logo

Sejalan Hasil Survei LSI, Jokowi Sebut Lima Nama Cawapres Berpeluang Dampingi Dirinya 

Sejalan Hasil Survei LSI, Jokowi Sebut Lima Nama Cawapres Berpeluang Dampingi Dirinya 

Foto: CNN
11 Juli 2018 22:11 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut ada lima nama yang berpotensi menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping dirinya di Pilpres 2019. Kelima nama tersebut, kata Jokowi, merupakan bagian dari 10 nama yang sebelumnya telah digadang menjadi cawapresnya.

"Kemarin sepuluh, mengerucut ke lima," kata Jokowi di Istana Negara, Rabu (11/7/2018). "Mbok, sabar dulu tinggal satu, dua, dan tiga minggu lagi," ucapnya kepada awak media.

Hal ini disampaikan Jokowi menanggapi pernyataan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bahwa sudah ada 10 nama masuk bursa cawapres Jokowi. 

Tidak jelas, apakah kelima sosok cawapres yang berpeluang mendampingi Jokowi itu sesuai dengan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis Selasa (10/7/2018). Sesuai versi LSI Denny JA, lima tokoh nasional berpeluang mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Mereka adalah Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Presiden Moeldoko dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Apakah kelima tokoh ini yang sudah ada dalam kantong Jokowi, masih belum jelas.

Lebih jauh Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menegaskan dirinya harus berkomunikasi terlebih dahulu dengan seluruh partai pendukung sebelum mendeklarasikan cawapres. 

Seperti dilansir CNNIndonesia, Jokowi menanggapi santai rentetan pertanyaan pewarta mengenai bakal caeapresnya mendatang. Menurutnya, saat ini nama-nama itu masih digodok timnya bersama partai pendukung. 

"Yang namanya digodok itu pasti menunggu biar matang. Kalau belum matang dikeluarkan, jadi setengah matang," tuturnya sambil tersenyum. 

Memang, Jokowi selalu terlihat tersenyum ketika mendengarkan pertanyaan seputar bakal calon pendampingnya, termasuk ketika dikonfirmasi mengenai latar belakang bakal cawapresnya. "Bisa partai, bisa nonpartai, bisa profesional, bisa sipil, bisa TNI atau Polri," ucap Jokowi. 

Jawaban Jokowi ini pun tampaknya menyiratkan kesamaan dengan nama-nama tokoh yang berpotensi jadi cawapresnya sesuai hasil survei LSI Denny JA.

Namun, Ia enggan berkomentar ketika disinggung penentuan cawapres dilakukan setelah mengetahui pasangan yang bakal menjadi lawannya dalam Pilpres mendatang.

"Tadi saya sudah bilang dalam proses digodok. Digodok itu airnya harus panas dan mendidih biar segera matang. Kalau matang, nanti kami sampaikan pada saat yang tepat," kata Jokowi menjawab pertanyaan wartawan soal sosok-sosok yang masuk bakal jadi cawapresnya.

Bukan Tokoh Parpol

Sementara itu anggota Dewan Pakar NasDem Teuku Taufiqulhadi mengusulkan agar cawapres pendamping Jokowi di Pilpres 2019 bukan berasal dari partai politik. "Hal ini untuk menjaga soliditas parpol koalisi pendukung Jokowi," ujarnya.

"Menurut saya (cawapres bagi Jokowi) lebih baik dari nonpartai. Itu lebih baik untuk menjaga soliditas koalisi," ujar Taufiqul di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Taufiqul menilai pengajuan kader parpol pendukung Jokowi sebagai cawapres berpotensi menimbulkan perpecahan. Ia menyebut sejumlah partai kemungkinan akan mengambil keuntungan dalam memperebutkan posisi tersebut.

"Oleh karena itu saya berpikir jangan ada hasrat berlebihan menempatkan kader menjadi wakil dari parpol untuk menjadi cawapres," ujarnya.

Secara terpisah PDIP menjelaskan bahwa cawapres yang dicari adalah yang berdedikasi untuk bangsa dan negara

"(Kemudian) yang punya kemampuan buat teknokrasi, dan punya kemampuan buat membangun harapan rakyat. Mengkonsolidasikan semua harapan rakyat karena kita ingin jadi bangsa pemenang," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di kantor DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2018).

Hasto mengatakan banyaknya nama yang masuk merupakan apresiasi terhadap Jokowi. Ia pun menyebutkan beberapa nama yang ada menjadi pertimbangan Jokowi.

"Ini apresiasi terhadap kepentingan Pak Jokowi kan luar biasa, sehingga banyak suara yang masuk kepada Pak Presiden, kepada pak ketum parpol, buat dorong, ada tokoh A, tokoh B, tokoh C, ya. Semua masuk dalam pertimbangan," kata Hasto. 

Selain mempertimbangkan nama yang ada, menurutnya, Jokowi juga mendengarkan masukan dari partai politik pendukung. Nantinya nama yang akan mendampingi Jokowi akan diumumkan pada waktu yang tepat.

Ia mengatakan efektivitas pemerintahan tidak hanya dijamin dari dukungan rakyat, tetapi juga dukungan DPR. Menurutnya, parpol yang telah menyampaikan dukungannya saat ini memiliki kekuatan di atas 50 persen.

"Karena apa pun ya, dukungan yang kuat dari rakyat belum menjamin efektivitas pemerintahan tanpa adanya dukungan dari DPR. Dan, proses dialog dengan parpol terus dilakukan," ujar Hasto.

"Paling tidak, sekiranya parpol-parpol yang saat ini sudah sampaikan dukungannya, yakni ada PDIP, Golkar, PPP, NasDem, Hanura, kemudian kalau nanti ditambah PKB, itu sudah merupakan kekuatan di atas 50 persen," ucapnya. ***

Editor : Pudja Rukmana