logo

Mukjizat Dalam Berpikir Besar Dan Kreatif

Mukjizat Dalam Berpikir Besar Dan Kreatif

13 Juni 2018 20:56 WIB

SuaraKarya.id - Oleh : Dr Mulyono D Prawiro

Mengapa banyak orang yang berhasil dalam hidupnya seolah-olah ada mukjizat yang terjadi dalam dirinya, dan bahkan telah beredar ribuan buku yang menulis tentang kisah sukses seseorang dalam menjalankan karier dan mengarungi kehidupan ini. Bagaimana mereka mendapatkan keberhasilan dengan begitu gemilang, sehingga dapat mengundang rasa keingintahuan kita.

Dari sekian banyak alternatif jawaban, di antaranya bisa kita temukan, sebagai contoh ada seorang direktur pemasaran dalam sebuah perusahaan memperlihatkan keberhasilannya, mereka mengatakan bahwa keberhasilan itu ditentukan bukan oleh besarnya otak seseorang, melainkan besarnya cara berpikir seseorang. Ini apa artinya, ini adalah merupakan gagasan yang membangkitkan minat dan pikiran yang tertanam dalam benak seseorang.

Bila kita semakin banyak mengajak orang lain untuk berbicara, maka semakin jelas bagi kita untuk menyelidiki apa sebenarnya di balik keberhasilannya, semakin jelas pula jawabannya. Banyak riwayat kasus yang membuktikan, bahwa besarnya rekening bank, besarnya rekening kebahagiaan pribadi seseorang, dan besarnya rekening kepuasan umum seseorang, ditentukan oleh besarnya cara berpikir seseorang.

Di sini ada sebuah mukjizat dalam berpikir besar, demikian diungkapkan seorang penulis terkenal di dunia David J Schwartz PhD dalam bukunya berjudul “The Magic of Thingking Big” atau Berpikir dan Berjiwa Besar. Ada pengalaman yang menarik dari sejumlah orang muda, mereka benar-benar mempunyai keyakinan yang luar biasa dan percaya, bahwa mereka akan berhasil. Mereka mendekati pekerjaan dengan sikap dan berkata dalam hatinya, “saya akan mencapai puncak”. Dengan adanya suatu kepercayaan yang besar, maka mereka pun bisa mencapai puncak. Percaya bahwa mereka akan berhasil, dan itu bukannya sesuatu yang tidak mungkin, mereka belajar dan mengamati sikap orang-orang yang sudah berhasil.

Jadi, bila kita ingin berhasil seperti orang-orang yang telah berhasil, maka kita perlu belajar bagaimana orang sukses itu mendekati masalah dan mengambil keputusan. Dengan mengamati sikap orang yang berhasil, kita pun bisa juga berhasil. Kalau kita mempunyai kepercayaan yang kuat dan dapat menggerakan pikiran kita untuk mencari jalan dan sarana serta dapat menemukan cara melakukannya, maka kita akan percaya bahwa kita dapat berhasil. Dengan keberhasilan itu sudah barang tentu orang lain akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada kita.

Di samping itu kepercayaan akan hasil yang besar adalah kekuatan penggerak, daya di belakang buku besar, drama besar, penemuan ilmiah yang besar. Kepercayaan akan keberhasilan ada di balik semua bisnis yang berhasil, perusahaan yang berhasil, dan organisasi politik yang berhasil, kepercayaan akan keberhasilan adalah satu unsur dasar yang sepenuhnya esensial pada diri orang-orang yang berhasil. Disamping ada sebuah keberhasilan, tentunya juga ada sebuah kegagalan. Ada sebuah kekuatan negatif yang ada dalam diri manusia yang biasa disebut dengan “kesangsian”.

Ketika pikiran kita mulai tidak percaya atau ragu, maka pikiran itu akan menarik “dalih” untuk menyokong ketidakpercayaan. Adanya keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil, itu merupakan sebuah pertanggungjawaban dari adanya sebagian besar kegagalan.

Nah, di sini juga bisa kita ambil maknanya, bahwa bila kita berpikir ragu dan mulai tidak percaya akan keberhasilan, maka itu akan membawa kegagalan, sebaliknya bila kita mempunyai keyakinan dan percaya serta berpikir menang, maka kita percaya akan membawa keberhasilan. Kalau begitu dalam waktu yang tidak terlalu lama, dalam hati kita bisa memutuskan untuk tidak menjadi orang kelas dua, kelas tiga atau kelas empat, tetapi orang pada posisi kelas pertama, dan akan terus berusaha menghargai diri sendiri dan tidak meremehkannya.

Di sini akan muncul rasa percaya diri yang kuat, dan kemudian akan timbul kesadaran, bahwa tidak seorang pun akan percaya kepada kita, sebelum kita sendiri percaya pada diri sendiri. Dengan percaya kepada diri sendiri, itu artinya bahwa segala sesuatu yang baik pasti mulai terjadi. Bila suatu ketika kita datang ke seorang psikolog umpamanya, maka biasanya psikolog tersebut akan memberitahukan kepada kita bahwa kita dapat mengubah sikap kita dengan cara mengubah tindakan fisik kita.

Contohnya, Anda ingin benar-benar tersenyum jika Anda membuat diri Anda tersenyum, dan Anda merasa lebih unggul jika Anda membuat diri Anda berdiri tegak ketimbang jika Anda membungkuk. Dari segi negatif, cemberutlah dan Anda pun akan merasa lebih ingin cemberut. Jadi dapat disimpulkan bahwa gerakan (motion) dapat mengubah emosi.

Orang-orang yang malu-malu memperkenalkan diri dapat menggantikan sikap malu-malu tersebut dengan tiga tindakah secara bersama-sama. Pertama, ulurkan dan raih tangan lawan bicara dan genggam dengan hangat. Kedua, lihat langsung kearah orang yang bersangkutan. Ketiga, katakan kepadanya “saya senang bertemu dengan Anda”, demikian resep dari seorang psikolog besar Dr Goerge W. Crane, dalam bukunya yang sangat terkenal berjudul “Applied Psichology” (Chicago:Hopkins Syndicate, Inc., 1950).

Di samping itu,  dia juga mengingatkan bahwa gerakan (motion) adalah pendahuluan emosi, Anda tidak dapat mengendalikan yang belakangan secara langsung, tetapi hanya melalui pilihan gerakan atau tindakan Anda. Mengerjakan sesuatu yang benar dapat membuat hati nurani merasa puas, dan ini merupakan pengembangan percaya diri yang tinggi, sebaliknya bila kita melakukan yang kita tahu itu salah, maka ada minimal dua hal terjadi pada diri kita. Pertama, kita merasa bersalah, dan rasa bersalah ini akan menggerogoti diri kita. Kedua, orang lain cepat atau lambat akan mengetahuinya dan kita akan kehilangan kepercayaan dari mereka. Mengerjakan sesuatu yang benar dan memeliharanya itu sangat penting untuk menjaga kepercayaan diri, dan ini juga merupakan cara berpikir yang positif menuju sukses, seperti yang pernah penulis singgung di artikel sebelumnya.

Berpikir kreatif tidak hanya terbatas pada pekerjaan tertentu, dan juga bukan hanya untuk orang-orang super pandai, tetapi tiap langkah maju dalam menaklukan sesuatu itu adalah merupakan cara berpikir kreatif. Kemudian apa sebenarnya yang dimaksud dengan berpikir kreatif? Disini kita ambil contoh, bahwa sebuah keluarga yang berpenghasilan rendah, mereka menyusun rencana untuk mengirim anaknya ke universitas. Nah, di sinilah kita bisa melihat bahwa keluarga ini berkipir kreatif. Contoh berikutnya, sebuah keluarga mempunyai rumah yang paling tidak menarik di tempat tertentu kemudian merubahnya menjadi tempat yang indah di lingkungannya, ini juga merupakan keluarga yang berpikir kreatif. Kalau begitu apa sebenarnya berpikir kreatif itu? 

Menurut David J Schwartz, berpikir kreatif adalah menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Untuk itu mari kita lihat apa yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan dan menguatkan kemampuan kita dalam berpikir kreatif. Langkah pertama adalah “percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan”. Ini merupakan suatu prinsip. Dalam melakukan apapun, kita harus lebih dahulu percaya bahwa hal itu dapat kita lakukan, dan kemudian percaya bahwa sesuatu itu dapat dilakukan membuat pikiran bergerak untuk mencari cara untuk melaksanakannya.

(Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)