebut, kali ini baru akan disajikan betapa indahnya Survey tersebut dengan sample yang begitu besar memberikan gambaran pola komunikasi anak muda masa kini.

Analisa berikutnya akan disambung dengan pemahaman anak muda masa kini tentang serangan HIV dan tanggapan remaja tentang sex bebas atau reproduksi remaja. Hasil Survey SDKI 2017 sungguh sangat menarik karena berbagai alasan. Salah satunya adalah karena BPS mengambil sample yang begitu besar dari seluruh Tanah Air. Karena sample yang besar dan diambil sistematis, hampir dapat dipastikan, tanpa mengikuti berbagai tes validasi yang rumit, banyak kalangan, termasuk para ilmuan dari manca negara, menganggap validitas dari SDKI yang selalu diadakan sejak puluhan tahun yang lalu, sangat tinggi.

Alasan lain adalah karena Survei tersebut dikelola secara ilmiah dengan cermat yang dengan jumlah sample sangat besar, dilakukan kunjungan dengan wawancara langsung oleh petugas yang dilatih khusus serta memiliki cakupan yang meliputi wilayah seluruh Indonesia. Ulasan pada artikel ini memperkenalkan gambaran sample, ciri-ciri responden serta pola komunikasi pemuda yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia.

Untuk daerah perkotaan rumah tangga yang diambil sebagai sample berjumlah 25.306, rumah tangga yang ditemui berjumlah 24.207, sedangkan rumah tangga yang diwawancara ada sebanyak 24.560. Di daerah pedesaan jumlah rumah tangga sample adalah 23.955, rumah tangga yang ditemui berjumlah 23.509, sedangkan rumah tangga yang diwawancara ada sebanyak 23.403. Sehingga secara nasional jumlah rumah tangga yang diwawancara adalah 47.963, suatu sample survey dengan jumlah sample sangat besar yang tidak pernah dilakukan oleh lembaga swasta manapun di Indonesia.

Selanjutnya untuk mendapatkan informasi tentang pola komunikasi, sikap dan tingkah laku para remaja dilakukan wawancara langsung dengan sample dari wanita belum kawin umur 15-24 tahun serta pria belum kawin pada usia yang sama. Jumlah wanita belum kawin usia 15-24 tahun yang dianggap memenuhi syarat di daerah perkotaan adalah 6.605, yang diwawancarai sebanyak 6.391; di daerah pedesaan yang memenuhi syarat adalah 4.427 sedangkan yang diwawancarai adalah 4.300, suatu jumlah yang diwawancarai seluruhnya adalah sebanyak 10.691 responden atau sebanyak 96.9 persen dari responden yang dianggap memenuhi syarat.

Untuk responden pria yang belum kawin usia 15-24 tahun yang memenuhi syarat di daerah perkotaan adalah 7.699, sedangkan yang diwawancarai adalah 7.237; di daerah pedesaan jumlah yang memenuhi syarat adalah 6.161 dan yang diwawancarai adalah 5.942 atau jumlah seluruhnya yang memenuhi syarat adalah 13.079 atau hasil kunjungan kepada responden yang memenuhi syarat adalah sebanyak 94.4 persen, suatu respon yang sangat baik.

Dari sample tersebut terdapat gambaran profil umum dari responden wanita yang belum kawin adalah bahwa 88 persen berusia 15-19 tahun dan sisanya berusia 20-24 tahun. Sekitar 59 persen wanita dan 55 persen pria tinggal di kota. Lebih dari separo wanita (52 persen) dan 35 persen pria bersekolah. Dua puluh empat persen wanita dan 38 persen pria lainnya bekerja. Wanita memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, 47 persen wanita tamat SLTA dan hanya 39 persen pria memiliki tingkat pendidikan SLTA yang sama.

Anak-anak remaja yang masuk dalam Survey pada umumnya adalah anak dari Kepala Keluarga. Karena itu sebagian besar anak-anak perempuan anggota keluarga bersekolah, jumlah ini meningkat dibanding SDKI tahun 2012 dari 46 persen menjadi 52 persen pada SDKI tahun 2017. Pria yang bersekolah meningkat dari 33 persen menjadi 35 persen dalam rentang periode yang sama. Anak remaja yang bekerja jauh lebih banyak (36 persen) dibanding jumlah anak perempuan yang bekerja (24 persen), yang tidak sekolah dan tidak bekerja prosentasenya untuk pria dan wanita hampir sama yaitu 10 dan 11 persen.

Dalam hal tingkat pendidikan, kaum wanita lebih baik dari pria. Wanita yang memiliki pendidikan Perguruan Tinggi 24 persen sedangkan pria hanya 13 persen. Wanita dengan pendidikan tamat SLTA tercatat 23 persen dan pria sedikit lebih tinggi sebesar 26 persen. Untuk yang tamat SLTA, wanita tercatat 49 persen dan pria sedikit lebih tinggi sebesar 51 persen.

Dalam hal komunikasi, ada kecenderungan penurunan penggunaan radio dan media cetak dalam mengakses informasi yang relatif sangat menurun dibanding peranannya di masa lalu. Penurunan terlebih pada penggunaan radio untuk mendengarkan informasi yang berhubungan dengan tujuan Survey yang diadakan, yaitu informasi tentang reproduksi, penggunaan HIV/AIDS atau tentang minuman keras atau alkohol. Begitu juga ada kecenderungan penurunan penggunaan surat kabar dan majalah. Penggunaan media ini yang sangat tinggi pada awal program di tahun 1970-an atau pada tahun 1980-an tidak lagi menjadi penting dewasa ini.

Peranan surat kabar dan majalah yang sangat penting di masa lalu satu demi satu ditinggalkan pembacanya di kota maupun di tingkat pedesaan. Namun wanita belum kawin umur 15-24 yang menonton televisi masih tercatat cukup lumayan, yaitu delapan puluh satu (81) persen, dan bagi pria belum kawin umur 15-24 yang menonton televisi setidaknya seminggu sekali masih juga cukup tinggi yaitu sebesar 77 persen. Angka itu sangat tinggi dibanding mereka yang membaca surat kabar yang jumlahnya kecil, untuk wanita jumlahnya hanya 15 persen dan untuk pria yang membaca koran dan majalah jumlahnya relatif lebih kecil lagi, yaitu hanya 14 persen.

Yang sangat menakjubkan adalah bahwa dalam satu bulan terakhir tercatat delapan puluh (80) persen wanita dan 66 persen pria menggunakan internet. Penggunaan media sosial seperti internet itu sudah menyamai peranan televisi yang sungguh merupakan phenomena yang sangat menarik dewasa ini karena terjadi di daerah kota maupun di daerah pedesaan di seluruh Indonesia.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra/Kepala BKKBN).

Editor : Gungde Ariwangsa SH