logo

Dosen ITS Ciptakan Alat Penghitung Bakteri TBC

 Dosen ITS Ciptakan Alat Penghitung Bakteri TBC

SURABAYA (Suara Karya): Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil merancang alat untuk menghitung jumlah bakteri tuberculosis (TBC) secara akurat. Temuan ini diharapkan bisa membantu mempercepat penanganan penderita yang pada gilirannya bisa menekan angka kematian akibat TBC.

Menurut Dosen ITS Perancang TB-Analyzer, I Ketut Eddy Purnama, alat ini bisa menghitung jumlah bakteri tuberculosis secara akurat sehingga waktu yang dibutuhkan tenaga medis untuk melakukan diagnosis, bisa ditekan. "Selama ini diagnosa tuberculosis masih dilaksanakan secara manual dan seringkali tidak akurat," ujarnya di Surabaya, Jum'at (12/1/2018).

Biasanya, kata dia, diagnosa tuberculosis dilakukan para dokter dan perawat dengan cara menghitung adanya bakteri tahan asam (BTA) pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik. Penghitungan ini seringkali tidak akurat, karena area yang diperiksa sangat luas sehingga tidak memungkinkan menghitung jumlah bakteri secara teliti.

Berbekal dari realita itu, dosen Departemen Teknik Komputer Fakultas Teknologi Elektro ITS ini menggandeng tiga tim dosen lainnya untuk melakukan penelitian. Ketiga dosen tersebut antara lain Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng dari Departemen Manajemen Bisnis, Dr Supeno Mardi Susiki Nugroho ST MT dan Arief Kurniawan ST MT dari Departemen Teknik Komputer.

Penelitian yang mereka lakukan selama lebih dari tiga tahun itu akhirnya menghasilkan alat penghitung bakteri tuberculosis yang diberi nama TB-Analyzer: Smart System to Count Tubercolosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically. Alat ini merupakan sistem terpadu antara aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk analisis citra mikroskopik.

Dia menjelaskan bagian perangkat kerasnya terdiri dari komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital. Sementara bagian aplikasi mampu menginstruksikan untuk menggerakkan motor dan mendapatkan fokus pada bakteri agar mendapatkan puluhan gambar yang tidak tumpang tindih.

Menurut lulusan University of Groningen tersebut, cara kerja alat ini diawali dengan penderita melakukan X-Ray untuk menentukan apa pasien terjangkit TBC atau tidak. Ketika didiagnosa menderita TBC, dahak dari penderita diambil di atas preparat dahak, dikeringkan lalu dibakar. Tujuan pembakaran ini untuk melelehkan bakteri yang berbentuk batang dengan lapisan lilin.

Ketika pembakaran selesai, preparat diberi warna dengan menggunakan Ziehl Neelsen. Setelah itu, preparat didinginkan dan diletakkan kembali di atas mikroskop digital. Nantinya, bakteri akan secara otomatis muncul di layar komputer.

Pihaknya juga memastikan bahwa TB-Analyzer ini memiliki kemampuan yang akurat dan kuat untuk menghitung ratusan gambar bakteri dan mampu menghitungnya dalam berbagai macam skala gambar. Rencananya, alat yang masih dalam tahap penyempurnaan akan dipasarkan dengan menggandeng rumah sakit milik pemerintah maupun swasta, klinik, serta laboratorium penelitian.***

Andira
email: andirask@gmail.com
Editor : Dwi Putro Agus Asianto