logo

Menperin Nilai Iklim Investasi Masih Kondusif

Menperin Nilai Iklim Investasi Masih Kondusif

Menperin Airlangga Hartarto. (suarakarya.id/laksito)
16 Mei 2018 20:19 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor industri masih dalam kondisi kondusif meski terjadi serangkaian peristiwa teror di Indonesia.

"Tentu bagi investasi kita perlu kepastian hukum dan keamanan. Tapi setelah kita bicara dengan sektor, seluruhnya masih confident. Karena kita tidak boleh terkena imbas ancaman negatif," ujar Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Airlangga mengaku, investor masih percaya dengan kondisi keamanan di Indonesia. Menurutnya, saat ini investor lebih banyak berharap mengenai fasilitas dan kemudahan untuk bisa mendorong pertumbuhan industri.

Senada dengan Airlangga, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis mengaku isu terorisme belum mengganggu iklim investasi di Indonesia.

"Beberapa perusahaan datang ke BKPM tidak banyak yang membahas itu karena mereka yakin khususnya kepolisian bisa menangani. Meski begitu ada yang concern juga mempertanyakan tapi kita sampaikan sudah ditangani oleh kepolisian," ujar Azhar.

Sebelumnya, Bank Indonesia juga menegaskan, aksi teroris hanya sedikit berpengaruh terhadap perekonomian. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dampak aksi teroris terhadap nilai tukar rupiah sangat kecil. Meski secara umum memang ada sedikit dampak ekonomi jika dunia internasional melihat adanya gangguan keamanan di Indonesia.

Tapi berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, pengaruh dari insiden teror seperti pada Ahad (13/5/2018) hanya minim. "Serangan bom kemarin hanya memberikan sedikit pengaruh kepada nilai tukar rupiah," ujar Agus, Senin (15/5/2018).

Agus mengatakan, sejauh ini fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan baik. Dia meminta agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang menghadapi volatilitas nilai tukar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

"BI dipastikan akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kalau pun sudah menyentuh Rp14 ribu per dolar AS, itu sesuatu yang kalau secara presentasi kecil, dan negara lain ada yang lebih buruk dari negara kita," kata Agus. ***