logo

Peresmian Rumah St Nicholaus Di Padang Bulan Jayapura Oleh Uskup Dan Wali Kota

Peresmian Rumah St Nicholaus Di Padang Bulan Jayapura Oleh Uskup Dan Wali Kota

30 Agustus 2018 07:24 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - JAYAPURA: Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Seputra bersama Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano meresmikan rumah studi St. Nicholaus di Padang Bulan, Kota Jayapura, Rabu.

Peresmian diawali dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr. Nicholaus Adi Seputra dan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano.

Penandatanganan disaksikan Plt Sekda Kota Jayapura Frans Pekey, Uskup Jayapura, Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Rumah Studi drg. Aloysius Giyai para donatur dari Jakarta dan sejumlah tokoh awam katolik di Papua.

Setelah penandatanganan prasasti dilanjutkan dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Uskup Nicholaus didampingi Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito, dan sejumlah imam konselebran.

Uskup Nicholaus mengatakan sekalipun pembangunan sebagian belum rampung, ia berterima kasih kepada semua pihak, terutama para donatur dan panitia pembangunan dan peresmian yang sudah bekerja keras menyukseskan acara peresmian Rumah Studi ini.

"Dengan dibangunnya Rumah Studi Duta Damai ini, saya berharap benih panggilan imam di seluruh keuskupan di Tanah Papua, khususnya bagi Keuskupan Agung Merauke terus berkembang subur guna pelayanan kepada sesama agar mereka mengalami Kasih Tuhan," kata Uskup Nicholaus.

Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano mengatakan dengan dibangunnya sarana ini menambah satu sejarah baru yg ditorehkan oleh umat Katolik di Kota Jayapura bidang pendidikan dan keagamaan. Ia juga mengapresiasi Keuskupan di Papua yang telah membangun RS Dian Harapan dan RS Provita.

Menurut Benhur, pembangunan aspek pendidikan dan keagamaan lewat Rumah Studi Duta Damai ini sejalan dengan moto pembangunan Kota Jayapura yang telah dirintisnya yaitu "Hen Tecahi Yo Onomi T`mar Ni Hanased/Satu Hati Membangun Kota Untuk Kemuliaan Tuhan.

"Rumah ini istana kita bersama, honai kita bersama. Sebab siapapun yang datang ke sini dari etnis atau agama apapun, dia adalah orang Port Numbay. Karena dia minum air dari Port Numbay dan mengabdi bagi orang Port Numbay," ujarnya.

Benhur menilai rumah ini adalah rumah doa dan tentu akan membawa berkat bagi Tanah Papua.

"Pada kesempatan ini, saya juga berterima kasih kepada Ondofolo Hedam Ayapo yang memberikan tanah ini bagi Keuskupan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Rumah Studi drg. Aloysius Giyai menjelaskan kini 90 persen bangunan sudah rampung dan dapat digunakan. Setiap ruangan pada Rumah Studi ini diberi nama Santo dan Santa Pelindung sebagai penghormatan seturut tradisi Gereja Katolik.

"Karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyapa para Donatur yang jauh-jauh datang dari Jakarta demi menghadiri acara peresmian hari ini. Mereka luar biasa dan bersemangat sebab Gereja Katolik adalah Universal, semua kita peduli terhadap Gereja di mana semua jasa kita pasti dihitung oleh Tuhan yang empunya kehidupan ini," kata Aloysius.

Menurut Aloysius, pembinaan misionaris berpola asrama sudah banyak menghasilkan orang-orang hebat melalui peran serta mereka di tengah-tengah masyarakat.

Ia mengakui telah banyak alumni yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan, sosial ekonomi dan politik bagi masyarakat yang ada di Papua dan bagi dunia.

"Karena itu, kami awam Katolik saat ini harus bekerja keras mendukung panggilan bagi para calon pastor. Sebab di zaman now, tantangan semakin sulit dan kompleks. Benih panggilan makin berkurang. Ini fakta yang menjadi keprihatinan bersama," ujar Aloysius yang kini menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua.

Aloysius juga mengapresiasi kinerja panitia pemberkatan dan persemian Rumah Studi St. Nicholaus yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini.

Terdapat 18 orang panitia, terdiri dari orang muda Katolik, protestan dan Islam yang dilengkapi dengan pastor dan suster.

Lanjut dia, panitia melakukan rapat sebanyak empat kali dan langsung bekerja di lapangan bersama Uskup Keuskupan Agung Merauke dan para pastor dan suster.

"Dunia adalah sebuah buku, mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya membaca sebuah halaman. Mari kita terus membaca tanda-tanda jaman dengan terus mendekatkan diri pada Tuhan serta terus mendoakan perjalanan panggilan Calon-Calon Imam dan juga para Gembala agar tetap setia pada panggilanNYA hingga Tuhan kembali memeluk mereka di pangkuanNYA," ujar Aloysius.

Sementara itu Ondofolo Hedam Ayapo Enos Deda selaku pemilik hak ulayat mengharapkan agar dengan dibangunnya Rumah Studi Duta Damai ini, para calon pastor Keuskupan Agung Merauke akan menjadi duta perdamaian dan pewarta kebenaran bagi umat di Tanah Papua.

"Kami selaku ondofolo sudah serahkan tanah ini bagi pembangunan Rumah Studi ini. Kami yakin rumah ini akan membawa berkat bagi banyak orang. Semua proses sudah diselesaikan jadi sepenuhnya menjadi hak Keuskupan," kata Enos. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto