logo

Impor Gandum Dorong Harga Pakan Ternak Mahal?

Impor Gandum Dorong Harga Pakan Ternak Mahal?

11 Oktober 2018 22:39 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Impor gandum sebagai substitusi jagung dalam bahan baku pakan ternak menjadi salah satu sebab kenaikan harga pakan ternak yang terjadi saat ini. Kondisi tersebut akan berimbas pada lonjakan harga ayam dan telur yang diprediksi terjadi pada Desember mendatang.

Seperti diketahui jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan. Dari komposisi pakan unggas hampir 50-55 persen adalah jagung. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut industri pakan akan mengimpor.

Namun sejak pemerintah mengurangi, bahkan menyetop impor jagung, industri pakan ternak beralih menggunakan gandum sebagai bahan baku pakan.

Pada tahun 2016, impor jagung turun drastis dari 3 juta ton tahun 2015 menjadi 1,3 juta ton. Bahkan tahun 2017, impor jagung tinggal 0,7 juta ton. Tahun ini, pemerintah menyetop total impor jagung untuk pakan ternak.

Perusahaan dalam negeri yang diharapkan membeli jagung dalam negeri justru mengganti jagung dengan gandum.

Pengamat Pertanian, Khudori mengatakan, impor gandum untuk pakan melonjak drastis dari 0,02 juta ton tahun 2015 menjadi 2,5 juta ton pada 2016.

Harapan pemerintah agar terjadi penghematan devisa dari penurunan impor jagung senilai 448,3 juta dolar AS justru jauh lebih kecil dari tambahan devisa yang terkuras untuk impor gandum pakan sebanyak 479,5 juta dolar AS. “Tingginya harga pakan tersebut akan berdampak pada harga daging dan telur ayam,” kata Khudori dalam Diskusi Untung Rugi ‘Surplus’ Jagung, yang diinisiasi Pataka, di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Sementara itu Tony J. Kristianto dari Pusat Kajian Pangan Strategis mengungkapkan, penyebab industri pakan lebih memilih menggunakan gandum impor ketimbang jagung dalam negeri adalah kondisi sebaran produksi jagung di Indonesia yang sangat luas dan posisi industri pakan ternak yang lebih banyak di Pulau Jawa, sehingga biayanya menjadi mahal.

Apalagi sebagian besar industri pakan juga tidak mempunyai silo (tempat menyimpan jagung). Jadi meski ada surplus jagung, perusahaan pakan ternak tidak akan mau membuat stok, karena menyulitkan mereka dan menambah biaya produksi industri pakan ternak. Biaya pengadaan dan logistik juga menjadi mahal. Kerugian lainnya adalah stok menjadi tidak berputar.

Tony mengatakan, harga gandum impor saat ini sekitar Rp 4.800/kg, lebih mahal dari jagung impor yang hanya Rp 3.800/kg dan juga dari jagung lokal Rp 5.500/kg. Kalkulasinya, jika harga jagung impor untuk pakan ternak CnF 220 dolar AS/ton atau Rp 3.800/kg, sedangkan harga jagung lokal Rp 5.500/kg, maka ada selisih harga sekitar Rp 1.700/kg. Sehingga potensi kerugian sebanyak Rp 17 triliun (10 juta x Rp 1.700/kg).

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati menambahkan, kalau membandingkan harga di pasar internasional antara jagung dan gandum impor, maka akan lebih murah jagung impor. Dengan lebih murah jagung impor, harga pakan dalam negeri juga lebih efisien. Sebaliknya jika harga pakan mahal, maka harga telur dan ayam juga menjadi mahal, sehingga dampak ekonomi lebih besar. “Artinya terjadi saling keterikatan antar variabel tersebut,” ujarnya.

Padahal pemerintah wajib mengendalikan harga kebutuhan pokok. Jika tidak terkendali, maka kegiatan ekonomi tidak berjalan. Dampak lebih lanjut adalah ke petani/peternak, karena mereka adalah konsumen. ***