logo

Belajar Memberi Teladan dan Merayakan Kemenangan

Belajar Memberi Teladan dan Merayakan Kemenangan

09 Januari 2018 20:05 WIB

Oleh : Dr Mulyono Daniprawiro

Tentunya kita masih ingat, bahwa kita Bangsa Indonesia telah memiliki pemimpin-pemimpin besar, yang namanya telah tersohor di antero penjuru dunia. Presiden Soekarno dengan gaya kepemimpinannya menggunakan semangat membangun bangsa melalui Demokrasi Terpimpin. Presiden Soeharto demikian juga, mempunyai gaya yang hampir sama dengan tokoh sebelumnya dan memperkenalkan gaya kepemiminannya melalui Demokrasi Pancasila, dan masih banyak tokoh-tokoh besar lainnya ada di negeri ini. Mereka mempunyai gaya kepemimpinan masing-masing.

Salah satu pemimpin besar dunia seperti yang ditulis oleh Adwin A. Locke dalam bukunya berjudul The Essence of Leadership: The Four Keys to Leading, pemimpin besar seperti, Winston Churchil mengutarakan pandangannya mengenai kualitas kepemimpinan. Dia mengatakan, bahwa saya sama sekali tidak perlu didorong-dorong, karena pada dasarnya, saya adalah pendorong itu sendiri. Ini merupakan salah satu aspek kepemimpinan, dan tentunya masih banyak aspek lainnya.

Mengenai gaya kepemimpinan itu sendiri (Leadership style), tidak semua pemimpin memiliki gaya yang sama. Kalau kita mengamati gaya pemimpin, kita coba perhatikan ada beberapa tipe yang mereka tampilkan. Ada dengan gaya yang berapi-api dan menghentak-hentak bila mengemukakan pendapatnya dan ada pula yang amat tenang, santai dan penuh santun. Jadi antara pemimpin satu dengan yang lain sangat berbeda.

Dalam substansi, para pemimpin bisa saja ada persamaannya, antara seorang pemimpin yang efektif, termotivasi dan jujur. Biasanya mereka mengetahui bagaimana caranya berurusan dengan banyak orang. Mereka mempunyai visi, dan bekerja tanpa kenal lelah untuk meraihnya. Model kepemimpinan yang efektif menurut Adwin A. Locke antara lain, penuh inisiatif, energi, dan ambisi. Selain itu mereka akan tekun dan pro-aktif dalam mengejar sasaran-sasaran mereka, punya keinginan memimpin, jujur dan punya integritas, percaya diri, kreatif, fleksibel dan ada kalanya kharismatik.

Pemimpin kharismatik itu tidak saja datang dari sang pemimpin itu sendiri, melainkan bisa saja datang dari para pengikutnya yang merasa telah terobati dan memberikan otoritas kharismatik kepada siapa pun yang bisa menanggung beban mereka. Apabila kita kaitkan dengan pengetahuan, keahlian dan kemampuan, maka kepemimpinan yang efektif adalah, pemimpin yang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai industri, teknologi dan lingkungan organisasi tempat mereka bekerja.

Calon pemimpin masa depan menurut Prof. Dr. Haryono Suyono adalah orang yang siap menghadapi berbagai tantangan dan peluang serta siap sewaktu-waktu mendapat kesempatan. Kesempatan yang sama itu tidak akan datang berkali-kali. Jadi seseorang yang ingin menjadi pemimpin, mereka harus siap dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, soal bagaimana menjalankannya itu urusan nanti, yang penting harus siap lebih dahulu.

Keahlian beragam, karena adanya karakter relasi dari kepemimpinan, maka keahlian dalam hubungan antar manusia (People skills) adalah penting. Keahlian ini meliputi mendengar, berkomunikasi verbal, membangun jaringan, manajemen konflik, dan penaksiran atas diri sendiri dan orang lain. Kemampuan kognitif, terutama kepandaian memproses informasi yang begitu banyak, memadukannya dan bisa menarik kesimpulan yang logis dari situ.

Bagi seseorang yang mempunyai keahlian mendengar, mereka bisa membantu pemimpin membangun kepercayaan, baik lewat komunikasi formal maupun informal. Keahlian mendengar memungkinkan seorang pemimpin menggunakan segala ide dan pengalamannya mengenai orang lain sebagai sebuah sumber daya informasi. Informasi tersebut bisa dibangun untuk mengembangkan visi, memotivasi para pengikut, dan mengembangkan strategi yang paling sesuai (Bennis & Nanus 1985: Kouzes & Posner 1987).

Seperti yang telah dilakukan oleh beberapa tokoh nasional, walaupun tidak menjabat resmi di pemerintahan, karena didorong oleh rasa tanggungjawab sebagai warga negara dan anak bangsa memiliki kapasitas untuk bisa menggerakan organisasi dan orang lain, maka dalam benaknya selalu tumbuh rasa peduli terhadap sesama. Kendala yang dihadapi tidaklah ringan, namum berkat dorongan dan keinginan yang begitu kuat yang muncul dari hatinya yang paling dalam, maka kendala tersebut bisa dengan tidak terlalu sukar untuk dilewatinya.

Pemimpin sejati selalu mengutamakan organisasinya dan selalu berusaha memperkenalkan organisasinya kepada banyak pihak. Bila bertemu dengan orang lain yang bersangkutan selalu mencoba mengadakan kerja sama, apa saja yang mungkin bisa dikerjakan bersama.

Tujuan dari kerja sama yang dilakukan tidak lain adalah bagaimana membantu orang-orang yang membutuhkan, utamanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membangun bangsa dan menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Sudah banyak sekali para ahli berbicara dan bahkan memberikan contoh-contoh sukses yang dialaminya.

Buku-buku tentang kepemimpinan pun banyak kita jumpai di mana-mana. Salah satunya adalah Jack Welch, seorang Presiden Direktur dari General Electric yang telah berkarier lebih dari empat puluh tahun di perusahaan terkenal di Amerika Serikat dan telah meraih sukses di seluruh dunia. Dalam bukunya berjudul “Winning” atau meraih keberhasilan. Dia mengemukakan bahwa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pemimpin antara lain adalah dia tidak jemu-jemunya memperbaiki timnya, menggunakan apa pun yang dijumpai sebagai peluang untuk mengevaluasi, membimbing, dan membangun rasa percaya diri, memastikan bahwa anak buah tidak hanya melihat visi, tetapi mereka harus menjiwai visi tersebut, mempengaruhi kehidupan semua orang, memancarkan energi positif dan optimisme, membangun kepercayaan dengan sikap terus terang, transparansi dan pujian, memiliki keberanian untuk membuat suatu keputusan yang tidak populer dan mengikuti suara hati, meneliti dan mendorong rasa ingin tahu yang jauh dari sikap skeptis, memastikan bahwa pertanyaan mereka dijawab dengan tindakan, memberikan inspirasi untuk berani mengambil risiko dan belajar memberikan teladan, dan yang terakhir adalah seorang pemimpin bisa merayakan keberhasilannya.

(Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)

Editor : Silli Melanovi