logo

Jika Mangkir Lagi, JPU Minta Hakim Keluarkan Surat Penahanan Meliani Rahmawati Terkait Kasus Pemalsuan Akte

Jika Mangkir Lagi, JPU Minta Hakim Keluarkan Surat Penahanan Meliani Rahmawati Terkait Kasus Pemalsuan Akte

Caption foto: Suasana sidang putusan perkara tindak pidana pemalsuan akte dengan terdakwa Notaris Raden Meliani Rahmawati SH, di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin (3/9/2018).
04 September 2018 22:40 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sidang putusan perkara tindak pidana pemalsuan akte dengan terdakwa Notaris Raden Meliani Rahmawati SH, di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin (3/9/2018) terpaksa kembali ditunda. Seperti sidang sebelumnya, penundaan putusan kali ini juga dengan alasan yang sama, yaitu karena Terdakwa dinyatakan sakit sehingga berhalangan hadir. 

Uniknya, ketidakhadiran terdakwa dengan alasan yang sama ini menjadi alasan yang ke tujuh kalinya. Mungkin hal ini yang ya membuat majelis hakim yang di ketuai oleh Elly Noeryasmien, SHsedikit terusik dan mengajukan pertanyaan.“Kemana terdakwanya?” tanya Elly Noeryasmin, Ketua Majelis Hakim, saat persidangan dibuka.

Mendapat pertanyaan Hakim, dua kuasa hukum terdakwa pun berdiri dan menjawab.  “Terdakwa tak bisa hadir karena sedang sakit dan sudah dirawat sejak 30 Agustus di RS Harapan Kita yang Mulia,” jawab Kuasa Hukum terdakwasambil menyerahkan selembar surat keterangan sakit kepada Ketua Majelis Hakim.

Selaku Hakim Ketua Elly Noryasmien, SH pun mengingatkan jika sidang putusan ini sudah beberapa kali ditunda dan dia tak mau adamuncul pertanyaan mengapa pengadilan selalu menunda.

“Kita ini sudah beberapa kal disuratin karena selalu menunda sidang. Pertanyaannya kenapa majelis Menunda-nunda. Ada apa?” kata majelis hakim.

Hakim Ketua juga mempertanyakan perihal surat keterangan sakit yang diberikan kuasa hukumterdakwa, karena diragukan keabsahanyasehingga majelis hakim mengingatkan pada pengacara terdakwa untuk tidak mengulangi lagi alasan seperti ini.

“Ini kenapa ditempel tempel begini? Seharusnya suratnya itu dalam bentuk rekam medis.  Bukan ditempel seperti ini. Alasan kemanusian memang diatur. Tapi ini untuk terakhir kalinya,” tegasnya, sambil merujuk surat dari RS Jantung Harapan Kita dihadapan peserta sidang.

Protes juga datang dari Jaksa Penuntut Umum(JPU) Imelda terkait surat keterangan sakit yang diberikan pengacara terdakwa ke Majelis Hakim. Ia mengendus ada yang janggal dengan surat keterangan itu.

“Seharusnya dalam bentuk akurat seperti rekam medis. Ini kenapa surat begini dan di situ tidak ada keterangan sakit apa? Kalau masih begini lagi, Saya minta Majelis hakim pada sidang selanjutnya untuk dikeluarkan surat Keputusan penahanan untuk terdakwa,” tegas JPU, Imelda, saat persidangan.

Terkait janggalnya surat keterangan sakit yang diberikan pihak Terdakwa, redaksipun mencoba klarifikasi kebenaaranya langsung pada pihak RS. Jantung Harapan Kita, Jakarta. Saat itu juga diperoleh keterangan resmi dari bagian informasi dan kepala perawat yang menangani pasien R. Meliani Rahmawati. Ia membenarkan Pasien bernama Meliani Rahmawati di rawat di ruang 8305, namun pasian sudah pulang sejak pukul 17:00 WIB.

 “Oh pasien ibu-ibu itu. Iya benar dia baru saja pulang. Baruuuu saja. Saya yang merawat,’’ ujar perawat yang mengaku mendampingi Dokter Suharman saat menangani pasien bernama Meliani Rahmawati tersebut,  membenarkan. Menurutnya, seperti hasil chek up medias Dr Suharman, dikatakan bahwa keadaan Meliani Rahmawati sangat baik, tidak ada masalah yang mengkawatirkan.

“Tidak ada masalah apa apa kecuali keluhan sesak nafas akibat berat badan lebih. Juga tidak ada tindakan medis dan tidak ada pantangan makan apapun. Makan apa saja boleh, hanya disarankan untuk mengurangi berat badannya. Papar Suster Perawat.

Lebih lanjut Suster Perawat menerangkan kepulangan Meliani Rahmawati karena kondisinya memang baik, sebagaimana disampaikan Dr. Soeharman saat pagi sebelumnya. “Iya, Dokter Suharman kok yang tadi pagi mempersilakan pasien Meliani untuk boleh pulang,’’ terangnya.

Dari fakta pernyataan pihak RS Jantung harapan kita tersebut, kuat dugaan terdakwa sengaja berusaha menghindari sidang putusan  dan menunda-nunda dengan memanfaatkan surat keterangan dokter tanpa catatan atau rekam medis. Perbuatan yang tergolong mepersulit persidangan hingga berlarut ini, bisa menjadi catatan penting bagi JPU dan Majelis hakim dalam memutuskan perkara dengan seadil adilnya dan semakin memberatkan tersangka.

Tanpa kehadiran terdakwa, Majelis Hakim pun  mengakhiri sidang dan mengandekanpembancaan putuskan perkara pidana pemalsuan akta dengan terdakwa R Meliani Rahmawati untuk kembali digelar pada Rabu (5/9/2018) mendatang. Majelis Hakim juga memperingatkan perihal surat dokter sebagai alasan.

“Sidang ditunda hingga Rabu 5 September. Itu terakhir ya. Saya tidak terima surat seperti ini, apalagi ditempel,” ujar Ketua Majelis Hakim Ellysambil mengetuk palu.

Seperti diketahui, sesuai fakta dan sudah terbukti bahwa terdakwa Notaris Meliani Rahmawati, SH. adalah seorang notaris yang merupakan pejabat umum yang diberi wewenang untuk melayani publik dan menyalahgunakan kewenangan tersebut dan terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dan dengan sengaja memalsukan Akta PT Persadatama Lestari Coalmining dan Akta PT Mandiri Alam Sejahtera (sebanyak 2 kali). Masing-masing dilakukan pada 30 Januari 2015 dan 23 Februari 2016 sebagaimana telah diputus oleh Majelis Pengawas Wilayah Notaris Provinsi Banten No.341/Pdt.G/2016/PN.Jkt.Pst. Tanggal 03 April 2017.  

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH