logo

Menjual Sport Tourism

Menjual Sport Tourism

08 Oktober 2018 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

World Tourism Day (WTD) 2018 atau Hari Pariwisata Dunia yang diperingati setiap 27 September untuk tahun ini temanya adalah ‘Tourism and The Digital Transformation’. Jika dicermati tema ini tidak bisa terlepas dari tuntutan transformasi dalam keperilakuan di semua aspak, terutama akibat dukungan era digital melalui ketersediaan akses internet yang semakin mudah dan murah. Jadi problem kepariwisataan ke depan seharusnya juga mengacu fakta terjadinya sejumlah perubahan, termasuk juga model layanan online dan peluang memasarkan kepariwisataan melalui jejaring medsos. Pertanyaannya bagaimana mengemas dan menjual kepariwisataan?

Tidak bisa dipungkiri bahwa kepariwisataan bersifat kompleks dan salah satunya yang kali ini trend adalah sport tourism. Sukses penyelengaraan Asian Games kemarin juga menjadi tantangan untuk mengemas dan menjual sport tourism lainnya dan sebentar lagi akan ada Asian Para Games yang juga diharapkan mendulang kepariwasataan nasional. Terlepas dari trend sport tourism yang semakin meningkat Indonesia memiliki sejumlah potensi besar dari sport tourism misal Tour de Flores, Tour de Ijen, Tour de Singkarak dan lainnya. Sejumlah daerah berbasis wisata sejarah budaya memiliki potensi alamnya menjadi daerah potensial untuk menjual sport tourism, termasuk misalnya Jawa Tengah mempunyai Borobudur yang kemudian dijadikan ikon Borobudur Marathon 2018 besok 18 Nopember 2018.

Potensi

Relevan dengan potensi dan trend sport tourism, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menegaskan sport tourism efektif untuk promosi wisata di berbagai daerah. Argumen yang mendasari karena sport tourism terkait dengan media value dan media branding yang sangat tinggi, terutama liputan media yang sangat luas dan implikasinya adalah memacu daya tarik kunjungan, termasuk juga kunjungan ulang. Persepsian yang muncul menegaskan bahwa media value dari sport tourism lebih dua kali lipat dibanding dengan direct impact wisatawan yang telah berkunjung ke daerah tujuan wisata. Artinya, word-of-mouth dari wisatawan yang puas lebih kecil pengaruhnya dibandingkan liputan media dari sport tourism. Bahkan, branding media-nya juga sangat efektif, terutama dalam liputan yaitu sebelum, pada hari H dan setelah kegiatan. Beralasan jika korporasi juga antusias mendukung semua bentuk program sport tourism.

Fakta menarik dari potensi jual sport tourism maka beralasan jika ajang Moto GP, FI dan World Cup menjadi incaran sponsor dan semua negara berlomba untuk bisa menjadi tuan rumah pelaksananya. Ilustrasi yang disampaikan Menteri Pariwisata jika Moto GP dilaksanakan di Indonesia kelak yaitu prospek keuntungan minimum Rp.2 triliun dengan modal Rp.130 miliar untuk pembangunan sarana -prasarana, akan mengundang 100.000 wisatawan, implikasi nilai ekonominya sekitar Rp.1 triliun dan media value-nya sekitar Rp.2 triliun. Sayangnya, pemerintah belum antuasis terhadap hal ini karena fokus dari pemerintahan Jokowi – JK masih di bidang infrastruktur, sementara dalam waktu dekat akan ada pileg dan pilpres 2019 yang menyita energi.

Argumen lain yang mendukung urgensi sport tourism adalah peluang menjadi trending topic di medsos dan mendunia. Betapa tidak, antusiasme publik terhadap liputan dunia terkait sport tourism tidak diragukan lagi sehingga beralasan jika tarung tinju dunia yang melibatkan dua petarung besar dengan kemasan promosi yang mendunia akan mampu mendatangkan ratusan juta dollar, baik melalui siaran langsung, pay per view, sponsor dan juga berbagai mesrchandise lainnya. Jadi, logis jika ajang World Cup dan Olimpiade menjadi rebutan untuk menjadi tuan rumah karena pasar dari olah raga sangat luas biasa dan tentu ini menjadi pasar yang menjanjikan bagi daya tarik wisata dalam konteks niat kunjungan dan juga kunjungan ulang.

Promosi yang besar melalui liputan media era global adalah potensi terbesar bagi sport tourism saat ini dan potensi untuk menjadi trending topic adalah kekuatan lain sehingga sport tourism menjadi salah satu nilai jual bagi daerah tujuan wisata. Jadi beralasan jika Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah khususnya berkepentingan mensukseskan Borobudur Marathon 2018 dan menjadikan sebagai agenda tetap. Artinya, semua pihak harus bersinergi dan mendukung Borobudur Marathon 2018 demi menarik kunjungan wisatawan dan juga kunjungan ulang. Fakta yang mendukung sport tourism adalah argumen Gammon dan Robinson (2003) bahwa sport tourism dibedakan menjadi dua yaitu hard sport tourism yang biasanya berskala global misal Olimpiade-World Cup dan yang kedua soft sport tourism yang cenderung berskala kecil menengah dan basisnya adalah life skill.

Penting

Keyakinan terhadap nilai jual sport tourism telah menjadi salah satu isu riset menarik. Paling tidak, ini terlihat dari riset Gibson (1998) di artikelnya berjudul “Sport Tourism: A Critical Analysis of Research” dan analisis Gibson (2006) dalam artikelnya berjudul: “Sport Tourism: Concepts and Theories. An Introduction”. Oleh karena itu, setting yang bisa dijual dalam sport tourism bisa beragam, termasuk setting berbasis wisata sejarah budaya seperti yang dilaksanakan Borobudur Marathon 2018. Daya jual sport tourism maka beralasan jika agenda hard dan soft sport tourism membutukan strategi pemasaran yang cermat dan hal ini sesuai riset dari Harrison-Hill dan Chalip (2006) yang artikelnya berjudul: “Marketing Sport Tourism: Creating Synergy between Sport and Destination”. Dari sinergi tersebut maka beralasan jika trend sport tourism cenderung meningkat dan hal ini tidak terlepas dari life style yang memadukan antara sport, tourism dan leisure. Semua daerah tujuan wisata di Indonesia mempunyai potensi besar untuk memadukan sport, tourism dan leisure.

Potensi sport tourism maka Borobudur Marathon 2018 menjadi peluang menjual daerah tujuan wisata di Jawa Tengah dan di Indonesia umumnya, apalagi dikaitkan komitmen menjadikan pariwisata sebagai core business dan leading sector untuk mendulang devisa terbesar kedua setelah CPO di tahun 2019. Beralasan jika banyak negara berlomba mempromosikan pariwisatanya. Indonesia tidak terlepas dari tuntutan mempromosikan potensi wisata. Data tahun 2016 kontribusi sektor ini US$ 11,3 miliar dan target tahun ini naik 25 persen sehingga investasi di sektor pariwisata harus dipacu. Artinya, target kunjungan 17 juta wisman di tahun 2018 harus dilakukan dengan berbagai cara termasuk misal dengan 3 prioritas yaitu digital tourism (Indonesia Tourism Exchange), homestay dan konektivitas udara. Semua daerah berpotensi untuk menjual sport tourism tinggal bagaimana mengemas dan memasarkannya. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo,