logo

BPS: Kenaikan Harga Gabah Tanda Stok Berkurang

BPS: Kenaikan Harga Gabah Tanda Stok Berkurang

Ilustrasi petani sawah. (Ist)
04 September 2018 01:15 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pihak terkait perlu mewaspadai naiknya harga gabah kering panen di tingkat petani pada Agustus 2018. Suhariyanto menjelaskan naiknya harga gabah kering panen (GKP) menunjukkan stok ataupun panen di daerah mulai berkurang.

Suhariyanto memaparkan bahwa menurut catatan BPS terjadi kenaikan harga gabah di Lampung sebesar 7 persen, Jawa Tengah 8,7 persen, dan Banten 14,09 persen. "Jadi, ini menunjukkan bahwa panen memang berkurang di berbagai daerah produksi," ujar dia.

BPS mencatat rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp4.774 per kilogram pada Agustus 2018 atau naik 3,05 persen dibandingkan bulan lalu.

Sebaliknya, lanjut Suhariyanto, harga beras di penggilingan secara umum menunjukkan penurunan. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan Rp9.172 per kilogram atau turun sebesar 0,28 persen (Agustus 2018 terhadap Juli 2018).

"Kami sebetulnya sudah melacak hal tersebut. Bisa terjadi bahwa ketika di penggilingan itu ada menggunakan stok yang lama. Jadi gabah kering panen tidak langsung masuk saat itu juga ke penggilingan, ada jeda waktu yang berbeda di antara daerah," ujarnya, Senin (3/9/2018), di Jakarta.

Ia berharap harga bahan pangan dapat dijaga agar tidak bergejolak, sehingga laju inflasi dapat tetap terkendali hingga Desember 2018.

"Kita ke depan perlu ekstra hati-hati. Memang di beberapa bulan tertentu ada komoditas yang bergeraknya agak liar, telur ayam kemarin bermasalah di Juni dan Juli tetapi sekarang sudah mengalami penurunan secara umum," kata dia.

Suhariyanto terutama mewaspadai kelompok pengeluaran untuk komponen bahan makanan yang tercatat mengalami inflasi dari tahun ke tahun (Agustus 2018 terhadap Agustus 2017) sebesar 4,90 persen.

Selain itu, inflasi untuk komponen bergejolak (volatile prices) juga perlu diwaspadai karena mengalami inflasi dari tahun ke tahun (Agustus 2018 terhadap Agustus 2017) sebesar 4,97 persen.

"Itu perlu menjadi perhatian supaya kita lebih waspada ke depan untuk menjaga agar harga pangan tidak bergejolak sehingga inflasi tetap terkendali hingga Desember 2018," ujar Suhariyanto. ***

Editor : Laksito Adi Darmono