logo

Kajian Dampak Ekonomi, Kerugian Gempa Di Palu Mencapai Rp24,6 Triliun

Kajian Dampak Ekonomi, Kerugian Gempa Di Palu Mencapai Rp24,6 Triliun

Pusat kajian Baznas Memprediksi kerugian gempa yakni sebesar 24,6 triliun
11 Oktober 2018 21:30 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA:.Penanganan bencana yang terjadi di Indonesia pada dasarnya merupakan tanggung jawab semua pihak.

Salah satu institusi yang memiliki peran penting dalam konteks ini adalah Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Ketua Baznas Bambang Soedibyo menjelaskan bahwa peran Baznas yang dilakukan diawali dengan fase rescue (upaya penyelamatan secara cepat dan tepat), relief (bantuan kebutuhan dasar untuk mengembalikan kemandirian korban), recovery (pengembalian keadaan sebelum terjadi bencana) dan reconstruction (pembangunan kembali sarana prasarana yang rusak akibat bencana).

Lebih lanjut Bambang mengatakan bahwa pada saat terjadi bencana, masyarakat yang terdampak akan kehilangan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Asset-asset pribadi maupun umum yang rusak akibat bencana akan menghalangi produktivitas mereka dalam melakukan berbagai hal, misalnya dari segi ekonomi. 0leh sebab itu, mereka pun dapat dikategorikan sebagai ashnaf fakir dan berhak untuk mendapatkan zakat.

Selain dapat diberikan uang zakat, para masyarakat terdampak bencana juga bisa diberikan bantuan dari uang infaq dan sedekah yang ada di Baznas. Direktur Pusat Kajian Strategis Baznas (Puskas Baznas) Irfan Syauqi Beik, menjelaskan mengenai perhitungan kerugian infrastruktur dan pemetaan potensi kerugian terbesar pada sektor ekonomi di wilayah terdampak yang dialami oleh Palu-Donggala. Untuk Kota Palu, estimasi kerugian infrastruktur senilai Rp23,9T.

Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu industri (48 persen di Kecamatan Mantikulore), peternakan (39 persen di Kecamatan Palu Utara) dan Hortikultura (40 peraendi Kecamatan Tawaeli). Potensi infrastruktur kesehatan terdampak paling besar di Kecamatan Mantikulore (23 persen) dan infrastruktur pendidikan di Kecamatan Palu Timur (19 persen).Untuk Kabupaten Donggala estimasi kerugian infrastruktur senilai Rp 773,2 M.

Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu perkebunan (38 persen di Kecamatan Sindue Tambusabora), peternakan (23 persen di Kecamatan Dampelas), hortikultura buah-buahan (32 peraen di Kecamatan Sindue Tobata) dan Hortikultura sayur-sayuran (30 persen di Kecamatan Tanantovea).

Potensi infrastruktur kesehatan dan infrastruktur pendidikan terbesar di Kecamatqan Banawa Selatan (12 persen). Dengan adanya analisis dampak ekonomi bencana ini maka diharapkan hal tersebut akan memberikan panduan bagi Baznas untuk mendesain program intervensi dalam rangka pemulihan perekonomian lokal, baik di Palu-Donggala maupun di Lombok.

Editor : Yon Parjiyono