logo

Impor Beras, Wapres JK Jamin Nasib Petani

Impor Beras, Wapres JK Jamin Nasib Petani

Wapres Jusuf Kalla. (Ist)

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Presiden Jusuf Kalla menjamin keputusan pemerintah mengimpor beras khusus sebesar 500.000 ton dari Thailand dan Vietnam tidak akan melemahkan petani.

Wapres mengatakan importasi dilakukan untuk menguatkan stok beras nasional yang dinilai kurang sehingga melambungkan harga beras di tingkat pengecer.

Pekan lalu, Perum Bulog menyatakan stok beras di gudangnya hanya tinggal 900.000 ton sebelum memasuki panen akbar yang akan terjadi Maret-April.

“Karena stok sekarang kurang, jadi kita serap dulu (dari luar) baru jual,” katanya seusai menghadiri pengukuhan Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Masjid Istiqlal, Jumat (12/1/2018).

Pemerintah memutuskan untuk mengimpor 500.000 ton beras bersertifikasi khusus yang rencananya akan masuk pada akhir Januari ini. Nantinya, harga beras dengan pecahan 5 persen itu, akan dijual di bawah harga eceran tertinggi beras medium untuk menstabilkan harga beras medium.

Keputusan impor sendiri diambil setelah harga beras medium maupun premium melambung dalam beberapa hari terakhir. Secara nasional, beras medium sempat menyentuh harga Rp11.500/kg atau di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp9.450/kg. Sedangkan beras premium sempat naik Rp 13.000/kg atau di atas HET Rp 12.800/kg.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1/2018, beras akan diimpor oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) (Persero) atau bukan oleh Perum Bulog. Pertimbangannya, harga beras yang dibeli bukan beras medium melainkan beras untuk keperluan khusus dengan tingkat kepecahan 0-5%.

Adapun, Wapres JK menjelaskan bahwa Perum Bulog akan terus mengendalikan harga, tidak hanya di tingkat pasar namun juga di tingkat petani apabila musim panen yang diperkirakan akan dimulai pada Februari ini tiba.

Bulog, lanjutnya, akan melakukan operasi pasar bila harga di pasar masih di atas HET. Sebaliknya, Bulog juga akan menyerap beras di tingkat petani bila harga patokan terlalu rendah untuk petani dengan adanya importasi tersebut.

“Kita kan ada harga patokan. Kalau harga beras di atas harga patokan, maka Bulog harus menjual. Karena stok sekarang kurang, serap dulu baru jual berasnya. Kalau harga turun, dia membeli,” jelasnya. ***
 

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor :