logo

Kota Tua Ampenan, Sisa Kejayaan Pelabuhan Terbesar Masa Lalu

Kota Tua Ampenan, Sisa Kejayaan Pelabuhan Terbesar Masa Lalu

Bangunan tua masih dipertahankan di Kota Tua Ampenan, Mataram
16 Mei 2018 17:27 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - MATARAM: Bangunan-bangunan tua, menjadi saksi masa kejayaan Kota Tua Ampenan di masa lampau. Kota Tua Ampenan yang terletak di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), memang pernah mengalami masa kejayaan terutama periode 1948-1950 karena menjadi pelabuhan terbesar untuk perdagangan dan bisnis di NTB. Di Kota Ampenan terdapat pelabuhan yang dibangun Belanda sekitar tahun 1924.

Pelabuhan tersebut untuk menghubungkan Pulau Lombok dengan daerah lain. Sebagai kota pelabuhan, maka tidak heran jika di kawasan tersebut berkembang pesat dan muncul perkampungan yang berasal dari berbagai etnis menyatu dengan suku Sasak. Seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Tionghoa, serta Kampung Bugis.

Tetapi kejayaan Pelabuhan Ampenan hanya bertahan hingga tahun 1970-an, karena pelabuhan tersebut ditutup pada tahun 1973 dan dipindah ke Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Saat ini Kota Tua Ampenan dikembangkan menjadi destinasi wisata di Kota Mataram. Tapi sayangnya, pengembangan pariwisata di kawasan tersebut belum maksimal. Sarana dan prasarana penunjang pariwisata belum dibangun optimal, bangunan-bangunan kuno yang masih tersisa juga kurang terpelihara.

"Dulu di pelabuhan ini ada kapal feri besar namanya Kuda Putih. Ramai sekali waktu itu, tidak hanya pedagang tapi juga orang mau naik haji lewat pelabuhan sini," kenang salah satu tetua Kampung Melayu di Kota Tua Ampenan, H Kemas Marzuki (64), Selasa (15/5/2018).

Masih kuat dalam ingatan Kemas, keramaian di pelabuhan tersebut saat dirinya masih berusia belasan tahun. Banyak warga di kampung itu mengandalkan hidupnya mulai dari berdagang, buruh pelabuhan, dan nelayan.

"Tapi setelah ditutup, sekarang tidak ramai lagi. Dulu saya jadi buruh pelabuhan setelah ditutup ya cari kerja lain jadi sopir. Memang kalau disini saat musim barat bulan Desember, angin dan ombak besar jadi kadang tutup," ujarnya.

Meskipun telah dijadikan salah satu obyek wisata, tapi pengembangan kawasan tersebut belum maksimal. Kabid Destinasi dan Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Kota Mataram, Baiq Nurhayati, mengatakan saat ini pemerintah daerah setempat memang tengah berupaya menghidupkan kembali Kota Tua Ampenan.

"Revitalisasi akan dilakukan untuk mengembangkan kawasan Ampenan sebagai destinasi wisata," katanya dalam diskusi dengan rombongan Pemerintah Kota Solo saat studi banding ke Kota Tua Ampenan.

Beberapa infrastruktur sudah dibangun seperti tanggul, akses jalan masuk, serta area parkir. Masalah minimnya anggaran juga menjadi kendala pengembangan kawasan tersebut.

"Kami masih terus berupaya merevitalisasi Ampenan tapi tetap mempertahankan bangunan dan masyarakatnya yang berasal dari berbagai etnis," ujarnya. ***

Editor : Laksito Adi Darmono