logo

Pelaku Industri Jamu Tradisional Mengeluhkan Regulasi Pemerintah

Pelaku Industri Jamu Tradisional Mengeluhkan Regulasi Pemerintah

Penjual jamu tradisional
13 Februari 2018 22:43 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO : Pelaku industri jamu di sentra jamu Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah mengeluhkan sejumlah regulasi yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. Diantaranya Permenkes No 6 dan 7 tahun 2012 yang masing-masing mengatur tentang izin dan registrasi Obat Tradisional.

"Aturan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait aturan membuat jamu dan peraturan Kemenkes banyak yang tidak bisa kita penuhi," kata salah satu pelaku usaha jamu, Mulyadi, yang juga anggota Koperasi Jamu Indonesia (Kojai), Selasa (13/2/2018).

Aturan yang tidak bisa dipenuhi antara lain harus ada apoteker. Keharusan itu menurut Mulyadi cukup berat karena harus mengeluarkan biaya yang besar. Pihaknya mengaku jika Permenkes tersebut dinilai mengganggu keberlangsungan dan daya saing pengusaha kecil.

"Anggaran yang dibutuhkan cukup besar sehingga memberatkan karena pelaku usaha jamu tradisional rata-rata adalah UMKM," jelasnya lagi.

Mulyadi meminta agar pemerintah seharusnya lebih fokus pada peningkatan UMKM dengan memberlakukan peraturan yang tidak memberatkan. Hal senada juga dikatakan Ketua Kojai, Murtejo pemerintah sudah semestinya memberikan kemudahan izin untuk produk jamu tradisional.

"Seharusnya bisa dari Dinas Kesehatan Kabupaten dahulu, bukan langsung ke BPOM yang terlalu berat," kata Murtejo.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan saat ini pelaku usaha jamu sudah berusaha meningkatkan kualitas dan baku mutu produk jamu. Dengan menggunakan 100 persen bahan alami dan tidak mencampur dengan bahan kimia.

Awal tahun 2018 ini, sejumlah produsen jamu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, mengalami kemunduran. Selain karena aturan pemerintah yang dinilai menyulitkan juga karena kecenderungan masyarakat yang semakin menurun untuk konsumsi jamu.

"Bantuan pemerintah kepada pelaku usaha jamu sangat membantu kami," ujarnya. ***

Editor : Yon Parjiyono