logo

Ketika TV Merasuki Kehidupan Anak

Ketika TV Merasuki Kehidupan Anak

30 Juli 2018 16:50 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi

Isu tentang anak-anak menjadi salah satu kajian yang menarik karena masa depan bangsa tidak terlepas dari eksistensi anak-anak saat ini dan karenanya tema Hari Anak Nasional – HAN 2018 yaitu Anak Indonesia Anak GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, Sehat). Satu hal yang tidak bisa diabaikan dari momentum peringatan HAN 2018 yaitu ancaman  TV dan gawai dalam kehidupan anak-anak saat ini. Argumennya tidak dapat terlepas dari perilaku orang tua yang memanjakan anak-anak dengan TV dan gawai. Padahal, acara TV dan semua yang diakses anak melalui gawai belum tentu berdampak positif bagi tumbuh kembang anak, sementara di sisi lain kemudahan akses terhadap TV dan media gawai saat ini semakin rentan merasuki kehidupan anak-anak sehingga wajar jika akhirnya ada kasus kriminal dan perilaku anti-sosial lainnya yang dilakukan anak-anak, termasuk tawuran dan yang terbaru adalah kasus meninggalnya suporter di Yogya akibat dikeroyok.

Hasil riset Prof Dr Sarlito Wirawan Psi sangat mencemaskan sebab ternyata anak-anak Indonesia adalah penonton tv tertinggi yaitu mencapai rata-rata 300 menit per hari atau hampir dua kali lipat dibanding anak-anak di AS (180 menit), Australia (150 menit) atau Kanada (60 menit). Kasus ini terjadi karena perubahan sosial - ekonomi dan norma sosial - budaya di masyarakat. Padahal ada keyakinan intensitas saat menonton tv bisa berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hasil ini pada dasarnya menunjukan perkembangan pertelevisian kita mengalami dualisme, di satu sisi dituntut untuk bisa hidup - survive dan disisi lain dituntut untuk bisa memacu kehidupan sosial yang lebih baik demi masyarakat. Lalu bagaimana? Strategi apa yang harus dilakukan tv agar bisa mendapatkan keduanya?

Perkembangan

Pesatnya perkembangan program tv (kuantitas) ternyata justru memicu sentimen negatif bagi tv itu sendiri. Paling tidak, ini terlihat dari adanya sindiran dari sebagian publik yang menyatakan banyak tv berarti identik dengan banyak sinetron, cerita misteri, pornoaksi, pornografi, infotainment, model kekerasan dan tayangan yang merasuki kehidupan anak. Sindiran ini menguat dengan menyatakan banyaknya tv ternyata diikuti penayangan acara yang kurang mendidik, tidak rasional dan cenderung bombastis mengejar rating dan iklan saja. Hal ini terbukti ketika suatu sinetron atau program sangat laku, maka dibuat lanjutan meski terkadang setting-nya dipaksakan, termasuk juga alur cerita. Fakta ini bukan hanya terjadi di satu tv, tapi hampir di semua tv yang ada di negeri ini. Meski demikian, ini sah saja dalam potret industrialisasi tv yang kompetisinya kian tinggi.

Kritik atas perkembangan tv memang beralasan, terutama ini dikaitkan berbagai dampak simultan yang ditimbulkan. Temuan itu pada dasarnya merupakan introspeksi bagi semua pihak yaitu tidak saja dari pengelola stasiun tv yang kini jumlahnya makin pesat (seiring otda ternyata di sejumlah daerah bermunculan tv), produser program - acara, pemasang iklan dan masyarakat yang notabene sebagai obyek dan subyek dari pertelevisian kita. Hal ini tidak lain dimaksudkan memberikan kesadaran publik tentang ancaman, bahaya, dan manfaat, serta keunikan tv dibanding media lainnya misalnya koran, radio dan media internet secara online.

Meski memicu dualisme tetapi juga diakui pertelevisian tetap memberi kontribusi positif, terutama dikaitkan penyebaran dan proses penyampaian informasi ke publik, termasuk juga hal ini upaya peningkatan pelayanan publik melalui wahana hiburan - perkembangan demokrasi. Besarnya tantangan tuntutan survive bagi tv, pertanyaannya apakah tv mampu menghidupi dirinya dan mampu memberi kemanfaatan yang terbesar bagi masyarakat? Pertanyaan ini wajar sebab secara tidak langsung menunjukan tentang semakin ketatnya persaingan dalam bisnis media, tidak saja tv, tetapi juga media lain. Artinya, keberadaan tv tentu tidak bisa mengabaikan persaingan riil (product form dan generic competition).

Mereduksi

Adaya proses tuntutan untuk meminimalisasi terjadinya racun atas dampak tayangan tv, maka sangat beralasan kalau bahana-magazine.online.com memaparkan 10 strategi yaitu pertama: memberikan teladan kepada anak-anak atas tayangan tv, termasuk dalam hal ini adalah batasan waktu, kedua: meminimalisasikan peran tv sebagai ‘pendamping’ bagi rutinitas anak, terutama dikaitkan dengan aspek kesibukan orang tua, ketiga: menentukan jadwal kegiatan anak-anak sepulang sekolah yang tidak lain yaitu strategi untuk memacu kegiatan positif, keempat: menempatkan tv di area terbuka sehingga memungkinkan bagi orang dewasa mengarahkan atas tayangan tv bagi anak-anak, dan kelima: memposisikan tv sebagai alat bantu untuk mendidik anak dalam semua aspek kehidupan (sisi positifnya)

Keenam: mendiskusikan dan melibatkan peran anak disetiap tayangan yang ada sehingga memacu daya imajinasi dan keterkaitan nilai sosial, ketujuh: menerangkan antara fakta - fiksi semua tayangan yang ada sehingga memungkinkan terjadinya pembelajaran secara simultan, kedelapan: mendiskusikan tayangan iklan sehingga tidak memicu sisi negatif (perilaku konsumerisme), dan kesembilan: merumuskan bersama atas aturan menonton tv sehingga tidak ada yang merasa superior dan inferior di rumah tangga, dan kesepuluh: menolak dan meminimalisasi semua proses adegan kekerasan (jika dimungkinkan dan atau memungkinkan untuk melakukan ini kepada tv). Apakah dengan munculnya bentuk tayangan tv pendidikan bisa mereduksi dampak negatif? Tidak mudah menjawab sebab TPI dulu juga sudah berusaha melakukannya, meski tidak berhasil secara mutlak.

Semua agenda itu memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa dilakukan terutama dikaitkan dengan kesibukan para orang tua. Meski demikian, tidak berarti lalu kita tidak mengupayakan pencapaiannya secara berkelanjutan. Intinya ini menjadi tanggungjawab kita semua, tidak hanya anak-anak, tetapi juga peran aktif orang tua (pada umumnya) dan khususnya media tv! Dengan kata lain, kesinambungan dalam mengatasi persoalan ini nanti akan memunculkan eksistensi pertelevisian yang lebih ramah kepada pemirsanya dan khususnya kepada anak-anak sebagai generasi mendatang. Jika tv bisa merumuskan maka harapan dari tema HAN 2018 yaitu Anak Indonesia Anak GENIUS bisa terealisir, meski tentu harus juga mendapat dukungan dari sekolah dan harmoni kehidupan keluarga. ***

* Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo