logo

Menko Puan Ajak Pemuda Jadi Pilar Pemersatu Bangsa

Menko Puan Ajak Pemuda Jadi Pilar Pemersatu Bangsa

Menko PMK Puang Maharani berbincang dengan peserta Kirab Pemuda 2017. (Dok. Kemenko PMK)
Kebersamaan tidak mungkin terwujud tanpa persatuan. Oleh karenanya, Menko PMK Puan Maharani minta agar pemuda menjadi pilar pemersatu bangsa.

BLITAR (Suara Karya): Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani berharap pemuda bisa menjadi pilar pemersatu bangsa.

Harapan itu disampaikan Puan saat menutup Kirab Pemuda Indonesia di Lapangan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, Kamis (7/12).

Puan mengatakan Kirab Pemuda ini dapat menjadi momentum bagi pemuda Indonesia untuk memperluas wawasan dan membekali diri menjadi pemuda yang siap mengambil peran dan tanggung jawab pembangunan. 

Ditambahkannya, pembangunan akan berhasil jika di dalamnya ada kebersamaan. Namun kebersamaan tidak mungkin terwujud tanpa persatuan. Oleh karenanya, dalam kesempatan ini, saya ingin mengingatkan betapa pentingnya keberadaan pemuda sebagai pilar pemersatu bangsa.

"Saya percaya, kalian ini para pemuda yang akan membawa Indonesia menuju kemajuan di masa mendatang. Jadilah anak-anak yang berkepribadian yang nantinya akan mewujudkan Indonesia berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaannya," tegas Puan.

Sebelumnya, Menko PMK mengatakan bahwa pemuda juga harus bisa menjadi garda terdepan menghadapi tantangan mengimplementasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang akan terus ada selama Republik Indonesia berdiri.

Menurut Puan, revolusi mental bukanlah suatu yang rumit untuk dipraktikkan. Karena nilai-nilai yang ada di dalamnya salah satunya adalah pendidikan karakter, itu sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

"Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk negara ini. Sederhananya jangan buang sampah sembarangan, budayakan antre dan selesaikan masalah dengan berpikir dewasa. Jadi ini satu tantangan yang harus kita lakukan selama republik ini ada," ucap Puan.

Tantangan revolusi mental tidak hanya ada pada generasi milenial seperti sekarang. Tetapi tantangan itu akan terus ada sampai kapanpun. "Revolusi mental jangan dianggap sebagai pendidikan karakter yang sulit dan ruwet. Ia butuh pembiasaan dari kehidupan sehari-hari kita," tutur Puan.

Kemenko PMK dalam hal ini terus melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait. Pekan lalu, Pemerintah dan PP Muhammadiyah telah bersama-sama membangun komitmen dan bersinergi demi terwujudnya pembangunan karakter manusia dan budaya positip.

Hal itu diwujudkan dalam Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja sama antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (24/11).

Kerja sama dengan PP Muhammadiyah ini dilatarbelakangi dengan adanya kesamaan persepsi dalam menghadapi dan menyikapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah memiliki komitmen dan tanggung jawab tinggi untuk memajukan kehidupan bangsa dan negara sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor :