logo

Untuk Kurangi Korban Bencana, Indonesia Masuk Kemitraan Prediksi Cuaca-Iklim Asia Tenggara

Untuk Kurangi Korban Bencana, Indonesia Masuk Kemitraan Prediksi Cuaca-Iklim Asia Tenggara

21 Juni 2018 17:36 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Indonesia kini bergabung dalam kemitraan Jasa Ilmu cuaca dan Iklim Asia Tenggara atau Weather and Climate Science for Service Partnership (WCSSP Southeast Asia) bersama mitra-mitra dari  Malaysia dan Filipina serta dukungan dari pemerintah Inggris

Indonesia merupakan "supermarket" bencana, salah satunya bencana hirometeorologi seperti banjir dan longsor, karena itu diharapkan dengan bergabung dalam kemitraan Jasa Ilmu Cuaca dan Iklim Asia Tenggara, kualitas informasi yang diberikan BMKG bisa lebih baik lagi.

Kemitraan ini bermanfaat untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait dampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim, mengingat Indonesia  rawan bencana alam. Dan terkait itu juga Indonesis memiliki pengalaman dan teknologi dalam memberikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim kepada masyarakat. 

"Bergabungnya Indonesia dalam kemitraan Jasa Ilmu cuaca dan Iklim Asia Tenggara (WCSSP-SEA)  diharapkan dapat meningkatkan kemampuan untuk memahami, memprediksi, dan menyiapkan langkah-langkah pengurangan resiko bencana alam," kata  Deputi Bidang Klimatologi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Herizal M.Si di Jakarta, Kamis (21/6/2018).

Herizal menyebutkan, dalam kemitraan ini, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan bekerja sama dengan para ilmuwan dari negara-negara peserta lainnya untuk memahami penyebab-penyebab cuaca ekstrem, meningkatkan  ketepatan dan keandalan model-model cuaca dan iklim, juga memperbaiki sistem-sistem peringatan dini.

"Dengan informasi yang lebih baik kita harapkan bisa mengurangi korban-korban dari bencana hidrometeorologi," kata Herizal menambahkan.

Bentuk kerja sama dalam kemitraan tersebut antara lain dalam bidang pemodelan iklim dan cuaca.

    Resiko Terus Bertambah

Setiap tahun jutaan orang Indonesia terkena dampak cuaca ekstrem.  Resiko-resiko  yang dihadapi terus bertambah akibat perubahan iklim.

 "Oleh karena itu, kita mendukung kemitraan  Jasa Ilmu Cuaca dan Iklim Asia Tenggara (WCSSP-SEA) guna melakukan kerja sama dan memadukan keahlian-keahlian yang dimiliki,  kita dapat membantu memperkirakan dan menangani dampak-dampak perubahan cuaca dan iklim,“ ujar Rob Fenn, Wakil Duta Besar Inggris. 

Kemitraan Jasa Ilmu cuaca dan iklim Asia Tenggara (WCSSP-SEA) ini merupakan salah satu kegiatan yang didukung  Dana Newton sebesar 735 juta poundsterling yang dialokasikan hingga tahun 2021 dari pemerintah Inggris ditambah sumber-sumber yang setara dari negara-negara mitra. 

Aktivitas kerja sama Newton Fund/ dana Newton di Indonesia sudah dimulai tahun 2014 yang merupakan MoU antara pemerintah Inggris dan Indonesia yang telah disepakati tahun 2015.  

“Tujuan dana ini untuk mendukung perkembangaan ekonomi, kesejahteraan sosial dan perkembangan ekonimi  dan mengembangkan kapsitas penelitian dan inovasi yang dilakukan 17 negara mitra, termasuk Indonesia, seperti Kementerian Ristek dan Teknologi Pendidikan Tinggi, LIPI, dan BMKG  ’ ujar Rob Fenn.

‘Saya senang Indonesia turut serta dalam kemitraan di kawasan ini dan membawa keahlian, pengetahuan dan sumber-sumber yang dimiliki bersama para ilmuwan dari Inggris, Malaysia dan Filipina,” kata Rob Fenn. 

Lebih lanjut, ia menuturkan dengan dukungan dana dari Dana Newton Pemerintah Inggris, Program Jasa Ilmu Cuaca dan Iklim (WCSSP) Asia  Tenggara mengembangkan suatu jaringan kemitraan  internasional  yang dirancang untuk menangani tantangan global, yaitu  perubahan iklim.  

 Ia pun menuturkan bahwa kerja.sama ini dapat sebagai langkah saling tukar infrormasi dan ilmu pengetahuan yang mumpuni terkait cuaca dan iklim sehingga dapat mengurangi resiko dampak cuaca ekstrim. 

“Kemitraan Jasa  Cuaca dan iklim Asia Tenggara (WCSSP) antara Inggris, Malaysia dan Filipina ini dimulai pada tahun 2017 dan saat ini Indonesia terlibat  sebagai negara anggota keempat. Kemitraan ini  antara Met Office U. K-Inggris dengan BMKG-Indonesia ini akan berlangsung selama tiga tahun,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Dr. Urip Haryoko. M. S.i

BMKG juga senang dapat menjadi tuan rumah untuk pertemuan ini, dimana ilmuwan-ilmuwan yang bergabung dalam kemitraan WCSSP-SEA akan berbagi ilmu dan keahliannya. Untuk itu, kami menantikan kolaborasi kedepannya.” kata Urip. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto