logo

LIPI : Perlu Tiga Komponen Penting Untuk Mengembangkan Teknologi Biorefineri

LIPI : Perlu Tiga Komponen Penting Untuk Mengembangkan Teknologi Biorefineri

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati. (foto,ones)
10 Oktober 2018 19:19 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BOGOR: Pengembangan teknologi biorefineri untuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya. Perlu perhatian pada tiga komponen penting.

Demikian dikemukakan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati pada acara 5th International Symposium on Innovative Bioproduction Indonesia (ISIBio 2018) di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Rabu, (10/10/2018).

Dijelaskannya, yang pertama perlu pengembangan teknologi pretreatment biomasa untuk menghilangkan bagian yang tidak diperlukan. Hal kedua, lanjutnya, diperlukan pengembangan teknologi produksi enzim sebagai komponen katalisator (biokatalis).

Sejauh ini, ujarnya, enzim yang diperlukan masih merupakan produk impor. "Sehingga berpengaruh di biaya produksi,” kata dia. Sedangkan, komponen ketiga adalah teknologi fermentasi dan reaksi terpadu

Dikemukakannya, jika komponen tadi dapat dipadukan dengan komposisi sumberdaya lokal. Maka proses produksi akan berjalan lebih efisien sehingga menurunkan biaya produksi.

Menurut Enny, produksi energi alternatif bisa berbiaya murah dan terjangkau, terlebih lagi saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan B20 yang mendukung sektor energi alternatif.

Di bagian lain, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sekaligus Manajer Proyek Biorefineri, Yopi menjelaskan, untuk mewujudkan produksi energi alternatif dari biomasa yang lebih murah dan efisien, peneliti LIPI telah bekerja sama. Kerja sama itu, dalam konsorsium melaksanakan riset biorefineri terpadu.

“Konsorsium ini terdiri dari LIPI yakni Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Biomaterial, dan Pusat Penelitian Kimia dengan dukungan dari program JST-JICA SATREPS Project,” tutur dia.

Saat ini, salah satu fokus riset yang sedang dikerjakan adalah pengembangan biorefineri terpadu, dengan dasar pemanfaatan biomasa dari industri kelapa sawit dan tebu. Keduanya untuk produksi bioethanol dan bioplastik dengan menggunakan mikroba lokal.

Yopi mengungkapkan, melalui hasil riset terpadu konsorsium ini Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI mendapatkan sertifikat sebagai Pusat Unggulan Iptek Biorefineri Terpadu dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. “Kami berharap teknologi biorefineri terus dikembangkan melalui jalinan kerja sama riset yang lebih luas," ujarnya.

Diharapkan, kerja sama tersebut dapat ditingkatkan dan berbagi pengetahuan terkait bidang bioproses biorefineri antara sesama peneliti Indonesia maupun peneliti luar negeri serta sektor industri. 

Saat ini, penelitian pemanfaatan Biomassaa non-pati sudah cukup banyak dikembangkan para peneliti Indonesia. Sayangnya, pengembangan penelitian tadi masih belum menyeluruh, sehingga penerapannya belum optimal.

Editor : Gungde Ariwangsa SH