logo

Membludak, Masyarakat Minta Festival KeImigrasian Sering Digelar

Membludak,  Masyarakat  Minta  Festival KeImigrasian  Sering Digelar

Antrian panjang pada Festival Keimigrasian (ist)
22 Januari 2018 00:51 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Imigrasi terus melakukan berbagai terobosan dan inovasi dalam memutus rantai birokrasi pembuatan paspor. Pelayanan berbasis elektronik ditingkatkan untuk mendekatkan tempat pelayanan dengan masyarakat.

Salah satu contohnya, dalam memperingati Hari Bhakti Imigrasi ke 68, telah dilaksanakan Festival Keimigrasian dengan membuka sejumlah loket pelayanan paspor berbasis elektronik di Lapangan Monas Jakarta Pusat. Minggu (21/1/2018).

Acara yang berlangsung sejak pagi pukul 7.00 WIB, mendapat sambutan yang baik dari ribuan masyarakat ibukota dan sekitarnya.

Akibat animo yang tinggi itu, sampai-sampai antrean panjang tak dapat dihindari. Bahkan sampai 09.00 antrean masih mengular. “Walau ngantri, tapi pelayanannya cukup cepat,” ucap Erick warga Tanjung Duren, Jakarta Barat yang ditemui  di lokasi.

Meski demikian masih ada sejumlah orang kecewa karena antrean lama. "Saya mengantri sejak pukul 05.00. dan loket baru dibuka pukul 05.00 WIB. Kalau belum dibuka, harus tunggu di luar Monas,"kata Siska. Pengorbanan Siska tak sia sia, karena akhirnya ia mendapatkan pelayanan yang diinginkan.  

 Ahmad, warga Bekasi yang datang bersama istri dan anaknya. “Saya kan sangat sibuk, jika hari kerja gak punya waktu. Pelayanan ini sangat membantu buat orang seperti saya,” tutur Warga Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Proses pelayanan paspor berbasis elektronik ini, memang sangat cepat karena setelah mengikuti proses sampai foto pemohon tinggal menunggu 7 hari paspornya tinggal diambil di Kantor Imigrasi alamat pemohon.

Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly sempat meninjau dan berdialog dengan warga pemohon paspor di dampingi Dirjen Imigrasi Ronny F. Sompie.

Menurut Ronny F.Sompie, terobosan-terobosan yang dilakukan Ditjen Imigrasi saat ini demi untuk memberikan pelayanan publik yang prima kepada masyarakat. Di samping itu, proses pembuatan paspor berbasis elektronik ini dapat menghilangkan praktek-praktek percaloan.

“Jika masih ada praktek-praktek calo, masyarakat dapat melaporkannya. Pasti akan kami tindaklanjuti,” jelas mantan Kapolda Bali ini. 

Editor : B Sadono Priyo