logo

Gerakan Satu Langkah Sejuta Makna Puskesmas Mrebet Bantu Disabilitas

Gerakan Satu Langkah Sejuta Makna Puskesmas Mrebet Bantu Disabilitas

24 Agustus 2018 11:52 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Haryono Suyono

Sebagian besar penduduk daerah Purbalingga, seperti di daerah lain sekitar Purwokerto, terkenal dengan kegiatan masyarakat membuat gula yang bahan bakunya berasal dari kelapa. Cara pembuatannya dengan mengambil bahan baku dari puncak pohon kelapa dengan cara “nderes” mengambil nira untuk bahan bakunya. Karena pekerjaan ini bersifat turun temurun, maka pemanjat pohon kelapa yang masih aktif di tiap desa tidak selalu terdiri dari pemanjat kelapa yang masih muda, ada kalanya ada juga yang sudah berumur, bahkan ada yang usianya 50 tahun, atau bahkan ada yang usianya lebih dari 60 tahun.

Berdasarkan cerita Haryati Kusnadi, penulis muda dari Purbalingga dan rekan-rekan dari Puskesmas Mrebet di Purbalingga, Jawa Tengah pengalaman yang terjadi di Desa dan Kecamatan Mrebet perlu segera menjadi perhatian rekan-rekan dari DNIKS di Jakarta atau para petugas sosial dari banyak desa, guna segera mengadakan peninjuan atau mempelajari bagaimana mengembangkan program yang sangat menyentuh keluarga disabilitas yang sekaligus miskin.

Lebih lanjut Menteri Sosial RI perlu menugasi stafnya terjun ke desa untuk mempelajari bagaimana mengembangkan kerja sama dengan Kepala Desa dan punggawa desa serta membaur bersama masyarakat di suatu desa agar berkembang simpati.  Sehingga,  dalam Rembug Desa yang selalu diadakan sebelum dana desa dibagi sesuai prioritas, masyarakat lebih dulu harus memberikan persetujuan atas prioritas penggunaan dana desa guna membantu penduduk miskin.  Apalagi yang disabilitas secara proporsional dan bijaksana.

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo beserta aparatnya tidak bosan-bosannya memberi petunjuk dan kesempatan luas kepada masyarakat desa,  memberi perhatian kepada keluarga miskin, termasuk keluarga disabilitas.  Agar mereka dibebaskan dari kemiskinan melalui bantuan pemberdayaan. Tetapi, karena pemberian bantuan itu perlu dibicarakan melalui Rembug Desa, maka perlu digerakkan konsensus bersama dalam masyarakat luas tentang prioritas yang harus diambil bersama. Agar Kepala Desa tidak dituduh melanggar peraturan yang telah ditentukan.

Dalam kasus di salah satu Kecamatan di Purbalingga itu, gagasan awal dimulai dari pengamatan tingkah laku dan kegiatan masyarakat desa Mrebet yang memiliki pekerjaan sehari hari yang bisa dianggap berbahaya. Awalnya, Drg Rahayu Puji Astuti, dokter gigi muda yang ditugasi sebagai Kepala Puskesmas di Mrebet merasa prihatin pada banyak kejadian dan musibah,  yang diderita oleh para penderes nira kelapa di wilayah kerjanya. Sebagai seorang dokter gigi muda yang kebetulan dipercaya sebagai Kepala Puskesmas Mrebet, Kabupaten Purbalingga, tentu untuk menangani kejadian itu tidak bisa hanya memperbaiki gigi yang rontok kalau seseorang jatuh dari panjatan kelapa yang tinggi, tetapi perlu penanganan lain yang lebih luas.

Karena itu,  bersama rekan-rekan muda di wilayahnya, drg Rahayu Puji Astuty mempelopori Gerakan Satu Langkah Sejuta Makna, biarpun tidak mendahului Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang dicanangkan pemerintah pusat, tetapi secara khusus meminta perhatian khalayak ramai di wilayahnya dan memulai dengan membantu penderita yang jatuh melalui berupa bantuan walker (alat bantu jalan tanpa roda) untuk memperingan derita para korban.

Mulai dari prakarsa itu, drg. Rahayu juga terinspirasi dari kondisi masyarakat yang kaum ibunya sering mengalami sakit pada kaki karena asam urat, kolesterol dan osteoporosis memberikan perhatian yang tinggi. Drg Rahayu juga terpanggil dan memberikan pendampingan pada kasus-kasus penderita karena pasien yang mengalami saraf kecepit. Drg Rahayu melihat kegiatan masyarakatnya melakukan kerja yang berbahaya, yaitu memanjat pohon kelapa tanpa alat pengaman untuk mengambil nira. Karena pada puncak pohon seseorang harus bekerja menderes, maka bisa saja terjadi kecelakaan. Ternyata tidak sedikit yang mengalmi lecelakaan jatuh dari pohon kelapa saat sibuk mengambil nira. Karena jatuh dari pohon kelalpa yang tinggi, sebagian dari mereka mengalami patah tulang, bahkan sampai ketingkat kelumpuhan.

Penduduk yang jatuh itu ada anak muda atau kepala keluarga muda yang bekerja sebagai tukang panjat yang masih muda,  yang menjadi tumpuan seluruh anggota keluarga pada umumnya, atau masih banyak penduduk yang sudah berumur tetapi karena sejak muda pekerjaan mereka memanjat pohon kelapa, masih merasa mampu meneruskan pekerjaan yang sesungguhnya makin berbahaya untuk usia tuanya.

Dokter muda ini makin hari mengetahui dari pengalaman sehari-hari bahwa penduduk yang masih miskin tidak mudah mengganti pekerjaan sehari-hari yang memiliki resiko tinggi, memanjat pohon untuk mengambil nira dengan pekerjaan lain yang tidak berbahaya, atau berobat jauh ke Rumah Sakit di Purwokerto atau tempat rehabilitasi lainnya. Sehingga,  prakarsa gerakan sederhana membantu dengan alat sederhana itu tidak muncul tiba-tiba tetapi memerlukan langkah yang tidak sederhana, karena harus meyakinkan banyak kalangan agar rela mengambil keputusan menyisihkan dana.  Guna membantu penduduk yang jumlahnya tidak banyak, tetapi ternyata sangat membantu masyarakat di desa tempatnya bekerja di Kecamatan Mrebet itu.

Biarpun gerakan ini baru dirintis dan dewasa ini yang dibantu baru sebanyak lima orang, tiga orang sudah berusia lanjut, Santori (68), Sahuri (59) dan Ropidin (57), serta dua orang penduduk muda, Anwar Setiawan (29) dan Ita.  Bagi drg Rahayu dan teman-temannya para penulis muda yang ikut kampanye, sebuah perjalanan panjang tentunya dimulai dari satu langkah kaki.

Begitu pula ribuan kilometer tidak akan mungkin terlewati bila tidak dimulai dengan satu langkah kaki. Suatu cita-cita yang kalau dikembangkan dengan komitmen tinggi dan konsisten, tidak mustahil akan menjadi tren nasional yang dapat diwujudkan dengan baik dan bisa ditiru oleh dokter dan anak-anak muda peduli sesama di semua belahan bumi ini. Memberikan pengharapan dan semangat untuk banyak kalangan yang sesungguhnya peduli tetapi tidak juga segera mulai takut pada bayangan malu kalau gagal karena langkah yang diambil kecil dan mungkin tidak mendapat penghargaan yang wajar. Selamat untuk Drg  Rahayu dan kawan-kawan generasi muda yang maju dari Purbalingga. 

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Tim Pakar Mendes dan PDT

Editor : Gungde Ariwangsa SH