logo

Asian Games 2018: Tercoreng Masalah Laptop Dan Lensa

Asian Games 2018: Tercoreng Masalah Laptop Dan Lensa

31 Agustus 2018 18:47 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Belum genap dua hari tulisan saya bertajuk: “Asian Games 2018: Titik-titik Noda Yang Menjadi Rahasia” tayang di suarakarya.id (Rabu, 29 Agustus 2018), sebuah titik noda mulai terungkap. Media massa ramai memberikan tentang kejadian pengambilan laptop di Main Press Centre Asian Games XVIII di JCC, Senayan, Jakarta. Beragam judul pemberitaan tentang kejadian itu merujuk keterangan dari  Direktur Media dan Public Relation INASGOC Danny Buldansyah, Jumat (31/8/2018).

“Wartawan Indonesia Curi Laptop Jurnalis Asing di Asian Games 2018”,  “Jurnalis Lokal Curi Laptop Wartawan Asing di Media Center Asian Games”,  “Ternyata Ini Pencuri Barang Jurnalis Asing yang Liput Asian Games 2018”,  “Miris! Wartawan Lokal Curi Laptop Wartawan Asing Peliput Asian Games,”. Begitu beberapa judul berita tentang masalah laptop.

"Yang mencuri ternyata jurnalis media massa Indonesia," ujar Direktur Media dan Public Relation Inasgoc, Danny Buldansyah, Jumat (31/8/2018).

Danny menjelaskan, setidaknya dua peristiwa pencurian barang milik wartawan asing seminggu belakangan, yang dilaporkan ke pihaknya. Pertama laptop yang hilang ketika diletakkan di meja, Senin (27/8/2018). Sementara yang kedua kasus pencurian lensa tele milik fotografer asing, yang hilang saat disimpan di loker, Kamis (30/8/2018) malam.

Peristiwa pencurian itu jelas mencoreng Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian. Sebelumnya Tito merasa bersyukur penyelenggaraan Asian Games 2018 berlangsung lancar tanpa gangguan keamanan apapun, baik di DKI Jakarta maupun di Palembang Sumatera Selatan dan beberapa kota di Jawa Barat. Apalagi korban pencurian itu wartawan asing dari Jepang dan China.

Tercoreng pula Indonesia sebagai tuan rumah yang menjanjikan untuk menjadi penyelanggara yang ramah, nyaman dan aman. Ternoda pula kegemilangan Indonesia dalam mencetak sukses prestasi di ajang Asian Games XVIII. Citra Indonesia terancam karena itu menimpa wartawan dan terjadi di tempat kerja utama para wartawan peliput Asian Games XVIII.

Padahal Jepang yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 menjadi negara terbanyak yang mengirimkan  wartawan di pesta olahraga terakbar Asia kali ini.  Tercatat ada 700 wartawan Negeri Matahari Terbit yang mendaftar ke Panitia Pelaksana Asian Games XVIII (Inasgoc).

Bukan itu saja, jika benar pelakunya wartawan dari media ternama jelas ini juga mencoreng profesi wartawan Indonesia. Baik itu yang bernaung di bawah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Journalis Indonesia (AJI) atau organisasi wartawan lainnya. Dewan Pers juga terpukul karena pelaku disebutkan berasal dari media yang sudah diverifikasi lembaga tersebut.

Dari keterangan tersebut patut dipertanyakan sejauh mana penyeleksian wartawan media cetak, online dan eletronik yang dilakukan oleh Inasgoc. Apakah sudah melibatkan organisasi wartawan yang ada? Apakah dilakukan secara serampangan dengan hanya melihat verifikasi media yang bersangkutan tanpa melihat kompetensi wartawan yang bersangkutan.  

Padahal Dewan Pers bersama PWI, AJI dan lembaga pers lainnya sudah sejak lama melakukan uji kompetensi wartawan (UKW). Dari hasil UKW ini Dewan Pers kemudian mengeluarkan keterangan tentang media yang para wartawannya sudah melalui UKW. Namun hal ini tidak dilihat oleh Inasgoc karena tidak melibatkan PWI, AJI maupun organisasi wartawan lainnya.

Memang bukan jaminan dengan melibatkan organisasi wartawan itu tidak akan terjadi pencurian atau tindakan lainnya yang melenceng dari kode etik profesi wartawan. Pasalnya pembuat kriminal lebih jago dari pencegah atau pun penjaga keamanan. Namun setidaknya, dengan peran serta dari organisasi wartawan itu, akan lebih terseleksi wartawan yang melakukan liputan. Para wartawan itu juga mempunyai tanggungjawab menjaga nama baik organisasinya meskipun seharusnya sudah tertanam untuk menjaga kemulian profesi wartawan tersebut.

Berdasarkan pengalaman meliput multievent olahraga tingkat nasional maupun Asia Tenggara saat Indonesia beberapa kali menjadi tuan rumah, kejadian memalukan seperti saat ini hampir tidak pernah terjadi. Jadi ini menjadi sejarah buruk bagi dunia pers nasional khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Itu mencuat dari “rumah” wartawan Asian Games XVIII pula yang bernama MPC. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Harian Siwo PWI Pusat, HP: 087783358784, e-mail: aagwaa@yahoo.com