logo

Asian Games 2018: Jembatan Emas Pencak Silat

Asian Games 2018: Jembatan Emas Pencak Silat

26 Agustus 2018 17:47 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Pencak Silat mencatat sejarah di Asian Games XVIII/2018. Inilah untuk pertama kalinya cabang olahraga seni beladiri tradisonal kebanggaan Indonesia ini dipertandingkan di ajang pesta olahraga akbar tingkat Asia. Pintu pembuka bagi pencak silat untuk mensejajarkan diri dengan cabang olahraga beladiri karate, judo dari Jepang dan taekwondo asal Korea Selatan yang sudah lebih dahulu dipertandingkan di Asian Games dan bahkan olimpiade.

Perjalanan panjang harus ditempuh pencak silat untuk bisa dipertandingkan di perhelatan olahraga antarbangsa Asia setelah secera resmi terus tampil di ajang SEA Games. Upaya keras dilakukan oleh Pengurus Besar Persatuan Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) mulai dari era kepemimpinan Ketua Umum Eddy Nalapraya dan di masa bakti Ketua Umum Prabowo Subianto. Melalui dukungan dari Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) baik tingkat Asia maupun internasional, usaha menghadirkan cabor ini di Asian Games tiada henti dilakukan.

Untuk memperkuat langkah menembus Asian Games, IPSI dan anggota Persilat lainnya membentuk organisasi pencak silat Asia Pasific, Oktober 1999. Titik terang mulai terlihat ketika pada Asian Games 2002 di Korea Selatan, pencak silat masuk dalam agenda Sport Cultural Event. Akhirnya pencak silat bisa dipertandingkan pada Asian Games XVIII/2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang, Indonesia.

Pada Asian Games XVIII pencak silat dipertandingkan di Gelanggang Olahraga Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dari 23 – 29 Agustus. Ada 16 medali emas yang diperebutkan dari nomor seni dan tanding. Nomor seni memperebutkan enam emas untuk perseorangan, ganda dan beregu putra-putri. Sedangkan nomor tanding 10 emas untuk kelas B (50-55 kg), C (55-60), D (60-65), E (65-70), F (70-75), I (85-90), J (90-95) putra dan B,C,D putri.

Indonesia menurunkan 14 atlet yang terdiri dari 10 putra dan empat putri. Putra:  Hanifan Yudani Kusumah,  Iqbal Candra Pratama,  Komang Harik Adi Putra,  Aji Bangkit Pamungkas,  Sugianto,  Yola Primadona Jampil,  Hendy,  Nunu Nugraha,  Asep Yuldan Sani,  Anggi Faisal Mubarok. Putri:  Wewey Wita,  Sarah Tria Monita,  Pipiet Kamelia,  Puspa Arumsari.

Sebagai cabor bangsa sendiri, pencak silat diharapkan bisa menjadi tambang emas Indonesia untuk mendukung target menembus posisi 10 besar Asian Games XVIII. PB IPSI sendiri mentargetkan empat emas. Target ini tentunya berdasarkan perkembangan pencak silat yang sudah mulai dikenal dan menyebar dengan signifikan di berbagai negara. Bukan saja Asia namun juga belahan dunia lainnya.

Perkembangan itu bukan saja hanya sekadar papan nama. Namun hampir setiap negara serius membina pencak silat. Tidak mengherankan bila banyak pelatih andal Indonesia yang ditarik untuk melatih di luar negeri. Hal ini membuat persaingan di pencak silat makin ketat, belum lagi negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei juga serius membina para pendekarnya.

Alasan lainnya, tentu untuk kepentingan diplomasi. Indonesia bisa saja melakukan sapu bersih medali namun akan membuat negara lain terpukul sehingga mengendor dalam mengembangkan dan membina prestasi pencak silat. Pertimbangan kelanjutan pencak silat di Asian Games perlu juga dijaga. Belum lagi pencak silat mempunyai misi untuk dipertandingkan di ajang olimpiade.

Melihat hasil perjuangan para pendekar putra dan putri Merah Putih di Asian Games XVIII ternyata sangat luar biasa. Indonesia mampu menempatkan delapan wakil di final tanding dan enam di final seni. Jadi ada peluang untuk merebut 14 dari 16 emas yang disediakan.

Akankah semuanya mampu menyapu emas? Jawabannya ditentukan pada final yang akan dimulai Senin (27/8/2018). Bila sapu bersih 14 emas maka Indonesia hanya menyisakan dua emas untuk para tamunya.

Bagi pencak silat, Asian Games XVIII bukan saja sebagai sejarah pembuka cabor ini masuk tingkat Asia namun juga jembatan emas untuk meraih prestasi dan meningkatkan kiprahnya di tingkat Asia dan dunia. IPSI sebagai pengawal utama kelangsungan pencak silat ini di dalam dan luar negeri menghadapi pilihan yang sulit. Namun diharapkan PB IPSI di bawah komando Ketua Umum Letjen TNI (Purn) Parbowo Subianto akan bisa mengeluarkan jurus yang indah untuk bisa meniti jembatan emas ini demi kejayaan pencak silat sekarang dan di masa depan. Di Indonesia, Asia dan dunia. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Harian Siwo PWI Pusat, HP: 087783358784, e-mail: aagwaa@yahoo.com

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH