logo

Presiden Ikut Berduka, Santuni Keluarga Korban Meninggal Tragedi Toba

Presiden Ikut Berduka, Santuni Keluarga Korban Meninggal Tragedi Toba

Foto: Twitter
21 Juni 2018 14:19 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaungkapkan keprihatinan mendalam, di tengah kegembiraan usai merayakan Hari Raya Idul Fitri, berita duka datang dari Sumatra Utara. Kapal Motor Sinar Bangun mengalami musibah saat berlayar di perairan Danau Toba, Senin (18/6/2018) sore lalu. 

Melalui akun pribadi Twitternya, @jokowi, Presiden Jokowi menyampaikan hal-hal sebagai berikut: 

"Saya telah mendapatkan laporan dari Menteri Perhubungan dan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kepala Badan SAR Nasional) mengenai musibah kapal motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba.

Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia, kita menyampaikan duka cita yang mendalam atas korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut.

Terhadap korban yang hilang saya minta Basarnas, TNI, Polri, dan BNPB untuk secepatnya segera menemukan dan menyelamatkan korban.

Musibah ini merupakan pelajaran bagi kita semua untuk selalu hati-hati dan waspada. Bagi semua pemilik kapal patuhi semua peraturan yang ada, utamakan keselamatan penumpang, serta ikuti petunjuk dan arahan dari BMKG mengenai prakiraan dan potensi adanya cuaca buruk.

Saya juga minta kepada Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan di daerah untuk selalu rutin melakukan pengecekan berkala demi keamanan dan keselamatan penumpang.

Pemerintah akan memberikan santunan kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan menjamin biaya perawatan untuk yang memerlukan perawatan.

Saya minta kasus seperti ini jangan sampai terulang lagi dan saya telah memerintahkan kepada Menteri Perhubungan untuk mengevaluasi seluruh standar keselamatan bagi angkutan penyeberangan."

Sementara itu pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, terus dilakukan. Hingga saat ini sudah 21 korban yang ditemukan. 

Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi mengatakan, tercatat 192 orang yang dilaporkan hilang. Jumlah itu merupakan laporan masyarakat yang menyatakan anggota keluarganya hilang, tapi belum tentu ikut dalam kapal naas tersebut. 

Sebanyak 70 personel Basarnas telah dikerahkan dalam pencarian korban. Termasuk dengan mengerahkan dua robot yang mampu menyelam dalam air. Hal ini karena pencarian tim yang difokuskan di dalam air menemui berbagai kendala, seperti kedalaman danau dan minimnya cahaya. 

"Ini menyebabkan tim harus ditunjang alat remotely operated underwater vehicle (ROV) portable atau robot penyelam," kata M Syaugi di Kementerian Perhubungan, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (20/6/2018).

Basarnas menerjunkan Basarnas special group, yang memiliki kemampuan darat, laut, dan udara. Namun, tim memang terkendala hambatan terutama terkait kedalaman danau yang mencapai 300-500 meter.

"Nggak gampang itu, di dalam itu dingin. Kemudian kita gunakan remote under vehicle (remotely operated underwater vehicle) untuk melihat situasi di dalam. Karena, di dalam itu gelap, sampai bayangkan, kita pake senter aja 5 meter (jarak pandangnya)," tuturnya.

Di lain pihak, TNI Angkatan Laut mengirimkan 24 personel Marinir dipimpin Lettu Mar Lontung Rumapea dengan membawa 1 unit ambulans, 6 set alat selam, dan 19 swimfest. Pasukan ini berangkat dari Yonmarhanlan I Belawan, Selasa (19/6/2018)  dan langsung ikut mencari penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba. 

"Jumlah Tim 24 personel terdiri 9 personel Yonmarhanlan I Belawan, 8 personel Denma Lantamal I Belawan, 5 personel Rumkit TNI AL Belawan dan 2 pers Pomal Lantamal I Belawan," kata Kadispen Kormar Letkol Mar Ali Sumbogo dalam keterangan pers, Rabu (20/6/2018) seperti dikutip dari Detik.com.

Jumlah Korban Masih Simpang Siur

Hingga hari ini, tercatat  21 penumpang KM Sinar Bangun, yang tenggelam di Danau Toba, berhasil ditemukan. Tiga dari penumpang itu ditemukan dalam kondisi tewas. 

Dari laporan CNNIndonesia, Rabu (20/6/2018), dua korban berjenis kelamin perempuan ditemukan di pinggir pantai sekitar Danau Toba pada pagi ini. Dua korban ini langsung dibawa ke RS Pematang Raya untuk menjalani identifikasi.

"Sampai dengan pagi ini pukul 07.00 WIB dari tim SAR bahwa korban selamat 18 orang, meninggal dunia 3 orang," kata Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso di Posko Mudik Nasional Kemenhub.

Ketiga korban tewas yang ditemukan seluruhnya merupakan wanita. Salah satunya berhasil diidentifikasi bernama Sariyanti, warga Kelurahan Binjai Selatan. Sariyanti salah satu dari dua korban meninggal yang ditemukan tim SAR berada di pinggir pantai sekitar Danau Toba dan diidentifikasi di RS Pematang Raya.

Sejauh ini, jumlah korban KM Sinar Bangun masih simpang siur. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi mengatakan pihaknya menerima ada 192 orang yang melapor keluarganya hilang.

"Kalau saya dengar dari posko, sampai dengan tadi siang ini yang lapor keluarganya yang hilang itu 192. Lapor nih, di Pelabuhan Tigaras, Danau Toba," kata Syaugi.

Lebih jauh Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengatakan korban hilang penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam berjumlah 186. Sebanyak 94 orang teridentifikasi, sedangkan 92 orang belum diketahui identitasnya.

"Hilang sudah teridentifikasi 94 orang. Yang belum teridentifikasi 92 orang. Itu data terakhir yang diterima tim SAR," kata Agus.

KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, kelebihan kapasitas. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam jumpa pers di kantor Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (20/6/2018) mengatakan, kapal tersebut hanya berkapasitas 43 penumpang.

Namun, dari kesaksian korban selamat dan berdasarkan 100 lebih laporan dari pihak keluarga korban yang merasa kehilangan anggota keluarganya, kapal tersebut dimuati lebih banyak penumpang dari kapasitas sebenarnya. 

Oleh sebab itu, pemerintah mengambil langkah khusus terkait pengoperasian kapal penumpang di Danau Toba. "Pemerintah akan melakukan audit keselamatan terhadap semua kapal yang beroperasi di Danau Toba pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya," kata Budi Karya menegaskan. ***

Editor : Pudja Rukmana