logo

Pascareformasi, Demokrasi Stabil Dalam Kondisi Stagnan

 Pascareformasi,  Demokrasi Stabil Dalam Kondisi Stagnan

Para nara sumber seminar di LIPI. (foto, ones)
16 Mei 2018 22:43 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dua dekade setelah reformasi kondisi demokrasi bisa dikatakan stabil. Namun, dilemanya pada saat yang sama kualitasnya stagnan.

Pernyataan tersebut dikemukakan Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Syamsuddin Haris MSi Haris, dalam acara Seminar Nasional 20 Tahun Reformasi bertajuk “2 Dekade Reformasi: Quo Vadis Politik Yang Bermanfaat” di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Dikemukakannya, demokrasi stagnan ditandai dengan tata kelola pemerintahan yang tidak lebih baik. "Korupsi masih merajalela, dan konflik sektarian," ujarnya.

Menurut dia demokrasi mengalami stagnansi dan cenderung terperangkap ke dalam demokrasi elektoral yang prosedural. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi seperti itu pasca-kepemimpinan Presiden Soeharto.

Antara lain, faktor struktural warisan kolonial dan warisan rejim otoriter, eksploitasi ekonomi dari segelintir kekuatan kapitalis, pola dan setting transisi demokrasi tidak menjanjikan, kegagalan konsolidasi kekuatan politik sipil pada periode kritis 1998-1999, reformasi institusi yang cenderung inkonsisten dan tidak koheren serta tambal sulam dan ambigu.

Di bagian lain, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Dr Firman Noor MA menyatakan, dalam 20 tahun Era Reformasi, proses dan upaya-upaya pembenahan menuju bangsa yang bermartabat telah memberi beragam dampak.

Diakuinya, berbagai kemajuan sudah demikian terasa, seperti kebebasan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, supremasi sipil atas militer, serta desentralisasi yang telah memberikan kesempatan luas bagi daerah dalam membangun politik di aras lokal.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan demokrasi saat ini justru dibajak oleh segelintir orang, yang mengukuhkan sendi-sendi oligarki. Sebagaimana yang terjadi di masa-masa lampau.

Penegakan hukum masih terasa tebang pilih dan tidak tuntas, yang kerap menimbulkan tanda tanya besar. Korupsi pun masih menggejala cukup masif seolah tiada henti.

Begitu pula dengan pengangguran dan pelemahan daya beli masyarakat, yang kini masih terus terasa, terutama di pedesaan. Masalah keamanan dan potensi konflik serta pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masih juga terjadi.

Sementara pengaruh Indonesia di tingkat regional maupun global, ujarnya, nampak berbanding terbalik dengan potensi besar yang dimiliki. Sehingga, tertinggal dengan negara Asia berpengaruh seperti Cina maupun India.

"Kondisi demikian menggambarkan masih adanya gap antara cita-cita atau agenda. Dari upaya-upaya reformatif yang bertujuan menegakkan martabat kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan beragam praktek dan kenyataan yang justru bertolak belakang dengan cita-cita dan agenda tersebut," paparnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto