logo

Bamtris: Pilihan Ke Jokowi Sudah Tepat, Apalagi Cawapresnya Kader Golkar

Bamtris: Pilihan Ke Jokowi Sudah Tepat, Apalagi Cawapresnya Kader Golkar

Legislator Golkar Ir Bambang Sutrisno Sunardi (Sofyan/SK.id)
01 Maret 2018 03:48 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - PURWOREJO: Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah hampir pasti kembali melenggang ke panggung Pilpres. Yang paling sulit, siapa yang paling pas untuk  mendampinginya sebagai cawapres.

Yang teranyar dari Populi Center menyebut 52,8 persen pilihan rakyat dikantongi Jokowi untuk bisa memuluskan "kuasanya" jika pilpres diadakan sekarang.

Dari perspektif Legislator Beringin Ir Bambang Sutrisno menyebut, pilihan partainya dengan survei yang telah dirilis untuk mengusung Jokowi lanjutan kepemimpinan nasional tersebut adalah pilihan yang tidak keliru, bahkan sangat tepat.

Ini karena Golkar, kata anggota Komisi X DPR RI, telah melihat, mencermati, mengecek dan membuktikan berbagai prestasi yang dilakoni mantan Gubernur DKI untuk rakyat, hampir merata seluruh nusantara terbukti memberikan kepuasan dan perubahan yang cukup signifikan.

"Sikap Golkar untuk mengusung Pak Jokowi sudah tepat. Bahkan Golkar, menjadi pioner yang akhirnya mengikuti parpol lain merapat dan mendukungnya dalam negeri ini pada Pilpres 2019," kata Bamtris, sapaan akrabnya di sela-sela serah terima bantuan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan nasional di Kabupaten Purworejo, Kamis, (1/3/2018).

Alhamdulillah pilihan Golkar, ucapnya, tidak salah karena pilihan dan keyakinan Golkar ternyata sekarang ikut parpol lain sehingga besar harapan keluarga besar Golkar, meyakini Jokowi akan memimpin Indonesia kembali.

Lalu siapa pasangan yang tepat sebagai pendamping Wali Kota Solo dua periode ini?

Menurut Bamtris, sikap Golkar paling elegan dengan mendukung Jokowi sebagai capres 2019.

"Ini berarti kita wajib dukung siapa yang terpilih sebagai wakilnya yang sudah pasti orang yang cocok untuk bekerja sama membangun bangsa. Bisa bekerja sama dan bisa mengikuti langkah kerja RI 1, "jelas Legislator Senayan Dapil Jateng VI (Kota / Kab. Magelang , Purworejo, Temanggung dan Wonosobo) ini 

Prinsipnya, kata dia, harus bisa menyatu dengan RI I sebagai pilihan Golkar.

"Bisa incumbent sekarang. Tapi pasti kita senang jika ada kader Golkar yang lain yang lebih muda dari Jokowi, smart dan menguasai ekonomi, serta memiliki akses dan pergaulan internasional. Selain juga tegas dan konsisten sebagai orang kedua di pemerintahan. Syukur cawapres tetap muslim," urainya.

Bamtris mengatakan pada pinsipnya pesta politik lima tahunan ini harus bisa ajang pendidikan politik bagi masyarakat luas, di dalam memilih pemimpin yang bertanggung jawab dan amanah. Pemimpin negeri yang benar-benar teruji kualitas dan integritasnya.

Terkait pertimbangan representasi kewilayahan asal cawapres, kader terbaik FKPPI ini berpandangan, mustinya di tingkat nasional tidak perlu dilihat dari mana asal usul cawapres tersebut.

"Visi dan misi yang harus mencakup semua wilayah Bumi Nusantara yang merata dan berkeadilan. Tidak perlu adanya sentimen primordial dan tidak perlu dikotomi pusat dan daerah," jelanya.

Faktor itu, paling penting dalam sebuah pilihan umum sebagai modal.

"Jadi bukan asal memenuhi ambang batas persyaratan saja tetapi sedapat mungkin harus bisa mendapatkan pengaruh yang maksimal untuk memengaruhi voters," katanya.

Waktu memilih pada saat hari pencoblosan nanti, ungkap Bambang, faktor elektoral menggambarkan tingkat keterkenalan dan prestasi calon.

Anggota dewan tiga periode ini mengatakan meskipun Golkar mendapat ujian beberapa kasus akhir-akhir ini pada kadernya tetapi masih lebih banyak kader yang baik dan mumpuni sebagai calon pimpinan nasional yang memiliki komitmen dan taat azas, dalam menjalankan tugasnya.

"Saya yakin jika kader Golkar diberi kesempatan mendampingi sebagai cawapres tentu perlu kita sambut positif, kawal, dan menangkan capres dan cawapres Golkar ini,"tegasnya.

Survei Populi menyebut jika dilakukan pada hari Rabu (29/2/2018) maka suara yang dikembangkan pasangan Jokowi-Airlangga sebesar 54,3 persen.

Karena presidennya sudah sebagai keluarga besar Golkar plus wakilnya juga Golkar, tinggal di bawah dan anggota di akar rumput yang harus selesai di lima tahun kemarin ***