logo

Petani Buleleng Terapkan Teknologi Salibu, Tanam Sekali Panen Bisa 3 Kali

Petani Buleleng Terapkan Teknologi Salibu, Tanam Sekali Panen Bisa 3 Kali

Panen padi sistem salibu di Buleleng Bali. (ist)

BULELENG (Suara Karya): Kelompok tani Subak Bukit Telu, Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng, Bali menggelar panen raya. Petani di sini sukses menerapkan teknologi Salibu, yaitu sistem tanam padi sekali dengan panen berkali-kali dari bibit yang sama. 

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Nyoman Swatantra, menjelaskan, sistem penanaman padi menggunakan teknologi salibu memiliki berbagai keunggulan. Dengan memotong 5 sentimeter pada batang padi saat panen dari tanah, akan menumbuhkan tunas baru dari buku padi. 

“Keuntungannya di antaranya, umur padi lebih pendek, kebutuhan air sedikit, biaya produksi lebih rendah karena tidak lagi mengolah tanah,  dan penanaman. Selain juga kemurnian genetik varietas padi yang ditanam itu lebih terpelihara,” ujar Swatantra. 

Panen raya yang dihadiri lebih dari 150 undangan ini berlangsung meriah. Selain I Nyoman Swatantra, tampak hadir Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Lawang Malang Kresno Suharto, Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali I Wayan Sunarta, Kepala Balai Pengkajian Teknologi pertanian (BPTP) Bali, Kapolsek Busungbiu, Camat Busungbiu,  Dandim 1609 Buleleng, Danramil Busungbiu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) serta ratusan petani yang penasaran ingin melihat hasil panen dari teknologi Salibu ini.

"Teknologi Salibu yang baru pertama kali diterapkan di Buleleng ini merupakan program pemerintah yang berasal dari APBN 2017. Tujuannya meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi," ujar Sunarta. 

Para petani menggunakan paket lengkap teknologi Salibu dari PT Prima Agro Tech yang berlandaskan agro-biotechnology untuk setiap produknya. Adapun paket produk yang digunakan adalah Decohumat, Oriza Plus, Metarizep, BT Plus, Kalsika, dan Humatop. 

"Teknik ini diterapkan sebagai usaha inovasi peningkatan kebutuhan beras dan usaha mencapai swasembada pangan," kata Sunarta. 

Kendati cuaca mendung dan gerimis sempat mengguyur lokasi, namun tidak menyurutkan antusiasme dari seluruh undangan untuk tetap bertahan di lokasi kegiatan. Acara dimulai dengan pemotongan padi secara simbolis oleh Kepala Dinas Buleleng bersama 9 orang perwakilan dari 10 instansi. 

Lahan seluas 1 hektare di lokasi ini menjadi sebuah bukti nyata atas prestasi dari teknologi Salibu mewakili dari total 12,5 Ha yang tersebar di 8 kecamatan dari seluruh Kabupaten Buleleng, di antaranya Kecamatan Busungbiu, Gerokgak, Kubutambahan, Banjar, Seririt, Sukasada, Buleleng, dan Sawan. 

Sunarta menjelaskan, dengan menggunakan varietas IR-64 dan Ciherang, serta dengan sistem tanam PTT tanpa legowo, hasil panen Salibu yang berarti produksi kedua dari bibit sebelumnya, bisa mencapai 7 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP), hampir menyamai hasil panen bibit pertama atau produksi pertama yaitu 8,8 ton/ha. 

Hal ini sangat menarik perhatian karena petani bisa mendapatkan hasil produksi yang berkali-kali tanpa harus membeli benih baru dan menghabiskan waktu untuk melakukan penyemaian baru. Karena Salibu hanya memanfaatkan sisa tanaman yang telah dipanen sebelumnya.

“Tahap pertama padi salibu ini sangat menggembirakan. Hasilnya tidak jauh berbeda dari konvensional (panen sebelumnya-red). Malahan kita untung karena dapat menghemat biaya produksi karena tidak perlu ongkos tanam untuk membeli benih dan penyemaian. Waktunya pun 50 hari lebih cepat karena ada yang bisa diputus” Sunarta.

Program Salibu bisa dijadikan program unggulan padi di Kabupaten Buleleng mengingat hasilnya memuaskan. Suksesnya panen raya padi teknologi salibu di Buleleng ini tidak lepas dari cara perawatan tanaman yang tepat serta pengelolaan hama dan penyakit yang cermat pada areal pertanaman. 

“Aplikasi Salibu akan kami kembangkan di kecamatan lain. Dan pemerintah turut mendukung untuk meningkatkan produktivitas hasil panen,” tambahnya.

Para petani Buleleng pun takjub dengan adanya teknologi ini. Dengan terbukti suksesnya panen raya ini, mereka makin optimis mengunakan teknologi Salibu untuk menekan biaya produksi.

“Acara ini berkesan, panennya bagus. Kendala biasanya di bagian pemeliharaan sehingga dapat mempengaruhi hasil panen. Ke depannya setelah panen ini, kami akan tanam Salibu lagi. Hasil panen pertama bisa dijadikan sebagai pembelajaran,” ujar Suede, petani  Kecamatan Busungbiu.

Budidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas/peningkatan produksi. Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain tinggi pemotongan batang sisa panen, varietas, kondisi air tanah setelah panen, dan pemupukan.

Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa. Inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya hampir sama dibanding tanaman pertama (ibunya).

Salibu merupakan metode tanam tanpa menggunakan benih dan tanpa pengolahan lahan. Teknik salibu menggunakan bonggol tanaman padi sisa panen musim pertama sehingga lebih cepat panen. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor :