logo

Masa Tanggap Darurat Berakhir, PKPU HI Bangun 1000 Rumah Senyum

Masa Tanggap Darurat Berakhir, PKPU HI Bangun 1000 Rumah Senyum

Tim PKPU HI di depan sebuah Rumah Senyum (warna biru). (foto,ist)
29 Agustus 2018 09:11 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - LOMBOK: PKPU Human Initiative (HI) bersiap merampungkan pembangunan 360 Rumah Senyum, sebagai tahap awal hunian sementara warga terdampak gempa dari total 1000 unit yang direncanakan.

Pembangunan Rumah Senyum itu di dua lokasi, yakni Kecamatan Tanjung Lombok Utara dan Kecamatan Sembalun Lombok Timur. Rumah Senyum merupakan jenis hunian sementara, yang diberikan pada tiap kepala keluarga (KK) terdampak, sebelum bantuan hunian permanen dari pemerintah dibangun.

"Rumah Senyum menjadi solusi tempat tinggal sementara yang tepat, mengingat bantuan (hunian tetap) membutuhkan waktu yang cukup panjang dalam membangunnya," tutur Koordinator Program Rumah Senyum PKPU HI Kaimudin, di Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Dijelaskannya, rumah ini berukuran 6 x 4 meter per segi, yang tediri dari dua bilik dirancang ramah gempa dan menyesuaikan cuaca setempat. Tipe hunian ini, juga dapat menyesuaikan dengan bahan lokal. "Sehingga, mudah dan cepat dalam pembangunannya," ujarnya.

Proses pembangunan Rumah Senyum tahap pertama ditargetkan selesai dalam 3 pekan atau 20 hari kalender pada pertengahan September mendatang. Sehingga, dapat dihuni sebelum datangnya musim hujan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menetapkan tanggal 25 Agustus 2018 berakhirnya masa tanggap darurat, memasuki masa transisi menuju fase pemulihan. Ketetapan ini akan turut mempengaruhi proses penyaluran bantuan dari kebutuhan darurat menuju tahap pemulihan melalui bantuan jangka menengah.

Namun demikian, diungkapkan Kaimudin, tim PKPU HI masih melanjutkan distribusi logistik. Seperti paket makanan, perlengkapan bayi, perlengkapan kebersihan, serta peralatan masak. Selain itu, ada perlengkapan hunian terdiri dari terpal, selimut dan tikar, penyediaan air bersih dan jamban komunal,  karena luasnya wilayah dan penduduk terdampak yang minim mendapatkan bantuan.

Editor : Laksito Adi Darmono