logo

BUMDes Aneka Usaha Atasi Kebutuhan Air Bersih Masyarakat

BUMDes Aneka Usaha Atasi Kebutuhan Air Bersih Masyarakat

24 Agustus 2018 09:44 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Haryono Suyono

Menurut laporan yang dihimpun Ivanoviick Agusta dan kemudian disampaikan kepada Menteri Desa PDTT, Eko Putro Sandjojo, konon informasi yang dihimpun dari Tarmudi, Ketua Unit Pengairan HIPPAM BUMDes Aneka Usaha dan Ketua BUMDes Aneka Usaha, Cipto, warga desa Sugihwaras,  Kepohbaru,  Bojonegoro,  Jawa Timur,  tiap musim kemarau harus rela menunggu lama untuk mendapatkan air layak minum sampai ke rumah. Karena itu keperluan untuk mandi, cuci,  kakus atau bahkan untuk masak memasak menjadi sangat terganggu.

Pada tahun 2007,  saat musim kemarau panjang hingga lima bulan terjadi,  pasokan air  hampir tidak menetes. Karena tidak tahan lagi, penduduk desa melayangkan protes ke Balai Desa agar Kepala Desa dan punggawanya mengambil tindakan dan langkah-langkah positif.

Pengelola air bersih, Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) langsung diminta merespon keluhan para pelanggan itu.  Sebelumnya,  pengurus HIPPAM tidak  peduli karena selama tujuh tahun  segala sesuatunya berjalan lancar. Pengurus HIPPAM tidak pernah menyangka akan adanya kejadian langka air,  akibat musim kemaruau yang panjang.

Merespon protes masyarakat, pengurus HIPPAM minta waktu untuk mengkaji sumber air bersih pada saat musim kemarau panjang tersebut. Masyarakat warga Sugihwaras, diminta bersabar dan memberikan dukungan morilnya. Dari kajian yang dilakukan ternyata terbukti, sumber pasokan air bersih ke seluruh pelanggan hanya berasal dari satu sumur. Dikaji lebih jauh lagi, pasokan dari satu sumur itu tidak akan menjamin suplai yang dilakukan HIPPAM,  kalau solusinya hanya dengan memperbaiki sumur saja.

Para pengurus sepakat, diperlukan adanya suatu sistem atau teknologi yang lebih siap,  untuk digunakan pada kondisi sumur yang airnya langka pada musim kemarau. Saat dana desa digelontorkan langsung ke desa,  HIPPAM puns egera dijadikan bagian dari unit usaha BUMDes.  Maka, ruang geraknya bertambah lincah.

Dengan kondisi itu, pengurus langsung mengadakan perundingan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.  Agar usahanya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat tetap berjalan lancar,  dalam keadaan kemarau panjang sekalipun. Setelah inventarisi masalah secara menyeluruh dan dilakukan kajian secara cermat, ternyata diperlukan pengeboran yang lebih dalam guna memastikan ketersediaan air yang suplainya lebih terjamin pada musim kemarau.

Berdasarkan rekomendasi itu, HIPPAM melakukan komunikasi lanjutan dengan perwakilan RT/RW, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), serta Lembaga Musyawarah Desa (LMD) untuk mendapatkan dukungan pembiayaan lanjutan kajian dan perbaikan sumur apabila diperlukan. Dalam musayawarah desa yang digelar, masalah ini dibahas bersama para tokoh dari seluruh desa yang berkumpul.

Setelah mendapat persetujuan segala kalangan, kajian lanjutan dilakukan dengan mendatangkan tenaga ahli profesional dari luar desa. Kajian lanjutan ini dilakukan melalui pengeboran sumur lebih dalam, agar dapat dipastikan ketersediaan air dan letak sumber mata airnya. Hasil kajian diketahui bahwa permukaan air di sumur ternyata menyusut hingga 20 meter. Selain itu, level sumber air terbaik dan terbesar berada pada kedalaman 60-69 meter. Hasil kajian lanjutan itu dibawa kepada Pemerintah Desa Sugihwaras dan Kepala BUMDes Aneka Usaha,  guna penyelesaian dan tindak lanjut yang menguntungkan rakyat.

Untuk itu secara musyawarah dibahas dan diambil keputusan yang dianggap menguntungkan masyarakat, suatu proses kebersamaan yang mengutamakan kepentingan semua fihak, khususnya menguntungkan kepentingan rakyat memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Setelah segala sesuatunya disetujui, atas dasar kajian itu dilakukan perbaikan sumur dengan mengganti sumur pompa sentrifugal dengan sumur submersible yang dianggap modern dan bisa mencapai kedalaman 60 meter.

Sumur ditempatkan di kedalaman 28-32 meter agar tidak berat dan mencegah turunnya permukaan air. Sesuai kebutuhan yang meningkat, disetujui pula penggantian dan penambahan dua sumur baru dengan diameter 6 inci dan diameter 8 inci. Kemudian disepakati pendanaan untuk perbaikan sumur bersumber dari dana desa sebesar Rp 32 juta dan tambahan dana yang berasal dari hadiah lomba ditambah dana swadaya masyarakat.

Sebelum pekerjaan dimulai dibentuk Tim Kerja yang terdiri dari pengelola HIPPAM, tenaga ahli professional dan wakil pemerintah desa. Setelah pekerjaan yang relatif baru dan modern untuk masyarakat desa itu selesai serta sumur mulai dioperasikan, terbukti bahwa perbaikan sistem dengan penggantian sumur ternyata berdampak positif.

Air tanah yang dapat disedot oleh sumur baru sangat melimpah membuat para pengurus merasa sangat puas yang dipertontonkan oleh wajah yang beria. Warga dapat kembali menikmati air bersih dengan lancar hingga ke rumah-rumah. Pasokan air bersih menjangkau hingga pelosok desa. Pasokan air bersih bisa dinikmati sepanjang hari. Jumlah pelanggan air bersih naik dari 600 pelanggan menjadi 972 pelanggan. Seluruh warga Desa Sugihwaras telah terlayani air bersih.

Tidak ada lagi protes warga karena macetnya air dari pelanggan. Praktis seluruh rumah warga desa terhubung dengan air bersih dari sumur-sumur baru dengan air bersih siap untuk keperluan rumah tangga. Berkat inovasi dan keberanian mengambil prakarsa yang modern itu, desa berpenduduk sekitar 4.785 jiwa ini, persoalan air bersih ternyata sebagai prioritas utama dengan gotong royong dan kerja keras dapat cepat diselesaikan.

Pelibatan tenaga professional, biarpun di desa, ternyata membantu memastikan teknologi yang tepat dalam perbaikan sumur sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih realistis. Dengan air bersih yang lancar, kebutuhan sehari-hari dan kehidupan masyarakatnya bertambah tenteram. Air menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Pendanaan dari desa memperlancar upaya perbaikan sarana air bersih yang merupakan kebutuhan utama warga.

HIPPAM memetik pengalaman dalam mengelola air bersih. Pengurus yang memperhatikan ketersediaan air dan level sumber air yang terpelihara dengan baik menjamin kelangsungan supply air untuk masyarakatnya. Sumber air tetap dijamin yang terbaik dan terbesar di saat musim kemarau. Dengan melakukan kajian, pengurus mampu menentukan sistem atau teknologi yang tepat untuk sarana air bersih yang akan digunakan. Warga Sugiwaras kembali tersenyum lebar. Inovasi desa yang dilakukan HIPPAM tidak sia-sia. Mereka kembali menikmati air berlimpah tanpa rasa was-was.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Tim Pakar Mendes PDTT).

Editor : Gungde Ariwangsa SH