logo

Pengamat: Ada Anomali Produksi Di Balik Naiknya Harga Jagung

Pengamat: Ada Anomali Produksi Di Balik Naiknya Harga Jagung

11 Oktober 2018 20:28 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pengamat menilai kenaikan harga jagung yang dikeluhkan kalangan peternak menjadi sebuah anomali di saat produksi jagung mengalami kenaikan. Bahkan kalangan pengamat melihat sudah keluar dari hukum ekonomi.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan, mengatakan, permasalah jagung menjadi masalah komoditas pertanian secara keseluruhan. Ketika panen, harga akan turun. Karena itu, perlu manajemen produksi dan stok.

“Untuk komoditas jagung telah terjadi anomali, ada surplus, tapi harga naik. Dalam hukum ekonomi tidak mungkin produksi naik, harga naik,” katanya dalam Diskusi Untung Rugi Jagung yang digelar Pataka di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Anthony mencontohkan, tahun 2017 ada produksi jagung sebanyak 27,9 juta ton dengan kebutuhan nasional 15-16 juta ton. Artinya ada surplus, tapi mengapa harga jagung merambat naik. Apalagi tahun 2018 akan ada peningkatan produksi lagi.

“Kemana surplusnya. Kalau ada ekspor, dilihat harga jagung dalam negeri yang mencapai Rp5.000/kg dan harga internasional 145 dolar AS/ton atau Rp 2.300/kg. Bagaimana bisa ekspor? Kalau ekspor 500 ribu ton, sisanya kemana?” ungkapnya.

Anthony menambahkan, dampak mahalnya harga jagung, industri pakan yang biasa menggunakan jagung impor mensubsitusi ke gandum, bukan ke jagung lokal. Dengan demikian, seharusnya permintaan jagung di dalam negeri menurun. “Kalau permintaan turun, harganya juga harus turun. Kenapa sudah disubstitusi ke gandum, harga jagung lokal tetap naik. Jadi ditinjau dari ekonomi, tidak masuk,” katanya.

Karena itu Anthony mempertanyakan angka surplus jagung, baik dilihat dari perkembangan harga maupun permintaan untuk pakan ternak. Dia pun minta pemerintah meninjau kembali angka produksi jagung. Sebab, jika data produksi salah, maka kebijakan yang pemerintah buat juga menjadi tidak benar.

Seperti diketahui tahun 2018, pemerintah menargetkan produksi jagung mencapai 22,95 juta ton pipilan kering. Bahkan diperkirakan target tersebut bisa terlampaui, karena pemerintah memperkirakan produksi jagung tahun ini bisa mencapai 33 juta ton. Bukan hanya swasembada jagung, pemerintah pun mulai melempar jagung ke pasar luar negeri alias ekspor.

Data BPS menyebutkan pertumbuhan produksi jagung dalam lima tahun terakhir (2013-2017) rata-rata mencapai 8,02% pertahun. Pertumbuhan terbesar terjadi tahun tahun 2016 sebesar 20,2 persen.

Produktivitas Rendah

Pada bagian lain, Ketua Dewan Jagung Nasional Tony J. Kristianto mengungkapkan, harga jagung yang makin tinggi menjadi indikasi adanya masalah dalam sisi produksi. Bila ditarik, salah satu penyebabnya adalah pengadaan benih jagung yang hasil produksinya tidak sesuai janji.

Tony menyampaikan pengadaan benih jagung yang diberikan pemerintah merupakan kualitas rendah dan dalam jumlah masif. "Sehingga benih bagus tersingkir dari pasar sehingga produsen benih bagus mengurangi produksi," katanya.

Apalagi, benih yang dibagikan pemerintah disebut bisa menghasilkan panen sebesar 8 ton per hektare namun kenyataannya bila menghasilkan 3 ton per ha sudah disyukuri oleh petani. Kemudian pembagian benih adalah 15 kg per ha, padahal menurut Tony sebaiknya adalah 17 kg per ha.

Benih yang dibagikan pemerintah ini memang murah seharga Rp 40.000 - Rp 45.000 per kilogram. Beda jauh dengan benih premium dari produsen swasta yang bisa mencapai Rp 75.000 per kg, namun bisa menghasilkan lebih dari 10 ton per ha.

"Petani tetap memilih benih dari pemerintah karena murah. Namun pasokan jadi terpengaruh," ujarnya.

Hal tersebut akhirnya tercermin pada harga jagung yang sudah merangkak ke Rp 5.000-an per kg, bila harga naik lagi maka peternak dan industri pakan bisa undur beli. "Kalau sudah Rp 5.500 per kg peternak pasti akan stop beli," kata dia.

Menurut data yang dibagikan Kementerian Pertanian (Kementan) baru-baru ini, penyediaan benih jagung tahun 2018 dialokasikan mencapai 42.053 ton untuk lahan seluas 2,8 juta ha.

Kementan meramal produksi jagung tahun ini bisa mencapai 30,06 juta ton. Kemudian, panen jagung dari awal tahun hingga Agustus diklaim telah mencapai 22,23 juta ton dengan ekspor sebesar 261.763 ton. ***

Editor : Laksito Adi Darmono