logo

Polda Bali Ancam Penjahat Jalanan: Berhenti Atau Tembak Ditempat?

Polda Bali Ancam Penjahat Jalanan:  Berhenti Atau Tembak Ditempat?

Penangkapan penjahat jalanan oleh Polda Bali
14 September 2018 22:02 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - DENPASAR : Polda Bali mengancam para penjahat jalanan untuk menghentikan kegiatannya atau terpaksa dilumpuhkan (tembak ditempat). Dikarenakan ulah mereka sudah sangat meresahkan, khususnya terhadap wisatawan asing. 

"Saya beri dua pilihan, berhenti melakukan kejahatan atau dilumpuhkan. Dilumpuhkan dalam artian tembak ditempat atau tindakan tegas lainnya," kata  Direktur Reserse  Kriminal Umum Polda Bali Kombes Pol Andi Fairan dalam konferensi pers Operasi Cipta Kondisi (OCK) di Mapolda, Jumat (14/9/2018). 

OCK dilangsungkan untuk menyambut Pertemuan IMF dan World Bank 2018, yang kurang  23 hari lagi,. Even internasional ini  untuk menjamin Bali aman, mengingat Bali bakal kedatangan 15 ribu delegasi dari 189 negara. 

Pada OCK yang digelar sejak 6 Juli 2018, polda dan polres polres menangkap 172 tersangka . Satgas gas sendiri bekerja selama 116 hari, artinya masih ada waktu sampai sekitar satu bulan ke depan.

"Kita lakukan cipta kondisi dengan membentuk kegiatan kepolisian yang ditingkatkan, karena tidak menutup kemungkinan tamu kita menjadi korban kejahatan jalanan," kata Fairan . .

Pihak Polda, lanjut Fairan, mempunyai beberapa satgas preventif. Pertama, satuan kerja (Satker) Intelijen yang akan melakukan tindakan intelijen terhadap tempat dan jaringan yang diduga menjadi tempat berlangsung kejahatan jalanan.

Kemudian ada Satker Preventif yang akan melakukan patroli, penjagaan di tempat-tempat yang sudah ditargetkan. Terakhir, satker Tindak yang menindak segala macam kejahatan jalanan.

"Satgas melakukan tindakan tegas dan terukur dengan memiliki aspek legalitas dan legitimasi dari masyarakat. Sehingga bisa dilihat sendiri, ada 33 pelaku yang kami lumpuhkan jika dia melakukan perlawanan, bahkan lebih tegas lagi," lanjutnya.

Andi juga mengklaim, selama operasi ini digelar, jumlah warga negara asing yang melapor karena menjadi korbankejahatan jalanan menurun . Kasus copet, jambret dan begal pun jumlahnya ikut menurun.

Namun, kasus pemerasan dan pungli (pungutan liat) di PKL (pedagang kaki lima), tempat hiburan malam, pasar seni dan kuliner masih ada. Oleh karena itu, kata Fairan, penangkapan pelaku pemerasan dan pungli terhadap masyarakat kecil akan digencarkan.