logo

Siapa Kita? In-Do-Ne-Sia

Siapa Kita? In-Do-Ne-Sia

12 September 2018 14:30 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro SE, MSi

Peringatan Haornas 2018 bertema ‘Ayo Olahraga Bangun Indonesia’ memang dirasa istimewa karena tidak saja Indonesia telah berhasil menyelenggarakan Asian Games dengan prestasi di urutan ke-4 tetapi juga pada Oktober nanti Indonesia menjadi tuan rumah Asian Para Games 2018. Oleh karena itu, Haornas kali ini diharapkan menjadi momentum memacu prestasi di bidang olah raga dan sekaligus meredam gejolak politik.

Asian Games ke-18 telah resmi di tutup dan Indonesia mendapatkan sukses ganda yaitu selain sukses dalam perhelatan melalui pembukaan dan penutupan yang spektakuler, juga sukses mendulang prestasi melalui capaian medali di sejumlah cabor sehingga ada di peringkat 4. Prestasi 5 Asian Games sebelumnya yaitu di Bangkok 1998 di urutan ke-11, Busan 2002 peringkat 14, Doha 2006 peringkat ke-22, Guangzhou 2010 peringkat ke-15 dan di Incheon 2014 di peringkat ke-18.
Fakta lain yang menarik yaitu pencairan bonus bagi atlet peraih medali pada waktu yang sangat cepat dan ini fenomena berbeda. Sukses Asian Games juga menjadi faktor dipilihnya Erick Tohir menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional duet Jokowi – Ma’ruf Amin untuk pilpres 2019.

Prestasi Asian Games dan sukses pelaksanaannya menegaskan bahwa tahun politik ini ternyata tidak menyurutkan kemampuan untuk menggelar hajatan berskala internasional sehingga menegaskan bahwa iklim sospol dalam negeri cenderung kondusif. Padahal, di tahun politik Indonesia akan mempunyai sejumlah agenda bertaraf internasional yang lain misal pada 6-13 Oktober ada annual meeting IMF-World Bank di Bali. Oleh karena itu, iklim sospol yang kondusif harus terus dijaga sampai pasca pilpres 2019.

Selain itu, Asian Games ternyata juga bisa meredam ketegangan politik, terutama ketika di cabor pencak silat Hanifan menang dan merangkul Jokowi – Prabowo di venue. Peristiwa ini seolah menggambarkan betapa riak konflik berbalut hastag 2019 ganti Presiden atau 2 periode di arus bawah ternyata berbeda dengan elite yang ada di level atas. Oleh karena itu, beralasan jika momentum Haornas kali ini untuk memacu prestasi olahraga.

Menjaga

Tidak bisa dipungkiri sukses prestasi yang diraih pada Asian Games tidak terlepas dari masuknya pencak silat sebagai cabor yang dipertandingkan. Artinya, cabor pencak silat yang mendulang banyak emas menjadi cabor andalan meski pada Asian Games ke-19 di Hangzhou 2022 belum pasti akan dipertandingkan. Artinya ini adalah keuntungan bagi Indonesia sebagai tuan rumah yang kemudian mendulang 14 emas.

Terlepas itu pastinya ada yang berbeda jika melihat pertandingan yang melibatkan atlet dari Indonesia. Selain bonus peraih medali, kehadiran Presiden Jokowi dan petinggi republik ini di sejumlah arena seolah memberi gambaran ada kepedulian terhadap atlet di arena yang bertanding. Tentu ini menjadi spirit untuk memenangkan pertandingan, apalagi penyematan medali juga dilakukan beberapa diantaranya oleh Presiden Jokowi. Jadi, beralasan jika atlet all out bertanding untuk menang sehingga pembukaan manis ditorehkan dengan perak dan di akhir pertandingan disudahi emas dari cabor sepak takraw.

Sukses perhelatan Asian Games tentu tidak bisa mengabaikan ketersediaan dana yang menelan anggaran Rp.7 triliun dengan komposisi dari pemerintah Rp.5 triliun dan sisa lainnya didukung 47 sponsor senilai Rp.1,6 triliun. Apakah balik modal? Terlepas dari kalkulasi balik modal, pastinya, Asian Games melibatkan banyak aspek, misalnya atlet yang terlibat mencapai 10.000 orang dan official dari 45 negara, peliputan 5.000 media dan sekitar 2.500 tim Dewan Olimpiade Asia, 5.500 delegasi teknik, 20.000 relawan, 200.000 suporter dan 3 juta penonton lokal. Jumlah itu tidak terlepas dari keperilakuan belanja sehingga menjadi stimulus bagi sektor ekonomi bisnis.

Kalkulasi lain yang juga menarik dicermati adalah dampak Asian Games, misalnya ekonomi di Jakarta mencapai Rp.22 triliun dan di Sumatera Selatan Rp.18,5 triliun, investasi konstruksi di Jakarta Rp.13,7 triliun dan di Sumatera Selatan Rp.15,4 triliun, operasional penyelenggaraan di Jakarta Rp.5,8 triliun dan di Sumatera Selatan Rp.21, triliun, belanja pengunjung di Jakarta Rp.2,6 triliun dan di Sumatera Selatan Rp.968 miliar.

Kontinyu
 
Pendapatan tiket juga tidak bisa diabaikan karena dari 2 juta tiket yang dijual dengan variasi termurah Rp.50.000 dan termahal Rp.600.000 maka kisaran pendapatan bisa mencapai Rp.100 miliar – Rp.1,2 triliun, belum termasuk tiket pembukaan yang tarifnya dikisaran Rp.750.000 - Rp.7,5 juta untuk 44.000 tiket, begitu juga tiket untuk penutupan seharga Rp.450.000 - Rp.2 juta untuk sekitar 75.000 tiket. Kumulatif perolehan tiket di penutupan juga cukup besar.

Di bidang penerbangan juga terjadi penambahan sebanyak 4.510 kursi dari tambahan 26 penerbangan, sementara tingkat hunian hotel yang ada di sekitar arena mencapai 100 persen bahkan terjadi over booking. Fakta ini memberikan gambaran sport tourism bisa diandalkan untuk memacu penerimaan sehingga beralasan jika Presiden Jokowi bertekad Indonesia optimis menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Asian Games 2018 memang luar biasa memberikan magnet untuk menyatukan bangsa ditengah riak konflik di tahun politik. Setidaknya pernyataan siapa kita? Indonesia kini telah menjadi spirit untuk bangkit melalui bidang olah raga dan ini selaras dengan tema Haornas kali ini. Betapa tidak, persepsian pahlawan di jaman now tidak lagi memanggul senjata tapi juga bisa direalisasikan lewat berbagai cabor untuk bisa mendulang medali. Antuasisme atlet bertanding untuk bisa menang tentu selain apresiasi terhadap prestasi dirinya sendiri, juga tidak terlepas dari janji bonus.

Pemerintah memang mengapresiasi dan bonus sebesar Rp.210 miliar telah cair, belum bonus yang diberikan perorangan dan juga pemda dari daerah asal masing-masing atlet, termasuk janji bonus menjadi PNS tanpa tes. Itu semua menjanjikan bagi atlet dan sudah sepantasnya jika kesejahteraan atlet juga diperhatikan negara karena telah mengharumkan bangsa. Artinya, tantangan prestasi ke depan semakin dituntut untuk bertarung di level yang lebih tinggi dan janji bonus yang lebih besar. Prestasi itu semua juga didukung oleh spirit siapa kita? IN-DO-NE-SIA dan Haornas kali ini menjadi momentum memacu prestasi olahraga nasional. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo