logo

Galeri Nasional Indonesia Gelar Balik Bandung

Galeri Nasional Indonesia Gelar Balik Bandung

10 Juli 2018 22:23 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Kebudayaan Bandung dan Galeri Soemardja ITB menggelar acara Balik Bandung. Acara yang akan berlangsung dari 13 - 23 Juli ini, diisi berbagai kegiatan mulai dari diskusi dan pameran.

Dalam siaran persnya kepada suarakarya.id, disebutkan, pembukaan pada Jumat (13/7/2018) dimulai pukul 19.00 di Galeri Soemardja. Keesokan harinya, Sabtu, digelar diskusi mulai pukul 10.00 – Selesai di Ruang Seminar FSRD ITB  dengan pembicara Herry Dim dan Asikin Hasan, Sedangkan pameran dari 13 – 23 Juli 2018  dari pukul 10.00 – 17.00 di  Galeri Soemardja ITB,  Jl Ganesha No 10, Bandung dan Gedung PPK Bandung,  Jl. Naripan No. 7-9, Bandung

Pameran karya-karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia di Bandung memiliki tujuan penting, diantaranya,  dalam kaitan pengembangan koleksi seni rupa milik negara. Karya-karya terpilih yang dihadirkan pada pameran ini dipersiapkan dengan menimbang unsur ketersediaan serta kesiapan koleksi karya-karya di Galeri Nasional Indonesia. Landasan kuratorial pameran ini, tentu saja, tidak dirancang sehingga mampu menguraikan sejarah perkembangan seni rupa modern di Bandung, pun tidak dimaksudkan sebagai penjelasan tentang tolak ukur peran seni rupa Bandung dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Karya-karya yang kini 'kembali ke Bandung' (Balik Bandung) menunjukkan ciri-ciri kecenderungan proses penciptaan khas a'la Bandung. Karya-karya ini jelas tidak bisa menggambarkan kiprah para seniman Bandung secara lengkap serta menyeluruh; namun demikian, karya-karya yang ‘mewakili’ segi-segi perkembangan ‘seni rupa Bandung’ ini diharapkan tetap bisa mendorong dukungan dan penerimaan yang terus berkembang dari masyarakat seni rupa di Bandung untuk turut serta mengembangkan karya-karya koleksi negara di masa mendatang.

Sebagaimana juga terjadi di kota-kota besar dunia, pertumbuhan para seniman di Bandung menghasilkan dinamika kecenderungan penciptaan karya yang terus berkembang —baik secara artistik maupun estetik— melalui sikap-sikap: peleburan, penjarakkan, penentangan, maupun perumusan-ulang. Pun disetiap masa selalu lahir para ‘pemberontak’ maupun pihak ‘pendukung’ keadaan yang mencirikan dinamika perkembangan seni rupa modern yang hidup. Sebagian peneliti merasa yakin, bahwa watak urban turut membentuk orientasi berkarya para seniman di Bandung. Watak semacam ini, tentu, tidak sebatas situasi perkembangan kota besar secara fisikal melainkan terutama berkaitan dengan pembentukkan sikap mental. ‘Budaya urban’, kalau istilah ini bisa digunakan, menjelaskan mentalitas serta sikap yang terhubung dengan semangat kemajuan sosial (modernitas) yang tumbuh dan berkembang bersama di berbagai kota besar di penjuru dunia. Persepsi tentang Yang lokal, dengan demikian, dirumuskan secara personal dan dipersoalkan sebagai tanda-tanda yang terbaca melalui kurun dan lingkup pengalaman ‘menjadi bagian kota’ (kosmopolit)—dan tidak terlalu mesti berlaku sebagai hasil imajinasi tentang budaya atau bangsa. Soal 'kembali ke Bandung', pada kesempatan ini, adalah undangan untuk menyadari kembali hal soal Yang urban sebagai urusan untuk mengenal dan memahami pengalaman menjadi manusia (personal) yang khas dalam sebuah lingkungan budaya tertentu.***

Daftar Seniman:
Abay D. Subarna
Aceng Arief
A.D. Pirous
Affandi
Ahadiat Joedawinata
Ahmad Sadali
Angkama Setjadipradja
But Muchtar
Chandra Johan
Chusin Setiadikara
Erna Garnasih Pirous
F. Widayanto
G. Sidharta Soegijo
Haryadi Suadi
Hendra Gunawan
Herry Dim
Heyi Ma’mun
Jeihan Sukmantoro
Kaboel Suadi
Kartono Yudhokusumo
Krisna Murti
Mamannoor
Mochtar Apin
Nyoman Tusan
Popo Iskandar
Redha Sorana
Rini Chairin Hayati
Rita Widagdo
Samsudin Hardjakusumah
Setiawan Sabana
Srihadi Sudarsono
Sudjoko
Sunaryo
T. Sutanto
Tatang Ganar
Tisna Sanjaya
Tohny Joesoef
Umi Dachlan
Yusuf Affendi Djalari
Wiyoso Yudoseputro