logo

Bonek Tewas, Aremania Mengamuk, Dan PSSI Reformasi

Bonek Tewas, Aremania Mengamuk, Dan PSSI Reformasi

16 April 2018 11:35 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Sedih, pedih dan gemas. Perasaan ini bercampur aduk ketika mendengar dan membaca berita tentang tragedi sepakbola Indonesia yang terjadi pada akhir pekan lalu. Seorang Bonek (Bondho Nekat), sebutan untuk suporter fanatik Persebaya Surabaya tewas. Kemudian, Aremania, pendukung militan klub Arema FC Malang mengamuk menyerbu ke tengah lapangan Stadion Kanjuruhan.

M, anggota Bonek tewas setelah kendaraan yang ditumpanginya bersama anggota Bonek lainnya dilempari warga   saat melintas di Kota Solo, Jumat (13/4/2018) tengah malam. Puluhan pemuda mencegat rombongan Bonek yang lewat dari arah Kartasura  setelah pulang dari menonton pertandingan antara PS Tira dan Persebaya di Stadion Sultan Agung, Bantul Yogyakarta. Aksi saling lempar batu itu terjadi di sekitar pertigaan Kleco, tepatnya di depan Pasar Kleco, Jalan Slamet Riyadi.

Menurut penuturan rekannya yang selamat, M tewas karena terjatuh dari truk yang ditumpanginya. Dia kemudian dikeroyok oleh warga hingga tewas. Sungguh menyedihkan karena menurut cerita keluarga dan koleganya, M sebenarnya anak yang baik, pendiam dan penurut.

Selain itu, M sebenarnya sudah dilarang oleh orangtuanya untuk pergi menonton pertandingan tersebut. Namun dia tetap nekat pergi dengan janji, ini merupakan kali yang terakhir melakukan aksi nekat. Ternyata memang itu yang terjadi.

Penyelesaian kasus itu belum selesai karena masih simpang siur penanganannya. Belum kering pula tanah di pusara M. Tahu-tahu, muncul lagi aksi memalukan di Stadion Stadion Kanjuruhan, Malang. Ratusan korban berjatuhan akibat kericuhan suporter pada laga Arema FC versus Persib Bandung dalam pertandingan lanjutan pekan ke-4 Liga 1, Minggu (15/4/2018) malam.

Kericuhan tersebut dipicu oleh kekecewaan suporter Aremania kepada wasit Handri Kristanto. Puncaknya ketika laga akan segera berakhir, pada menit tambahan babak kedua. Ratusan suporter yang berada di tribun ekonomi bagian timur menaiki pagar dan masuk ke lapangan. Wasit dan para pemain langsung diamankan untuk menghindari amukan suporter.

Suasana terus memanas. Suporter di tribun bagian selatan juga ikut turun. Kemudian suporter di tribun bagian utara ikut menyusul turun memenuhi lapangan hijau. Aparat keamanan terlihat kewalahan menghalau para suporter yang berangsur memenuhi lapangan.

Kejadian itu menimbulkan kegemasan karena menodai sikap fair play. Ada yang belum bisa menerima secara lapang dada hasil sebuah pertandingan. Seaneh dan sepahit apa pun keputusan wasit seharusnya tetap diterima dengan kepala dingin meski hati panas. Kalah menang, apalagi seri, sudah biasa dalam permainan.

Bonek, Aremania, Persebaya, Arema Malang, Persib Bandung, PS Tira, dan kompetisi Liga 1  adalah urusan sepakbola. Ini menjadi tanggung jawab dari induk organisasi sepakbola Indonesia, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Pusat beserta jajarannya hingga ke tingkat daerah. Masalah suporter bentrok, rusuh hingga menelan korban jiwa seharunya sudah bisa ditekan karena ini bukan cerita baru lagi dalam persepakbolaan nasional.

Terulangnya kembali tragedi itu mencerminkan kepengurusan PSSI hasil reformasi yang kelahirannya tidak terlepas dari campur tangan pemerintah tidak mampu mengubah kondisi. Dari sini PSSI belum mampu menerapkan aturan yang tegas terhadap klub atau pelaku sepakbola lainnya dalam mengatasi kerusuhan yang sampai merengut nyawa. Sudah seharusnya PSSI bertindak tegas tanpa pandang bulu dengan memberi sanksi pencoretan klub atau pelaku sepakbola lainnhya dari kegiatan sepakbola Indonesia bila tidak mampu menangani kebrutalan suporternya.

Kompetisi yang sangat dibutuhkan untuk mengangkat prestasi sepakbola Indonesia bukan hanya sekadar terselenggara. Diperlukan aturan yang tegas dan transparan dalam mengatur kompetisi itu sehingga bisa berjalan dengan teratur, tenang dan fair play. Tanpa itu kompetisi hanya akan menjadi ajang adu kekuatan, kebringasan dan kenekatan. Buah dari kompetisi seperti ini jelas akan jauh dari prestasi.

Kemudian soal kerusuhan dan hilangnya nyawa manusia walaupun berkaitan dengan sepakbola seharusnya sudah menjadi urusan ranah hukum. Dalam hal ini menjadi tanggung jawab dari pihak keamanan dan aparat hukum. Dalam penegakan hukum ini pun belum ada ketegasan. Tidak mengherankan bila kesimpangsiuran yang muncul sehingga tidak membuat jera para pelaku yang berniat dan berbuat keonaran di ranah olahraga.

Sudah saatnya PSSI bersama para petugas keamanan dan aparat hukum duduk satu meja. Perlu dicarikan jalan ke luar yang tegas untuk mengindari terjadinya kembali tragedi di ranah sepak bola. Reformasi PSSI bukan hanya sekadar mengganti Ketua Umum dan pengurus PSSI namun bagimana membuat sepak bola Indonesia lebih baik dan maju dari kepengurusan yang didongkel. Tanpa itu, janji reformasi sepak bola hanya tinggal janji. Seperti janji dalam kampanye. ***  

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id dan Ketua Harian Siwo PWI Pusat, e-mail: aagwaa@yahoo.com

Editor : Gungde Ariwangsa SH