logo

KPK Pastikan Terus Lanjutkan Pengusutan Kasus Century

KPK Pastikan Terus Lanjutkan Pengusutan Kasus Century

Jubir KPK Febri Diansyah
14 September 2018 19:17 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penyidikan kasus dugaan korupsi  pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century tidak akan berhenti pada terpidana-terpidana yang kini tengah menjalani hukuman atau telah usai menjalani penjara. Komisi antirasuah itu terus mengusut kasus itu termasuk kemungkinan tersangka lain.

"Penanganan kasus Century masih terus kami lakukan, namun karena belum proses penyidikan tentu belum dapat diungkap," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Febri mengatakan, pihak lembaga antirasuah sudah melakukan gelar perkara yang melibatkan pimpinan, penyelidik, penyidik serta jaksa penuntut umum. Dari hasil gelar perkara tersebut diputuskan penangangan kasus Century tetap akan dilakukan sepanjang kecukupan alat bukti. "KPK juga harus memastikan tetap berjalan di koridor hukum dan tidak terpengaruh tarik menarik kepentingan politik," kata Febri.

Dalam putusan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa Budi Mulya, hakim menyebut Budi Mulya melakukan korupsi Bank Century secara bersama-sama dengan Boediono selaku Gubernur BI, Miranda S Goeltom selaku Deputi Gubernur Senior BI, Siti Chalimah Fadjrijah selaku Deputi Gubernur Bidang 6 Pengawasan Bank Umum dan Bank Syariah,

Kemudian Budi Rochadi selaku Deputi Gubernur Bidang 7 Sistem Pembayaran, Pengedaran Uang, BPR dan Perkreditan, Muliaman D Hadad selaku Deputi Gubenur Bidang 5 Kebijakan Perbankan/Stabilitas Sistem Keuangan. Berikutnya Hartadi Agus Sarwono selaku Deputi Gubernur Bidang 3 Kebijakan Moneter, dan Ardhayadi Mitroatmodjo selaku Deputi Gubernur Bidang 8 Logistik, Keuangan, Penyelesaian Aset, Sekretariat dan KBI. Selain itu, ada nama Hermanus Hasan, dan Raden Pardede selaku Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Menyinggung disebut-sebutnya nama mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di media Asia Sentinel, Febri tidak bersedia mengomentarinya. Namun mantan anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Century, Misbakhun membenarkan data-data dalam artikel yang dimuat di media Asia Sentinel. "Sebagian selaras dengan data BPK dan temuan Pansus. Sebagian data baru karena Pansus sudah selesai bekerjanya," kata Misbakhun.

Artikel tersebut berisi dugaan keterlibatan Ketua Umum Demokrat, SBY dalam skandal pencurian uang pembayar pajak sebesar 12 miliar dolar Amerika dan mencucinya ke bank-bank internasional.  Keterlibatan SBY tersebut, dalam artikel yang ditulis John Berthelsen itu, terindikasi dari skandal Bank Century. Disebutkan, "Pendirian dan bangkrutnya PT Bank Century TBK diduga menjadi pusaran sebagian besar kasus yang dimuat dalam laporan tersebut. Pailit pada 2008, Bank Century akrab dikenal sebagai "bank-nya SBY" karena diyakini menyimpan dana gelap yang terkait dengan Partai Demokrat."

"Sejak awal dugaan demikian dan ada hasil audit BPK nya," kata Misbakhun. Namun, saat disinggung soal nihilnya nama Sri Mulyani, padahal Pansus sempat menduga keterlibatannya dalam kasus ini, Misbakhun enggan berkomentar.
 

Anggota Pansus Angket Century lainnya, Maruarar Sirait juga membenarkan data-data dalam artikel Berthelsen. "Itulah makanya saya dulu bilang kasus ini harus dituntaskan. Tidak boleh berhenti. Agar tidak sekadar keluar menjelang tahun politik," kata Maruarar. Dia mendorong agar pengusutan skandal Century dilanjutkan meskipun harus menyeret sejumlah nama besar, terlebih dengan temuan-temuan bukti baru yang disampaikan Berthelsen dalam artikelnya.

"Hukum tidak boleh tumpul ke atas kan. Jadi ya harus diusut sampai tuntas," kata Maruarar. Selain SBY, artikel Berthelsen juga menyebut keterlibatan mantan Wakil Presiden mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono.

Wakil Ketua Umum Demokrat, Syarif Hasan membantah keterlibatan SBY dan dugaan aliran dana ke Demokrat.  "Itu berita sampah saja di tahun politik," katanya.

.Sementara itu, menurut Sekjen PPP Arsul Sani penyidikan kasus ball out Bank Century belum ditutup KPK. Dia pun menyerahkan penyidikan kasus tersebut kepada KPK terlebih setelah media asing asal Hong Kong Asian Sentinel menuliskan dugaan adanya tindak pencucian uang oleh Presiden ke-6 RI SBY  terkait dana talangan Bank Century. "Saya kira kasus itu kan memang belum ditutup KPK. Jadi itu biar menjadi ranahnya KPK sajalah. Apakah itu memberikan, katakanlah itu informasi baru atau alat bukti baru," kata Arsul di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf ini menilai pemberitaan Asian Sentinel dugaan keterlibatan SBY dalam kasus Century itu tak terkait pelaksanaan Pemilu. Dia menyebut tidak akan bagus kalau kasus ini digunakan untuk Pilpres. "Enggak bagus juga kalau menggunakan kasus itu untuk Pilpres, apalagi itu adalah kasus yang sudah ada penegakan hukumnya," ujarnya.

Editor : Gungde Ariwangsa SH