logo

Bobol Rekening Orang Hingga Ratusan Juta, Kelompok Peretas Digulung Tim Cyber Polda

Bobol Rekening Orang Hingga Ratusan Juta,  Kelompok Peretas Digulung Tim Cyber Polda

13 Maret 2018 17:04 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kelompok peretas system elektronik website (hacker), diringkus tim Cyber Crime Polda Metro Jaya. Kelompok ini mampu membobol Rp 200 juta dalam satu kali  transaksi 

“Tiga tersangka anggota komplotan masih berusia muda, yaitu NA, KPS dan ATP berusua sekitar 21 tahun. Mereka sehari-hari kuliah, ada yang semester enam, semester empat" kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda, Selasa (13/3/2018)

Ketiga mahasiswa ini ditangkap di Surabaya, pada Minggu (11/3/2018).

Modus operandi, kata Argo yang didampingi Kasubdit Cyber AKBP Roberto Pasaribu, kelompok ini  malakukan hack terhadap sistem elektronik korban dan meminta bayaran melalui akun paypal atau akun bitcoin. 

Setelah berhasil meretas  sistem sebuah situs, salah satu anggota kelompok mengirimkan email kepada admin situs tersebut.

 Dalam email tersebut, pelaku menyatakan mempunyai kelemahan situs itu dan bisa memperbaikinya.

Pelaku juga telah mengambil data-data yang berada di situs tersebut.

Namun, untuk memperbaiki dan mengembalikan data-data tersebut, pelaku meminta sejumlah uang.

“Mereka memintanya sebesar Rp 20 sampai Rp 25 juta untuk jasanya. Lalu pembayaran melalui paypal dan bitcoin. Selama beraksi satu tahun, masing-masing pelaku meraup Rp 50 sampai Rp 200 juta,” kata Argo.

Pihak Subbdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda menyebut ketiga pelaku  berafiliasi dalam suatu kelompok yang dinamakan Surabaya Black Hat (SBH).

Pihak Cyber Crime Polda, kata Roberto Pasaribu, mendapat laporan dari Federal Bureau of Investigation (FBI) telah meretas 3.000 web di dalam dan luar negeri di Surabaya.

Menurut Roberto, mereka melakukan hal itu karena motif ekonomi dan ada yang melakukan sudah sebagai profesi.

“Mereka telah melakukan aksi peretasan sejak 2017, pendapatan yang mereka hasilkan berkisar 50 juta sampai 200 juta,” jelas Roberto.

Para tersangka dikenakan pasal 29 ayat (2) jo pasal 45B, pasal 30 jo pasal 46, pasal 32 jo pasal 48 UU RI No.19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI No.11 tahun 2008 tentang ITE (Informasi Transaksi Elektronik)