logo

Asian Games 2018: Titik-titik Noda Yang Menjadi Rahasia

Asian Games 2018: Titik-titik Noda Yang Menjadi Rahasia

29 Agustus 2018 14:19 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Ada rasa kaget ketika di WhatApps  ada pesan dari rekan wartawan media ibukota yang menyatakan ingin mengutip tulisan saya yang bertajuk: “Asian Games 2018: Pekan Penentua”. Ketika saya jawab silakan saja sepanjang dianggap layak, dia menambahkan daftar pertanyaan. Salah satunya menyangkut  tentang profesianlisme kerja Panitia Pelaksana Asian Games XVIII/2018 (Inasgoc). Menyangkut masalah ini saya agak hati-hati untuk memberikan jawaban karena sedikit sensitif.

Pasalnya, penampilan heroik para atlet Indonesia dalam membela nama bangsa dan negara telah menghadirkan penilaian Inasgoc  sudah bekerja secara profesional, sempurna dan sukses. Memberikan pernyataan yang sedikit berbeda pasti akan mendatangkan serangan balik alias bisa kena bully. Namun akhirnya saya memutuskan tetap memberikan pendapat yang berbeda berdasarkan pantuan saya selama ini. Baik sebelum dan saat perhelatan olahraga akbar Asia yang diikuti 45 negara itu berlangsung.

Secara umum kerja Inasgoc sudah dapat dikatakan sesuai dengan harapan. Tetapi bila dikatakan profesional dan sempurna tentu masih bisa diperdebatkan. Di tengah terpaan gelombang sukses para pahlawan olahraga Indonesia memenuhi target meraih 16 medali emas dan menembus posisi 10 besar Asia, ada titik-titik noda pelaksanaan yang berusaha disimpan menjadi rahasia sehingga hanya terdengar sayup-sayup di permukaan.

Titik noda yang tidak bisa dibendung sehingga mencuat ke permukaan tentunya masalah penjualan dan penyediaan tiket upacara pembukaan dan penutupan serta menonton pertandingan. Sudah begitu dalam pelayanan untuk kenyamanan menonton bagi yang sudah memiliki tiket juga jauh dari memuaskan. Banyak penonton yang memiliki tiket tidak mendapat tempat sesuai dengan yang tercantum dan bahkan untuk masuk tempat pertanding juga bermasalah.

Bergeloranya masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan kepada para atlet membuat Inasgoc kedodoran dalam masalah tiket ini. Antusiasme masyarakat yang merupakan salah satu pencerminan dari rasa nasionalisme ini dijawab dengan kinerja yang buruk dalam masalah tiketing. Jawaban yang bisa menimbulkan kekecewaan bukan saja bagi masyarakat negeri sendiri namun juga para suporter dari luar negeri yang ingin memberikan dukungannya kepada para atletnya masing-masing.

Kekisruhan dalam acara pembukaan dan juga dalam pertandingan bulutangkis, voli dan beberapa cabang lainnya tidak menjadi pelajaran bagi Inasgoc untuk melakukan perbaikan. Munculah keanehan ketika perburuan tiket upacara penutupan dibuka. Masyarakat dikagetkan ketika tiket langsung habis begitu pembelian melalui online dibuka.

Bisa jadi itu karena kegairahan masyawarakat yang begitu besar untuk menonton upacara penutupan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018). Tiket yang disediakan sekitar 60.000 buah akan langsung ludes bila yang membutuhkan jutaan orang. Alasan ini bisa diterima kalau saja tidak muncul kabar, Inasgoc memberikan hadiah tiket kepada para pejabat.

Langkah tersebut langsung dicium Komisi Pemberantasan Kporupsi (KPK). Lembaga ini langsung memperingatkan, hadiah tiket ke pejabat itu merupakan gratifikasi. Pejabat yang menerimanya diminta untuk mengembalikan ke KPK.

Selain masalah tiket yang mencuat di antara gelombang tinggi prestasi atlet Indonesia sebelumnya sempat muncul tentang ketidakprosionalan Inasgoc dalam mengatur kamar untuk atlet di perkampungan atlet. Ada atlet Indonesia yang tidak kebagian kamar sehingga tidur di karpet, kemudian yang sudah masuk perkampungan dipaksa ke luar pindah ke hotel. Keluhan tentang kotor dan sempitnya kamar juga muncul dari atlet luar negeri.

Kemudian dalam masalah transportasi, jadwal kedatangan kendaraan sering tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Terpaksa ada yang langsung memesan transportasi umum online karena dikejar waktu.

Dalam masalah isi perut juga ada keluhan. Dari penuturan seorang ofisial atlet yang mendapat tempat di perkampungan atlet Kemayoran terkuak keanehan untuk urusan konsumsi ini. Dia harus mengambil makanan di JCC, Senayan yang jaraknya cukup jauh dari Kemayoran.   

Yang mengagetkan tentunya soal keamanan. Ramai beredar bahwa ada kehilangan laptop di Main Press Centre yang dialami delegasi asal Jepang. Ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan menjadi catatan bagi Indonesia saat Jepang melaksanakan Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022.

Kasus ini tersimpan sehingga menutupi kekurangan kinerja Inasgoc. Tidak ada pernyataan permintaan maaf dari Inasgoc. Jangan minta maaf, menjelaskan kasus itu agar terang benderang sehingga tidak menimbulkan citra buruk bagi bangsa ini juga tidak dilakukan.

Saat pesta kadang kekuarangan yang ada ditutupi demi menjaga nama baik pelaksana pesta. Juga agar kemeriahan dan keramaian pesta tidak terganggu. Tetapi demi meraih yang terbaik segala kekuarangan tidaklah bisa ditutupi. Menyimpan hal busuk bukan saja tidak sehat namun bisa menularkan penyakit ketidakburukan dikemudian hari.

Bukankah pepatah menyatakan, sepandai-pandainya menyimpan bangkai maka akan bau juga. Aada juga kata bijak Jawa yang berbunyi Becik Ketitik Olo Ketoro. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Harian Siwo PWI Pusat, HP: 087783358784, e-mail: aagwaa@yahoo.com

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH