logo

Lewat Uji Kinesiologi, Kementan Jadikan Pangan Lokal Penguat Stamina Tubuh

Lewat Uji Kinesiologi, Kementan Jadikan Pangan Lokal Penguat Stamina Tubuh

Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi (kiri) dalam sosialisasi khasiat tanaman pangam lokal bagi stamina tubuh di Bali. (Dok. Kementan)
14 September 2018 19:04 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Setelah sukses diuji coba kepada beberapa wisatawan di kompleks Candi Borobudur, Kementerian Pertanian (Kementan) kembali melakukan praktik dan uji manfaat pangan lokal bagi stamina tubuh. Acara ini diinisiasi Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi bertempat di Pelataran Gunung  Batur, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Jumat (14/9/2018).

“Praktik dan uji manfaat pangan lokal ini merupakan salah satu upaya  mendorong pangan lokal sebagai sumber energi bermanfaat bagi stamina tubuh wisatawan yang mendaki Gunung Batur atau naik ratusan tangga ke pura. Badan menjadi enteng dan tidak akan lelah,” ujar Suwandi melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Menurut Suwandi, kegiatan ini sebagai ajang promosi memperkenalkan dan menyebarluaskan warisan nenek moyang berupa pangan lokal yang bermanfaat langsung bagi stamina tubuh. Tentunya sejalan dengan misi Kementan untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045. Dari sini lah, Kementan tengah fokus pada peningkatan produksi serta mengoptimalkan penggunaan pangan lokal melalui atraksi, promosi dan sosialisasi.

“Pangan lokal Indonesia dipercaya memiliki keunggulan dan manfaat lebih baik dibandingkan pangan impor. Hal ini dikarenakan pangan lokal dibudidayakan dengan benih lokal yang bagus, ditanam di wilayah bentang khatulistiwa yang kaya akan sinar matahari dan ditanam petani yang beragam antarwilayah dan budaya yang dilakukan secara harmoni,” ujarnya.

“Menerapkan prinsip harmoni dengan alam dan sesama manusia inilah yang paling menentukan dan membedakan hasil  pangan lokal dengan pangan negara lain,” kata Suwandi.

Harmoni dengan alam ini harus terus dijaga dan dilestarikan seperti halnya hasil komoditas pertanian Indonesia yaitu kopi, kedelai, kentang dan lainnya yang terbukti berdampak pada stamina peserta sosialisasi. Dengan konsep harmoni inilah membuat tubuh nyaman dengan mengkonsumsi pangan lokal.

Suwandi pun menekankan potensi pangan lokal yang luar biasa, dan menyampaikan harapan kepada peserta sosialisasi untuk selanjutnya menjadi pelatih bagi petani, tour guide dan dapat mensosialisasikan manfaat pangan Indonesia kepada para wisatawan asing yang berkunjung ke Bangli dan Bali.

“Ke depan, Bali akan menjadi tuan rumah festival kopi internasional, karena itu teknik kinesiologi ini dapat menjadi salah satu promosi produk pertanian Indonesia di forum tersebut,” tuturnya.

Pada kesempatan ini pula, Bupati Bangli, Made Gianyar berkesempatan turut serta berpartisipasi memberikan sambutan dalam acara yang disemarakkan berbagai instansi yang terdiri dari Dinas Pertanian Kabupaten lingkup Provinsi Bali, Dinas Pariwisata, KTNA, Asosiasi Hortikultura, Petani dan Lokal Guide. Dia mendukung penuh acara ini dan selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan melatih para pemandu wisata untuk terampil memperagakan pangan lokal yang bermanfaat bagi stamina tubuh wisatawan.

“Kami juga mengajak  generasi muda untuk  bertani modern dan mampu menyajikan pangan lokal secara baik. Juga pemuda di Bangli yang berada di luar daerah agar memromosikan pangan lokal yang unggul,” ucapnya.

Dr. Hanson, ahli kinesiologi  menjelaskan 5 teknik untuk meningkatkan kualitas stamina tubuh. Teknik tersebut adalah teknik bernapas seperti bayi, memperbaiki posisi tubuh baik saat berdiri, duduk dan berjalan (tubuh harus tegak), senyum, ikhlas dan bersyukur, bahagia dengan memberi. 

Hanson juga memraktikkan teknik kinesiologi untuk melihat kemampuan tubuh melalui respon otot. Juga diperlihatkan bagaimana tubuh mampu memilih makanan yang cocok dan baik bagi tubuh.

“Hal ini dicontohkan peserta diminta menerapkan teknik tadi, dan dilihat bagaimana respon tubuhnya. Uniknya, pada saat melakukan uji kinesiologi  menggunakan sumber pangan lokal seperti kopi, kedelai dan lainnya, respon uji kinesiologi, otot menjadi menguat saat peserta mencium aroma kopi dan kedelai lokal," ujarnya.

Uji kinesiologi ini digunakan praktisi kesehatan dan merupakan hal ideal bagi kesehatan tubuh melalui tes otot.

Komang Sukarsana, pelaku usaha di Kintamani yang mengikuti praktik kinesionolgi mengatakan praktik menggunakan pangan lokal ini benar-benar hebat dan kayak magic saja, ternyata betul pangan lokal berdampak ke tubuh langsung kuat. Bahkan saat selfie pun terbukti aura wajah menjadi kuat.

“Ini mencium aromanya saja langsung direspon otot tubuh kuat. Apalagi setelah mengonsumsi, otot lebih kuat lagi. Ini pasti akan laris manis diminati wisman yang akan mendaki Gunung Batur dan naik ratusan tangga ke pura,” ungkapnya. ***