logo

Peringatan Hari Ibu, Ketum Kowani Tegaskan Konektivitas Perempuan Hadapi Tantangan Global

Peringatan Hari Ibu, Ketum Kowani Tegaskan Konektivitas Perempuan Hadapi Tantangan Global

Yang lebih substansial secara nilai dan makna adalah meletakkan peran dan fungsi Ibu pada tempat yang sangat utama dan sentral dalam ketahanan keluarga karena Ibu adalah panutan sebagai guru yang utama dan pertama, ujar Giwo.

JAKARTA (Suara Karya): Memperingati Hari Ibu tak selalu harus dilakukan  seremonial. Tetapi sejatinya haruslah mengedepankan dan mengutamakan makna hakiki dari Hari Ibu itu sendiri. Adanya Hari Ibu itu sebagai wujud pengakuan dan penghargaan serta penghormatan tertinggi oleh negara, masyarakat dan seluruh stakeholder atas peristiwa heroik yang telah dilaksanakan oleh para founding mothers Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada masa perjuangan waktu itu.

Demikian disampaikan Ketua Umum Kowani Dr Giwo Rubiyanto Wiyogo dalam sambutannya pada Peringatan Hari Ibu 2017 di Gedung MPR RI, Komplek Parlemen Senayan.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak Yohanna Susana Yembise, dan para Ketua Umum Anggota organisasi Kowani yang mewakili bersamaan dengan launching "Kartu Anggota Kowani"  yang secara electronik  memiliki multifungsi untuk pembelian serta pembayaran, melalui aplikasi yang dapat diunduh melalui playstore dan appstore, sehingga dapat  memberikan banyak  manfaat  bagi pemegangnya.

Selain itu juga dilakukan pelatihan 1 juta Laskar Gerakan Nasional Perang Melawan Narkoba Angkatan 1 yang setelah melewati 5 hari pelatihan dengan 20 narasumber, tahap pertama diikuti oleh 44 peserta.

Giwo mengingatkan kepada seluruh anak bangsa atas perjuangan begitu gigih para pejuang perempuan yang tanpa pamrih dan tanpa meminta fasilitas, sarana prasarana serta imbalan apapun, tetap komit bahkan bertaruh nyawa untuk merebut kemerdekaan dari belenggu penjajahan belasan tahun.  

Hadir pada kesempatan itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak Yohanna Susana Yembise, dan para Ketua Umum Anggota organisasi Kowani yang mewakili.

Menurut Giwo, memperingati Hari Ibu bukanlah sekedar memberi sekuntum bunga pada hari Ibu, lalu memberikan istirahat sehari bagi Ibu-Ibu, kemudian 365 hari lainnya kembali menjadi super-women dan wonder women, bukan itu.

"Yang lebih substansial secara nilai dan makna adalah meletakkan peran dan fungsi Ibu pada tempat yang sangat utama dan sentral dalam ketahanan keluarga karena Ibu adalah panutan sebagai guru yang utama dan pertama," ujar Giwo.

Giwo berpandangan bahwa sudah sepatutnya dan sepantasnya para anak bangsa  menempatkannya sebagai orang yang sangat dihormati karena Ibu adalah peletak semua dasar dari keseluruhan etika moral, sejak dari kandungan, buaian, belaian, Paud hingga dewasa.

Karena itu, menurut dia, Kowani bersama seluruh perempuan Indonesia bertekad untuk mewarisi dan meneruskan semangat perjuangan itu walaupun bentuk perjuangannya berbeda dimensi namun tetap bertekad untuk mengisi kemerdekaan dalam kerangka sebagai mitra sejajar laki-laki.

“Sekaligus meneruskan mandat sebagai Ibu Bangsa yang wajib melahirkan generasi penerus bangsa yang militan, kreatif, inovatif, unggul, berdaya saing yang sehat jasmani dan rohani serta memiliki wawasan kebangsaan dan jiwa nasionalisme yang kokoh dan kuat," jelas Giwo yang juga Ketum Aliansi Pita Putih Indonesia ini.

Dengan tema Perempuan Bersatu untuk Kemajuan Bangsa, maka kata Giwo, diharapkan dengan persatuan dan kesatuan seluruh Perempuan Indonesia berkomitmen menjadikan dirinya (perempuan-red) semakin berdaya sehingga membuat Indonesia semakin jaya. Tema ini Merujuk pada tema Nasional PHI ke 89 tahun 2017 yaitu “Perempuan Berdaya, Indonesia Jaya”.

Disisi lain Giwo juga mengingatkan banyaknya "Pekerjaan Rumah" berbagai kejadian atau peristiwa, misalnya pelecehan dan kekerasan seksual, diskriminasi dan berbagai keprihatinan dalam berbagai bentuk penderitaan dan bahkan "kemunduran" di beberapa sektor, antara lain: masih maraknya budaya patriaki, yang sangat memarginalkan wanita.

Kemudian catatan penting Kowani tentang masih terjadi eksploitasi tenaga perempuan sebagai TKW yang tak kunjung ada solusi mekanisme perlindungannya serta RUU "pekerja/ asisten rumah tangga"  yang tak dijadikan UU, sehingga di sana-sini masih marak terjadinya perlakuan diskriminasi di dunia lapangan kerja wanita termasuk penggajian atau perongkosannya berikut beberapa eksesnya serta masih rentannya perempuan atas kekerasan seksual sehingga diperlukan kekuatan dan kepastian hukum yang lebih baik lagi.

Ketum IPSM ini juga menyoroti masih maraknya perkawinan usia anak dan nikah sirri yang cenderung  tidak sesuai ajaran agama dan etika sosial sehingga sangat menyengsarakan perempuan ketika terjadi "perceraian" bahkan meninggalkan status anak yang tak jelas secara hukum.

Selain itu Giwo mengingatkan munculnya penetrasi budaya asing yang sangat tajam sehingga melahirkan generasi instan dan cenderung materialism bahkan individualism dibarengi dengan ekses pornografi dan pornoaksi serta narkoba dan pergaulan bebas yang melanggar nilai nilai kearifan lokal dan nilai nilai luhur serta norma hukum yang berlaku. Sehingga secara langsung menjadi ancaman bagi penanaman semangat kebangsaan dan sifat nasionalism.

“Saya juga prihatin  maraknya prostitusi online semakin membuat nilai nilai dan kemartabatan perempuan menjadi semakin terpuruk, rentan, dan ternoda karenanya,”ungkap Giwo.

Termasuk masih tingginya  angka kematian Ibu melahirkan serta masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/human development index (HDI) menyebabkan multiplier effect kemerosotan ekonomi dan sosial yang menhantuai masyarakat luas.

Kesemua itu, kata mantan Ketua KPAI, adalah menjadi tanggung jawab bersama antara, Ibu Bangas yang harus ditopang  oleh "political will" disertai sinergisitas  dan kerja sama diantara  semua organ kepemerintahan dan semua stakeholders.

“Mengingat begitu besar tangung jawab, sekaligus betapa beratnya tugas-tugas dan peran sebagai Ibu Bangsa, maka benarlah ungkapan Mr. Kofi Annan “there is no tool for development more effective than the empowerment of women bahwa cara paling efektif untuk membangun sebuah bangsa adalah dengan membangun wanitanya,” tandas Giwo.

Giwo mengutip pernyataan mantan Presiden AS, Barack Obama yakni “You can judge a country by how they treats their womenbahwa “jika ingin melihat sebuah bangsa, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan atau membangun wanita-nya.

Untuk itulah Kowani sangat membutuhkan adanya konektivitas  antara seluruh perempuan se-Nusantara berupa jejaring yang  disebut "connecting women" sebagai mata-rantai yang mempersatukan seluruh komunitas perempuan, sehingga secara real-time bisa berkomunikasi, berkoordinasi,  sebagai media untuk saling asah asih, asuh, ajar, amal dan bisa membuka jejaring untuk peluar bisnis, bertukar pengalaman.

“Oleh karena itu ke depan secara struktural sangat diperlukan adanya hubungan organisatoris mulai dari Kowani Pusat, BKOW/GOW dan seterusnya,”ucapnya.

Dengan demikian seberat apapun tugas Ibu Bangsa akan terasa ringan bila sudah satu suara, satu pola pikir dan satu pola tindak. Sehingga dengan demikian gerakan Ibu Bangsa bukan sekedar slogan tetapi menjadi kenyataan.

AG. Sofyan
adalah wartawan Suara Karya sejak tahun 2002 dan juga author buku biografi tokoh nasional. Email: sofyanagus30@gmail.com
Editor : Laksito Adi Darmono