logo

Status Indonesia, Dari 'Darurat Narkoba' Menjadi 'Bencana Narkoba'?

Status Indonesia, Dari 'Darurat Narkoba' Menjadi 'Bencana Narkoba'?

Sabu berton-ton masuk ke Indonesia. Tak terbayang berapa anak bangsa rusak karenanya. (Ist)
08 Maret 2018 00:00 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: "Indonesia  Darurat Narkoba". Pernyataan ini pernah dilontarkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada Rakernas Pemberantasan Narkoba Februari 2015 di Jakarta. Pernyataan ini cukup beralasan karena berdasarkan data yang diterima, setiap hari ada sekitar  50 orang di Indonesia  meninggal dunia  karena penyalahgunaan narkoba. 

Jika dikalkulasi dalam setahun, tercatat sekitar 18.000 jiwa meninggal dunia. Angka tersebut  belum termasuk 4,2 juta pengguna narkoba yang direhabilitasi dan 1,2 juta pengguna yang tidak dapat direhabilitasi. "Setahun meninggal 18.000 akibat narkotika, coba bayangkan," ucap Jokowi.

Kini, tiga tahun telah berlalu. Indonesia bukan saja menyandang "Darurat Narkoba", melainkan "Bencana Narkoba". Demikian dikatakan  Ketua  Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN), Bob Hasan kepada Suarakarya.id menanggapi makin membanjirnya narkoba dan maraknya artis yang terjerat narkoba. 

"Ini artinya, korban dan peredaran narkoba di Indonesia kian memprihatinkan. Banyak publik figur yang terjerat narkoba. Lebih miris lagi, artis yang terjerat narkoba ternyata pernah menyandang duta anti narkoba, seperti Roro Fitri dan Rizal Djibran. Padahal, banyak anak muda  yang  mengidolakan mereka. Inilah yang dikatakan Bencana Narkoba," kata advokat senior yang sekarang penggiat anti narkoba ini.

Fantastis 

Belum habis  dibuat heran oleh banyaknya korban karena penyalahgunaan narkoba, publik kembali dikejutkan dengan terungkapnya sindikat narkoba internasional yang hendak memasok barang haram ini dalam jumlah fantastis

Diawali dengan  keberhasilan Satgas Merah Putih di Anyer, yang menyita sabu sebanyak satu ton di Pantai  Anyer, 13 Juli 2017. Tim menangkap  empat orang berkewarganegaraan China,  satu orang di antaranya terpaksa ditembak hingga tewas karena melawan. 

Kemudian pada 7 Februari 2018, KRI Sigurot di bawah kendali Gugus Keamanan Laut Armada Bagian Barat (Guskamlabar) TNI AL dalam rangka Operasi Pamtas Indosin (Indonesia-Singapura) 2018 mengaamnkan 41 karung plastik di Kapal MV Sunrise Glory yang berisi 1.019 bungkus sabu seberat 1,3 ton setara dengan nilai Rp 2 triliun.

Disusul pada 20 Februari 2018,  Satgasus Polri dan Bea Cukai mengungkap peredaran gelap narkotika jenis sabu seberat 1,6 ton di Perairan Anambas, Kepulauan Riau. Total keseluruhan yang diungkap 2,9 ton sabu atau hampir 3 ton dalam dua bulan terakhir 2018.  

Apakah pengungkapan dalam jumlah fantastis ini merupakan prestasi ?   Ternyata tidak. Mantan Kepala BNN  Budi Waseso (Buwas) mengungkap, jumlah tersebut hanya sebagian kecil.  Pengungkapan ini, kata jenderal yang akrab disapa Buwas, hanya sebagian kecil dari total narkoba yang diselundupkan ke Indonesia. Atau, tak lebih dari 10 persen dari keseluruhan. 

Setiap tahun, kata Buwas, 250 ton sabu masuk ke Indonesia dari Cina. Informasi masuknya berton-ton sabu ke Indonesia ini berasal dari intelejen Tiongkok, Asean dan  Australia. "Ini bukan omongan saya tapi laporan intelejen,"  kata Buwas.

Malah, sebelum pengiriman oleh Kapal MV Sunrise Glory, aparat telah kecolongan masuknya 5 ton sabu melalui jalur yang sama. Namun, BNN baru mengetahui belakangan. Informasi tersebut selalu diperbaharui setiap waktu berkat kerja sama intelejen yang sudah terbina ini. 

Tingkatkan Sinergitas

Menanggapi fenomena membanjirnya narkoba di Indonesia, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengaku geram dengan upaya penyelundupan berton-ton sabu ke Indonesia. Politisi Partai Golkar yang akrab disapa Bamsoet ini mengatakan narkoba adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak perlu ditoleransi.

"Jika 1 ton sabu-sabu yang diselundupkan ke Batam itu lolos, masyarakat jelas akan menanggung akibat serius. Sebagai pimpinan DPR,  saya berpendapat tidak ada kata lain kecuali sebuah tindakan tegas yang harus dilakukan oleh negara. Yakni, tenggelamkan kapal tersebut dan hukum mati pelakunya,” ujar Bamsoet. 

Bamsoet pun memuji kerja sama jajaran TNI, BNN, Polri dan Direktorat Jenderal Bea Cukai yang telah mengungkap dan menggagalkan penyelundupan ini. Menurut dia, terungkapnya penyelundupan sabu  bernilai triliunan rupiah itu menunjukkan keseriusan dan sinergi berbagai pihak dalam memerangi narkoba. 

“Sinergitas TNI, Polri, BNN dan pelibatan BIN, Bea Cukai dan pihak-pihak terkait lainnya sangat penting untuk mencegah masuknya kembali sabu-sabu dan berbagai jenis narkoba lainnya ke wilayah Indonesia,” ujar mantan ketua Komisi III DPR ini.

Bamsoet menambahkan, penyelundupan sabu besar-besaran ini menjadi bukti bahwa negara kita menjadi pasar utama  sindikat narkoba. Penyelundupan sabu hingga 1 ton jelas bukan jumlah kecil. “Apalagi pengungkapan dalam skala besar ini bukan yang pertama. Artinya, dengan jumlah sebesar itu, sindikat meyakini bahwa barang haram ini pasti terserap pasar dan ini sungguh sangat memprihatinkan,” ujarnya

Pihaknya setuju perlu regulasi khusus untuk meminimalisasi bahaya narkoba di Indonesia. "Bukan hanya memperkuat TPPU (tindak pidana pencucian uang), tetapi juga memperkuat peran dan fungsi aparatur negara serta peralatan mereka agar kemampuan menangkal dan mencegah penyelundupan narkoba semakin efektif," katanya. ***

Editor : B Sadono Priyo