logo

Kasus Buku Nikah Palsu, Terdakwa Sarah Susanti Beri Keterangan "Berbelit-belit" 

Kasus Buku Nikah Palsu, Terdakwa Sarah Susanti Beri Keterangan

Istimewa
Sarah Susanti awalnya menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan buku nikahnya dengan Agus Maulana yang diduga palsu itu untuk keperluan apapun. Namun terdakwa mengaku bahwa dirinya menggunakan buku nikah tersebut untuk memohon perlindungan kepada Persatuan Purnawirawan (PP) Polri.

JAKARTA (Suara Karya): Terdakwa Sarah Susanti memberi keterangan berbelit-belit dalam sidang lanjutan dugaan pemalsuan buku nikah dan disertai penggelapan harta milik mantan Kaden PJR Mabes Polri almarhum Kombes Pol Agus Maulana Kasiman, yang digelar di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta, Rabu (6/12).

Terdakwa Sarah Susanti saat ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yan Ervina SH awalnya menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan buku nikahnya dengan Agus Maulana yang diduga palsu itu untuk keperluan apapun. Namun terdakwa mengaku bahwa dirinya menggunakan buku nikah tersebut untuk memohon perlindungan kepada Persatuan Purnawirawan (PP) Polri karena dirinya mengaku diteror oleh Melpa Tambunan (Pelapor). 

"Ya saya menggunakan salinan buku nikah itu untuk lampiran surat permohonan ke PP Polri," kata Sarah Susanti dalam keterangannya di berita acara pemeriksaan dan dalam keterangan dipersidangan sebelumnya. 

Sementara Terdakwa Sarah Susanti yang didampingi tim kuasa hukumnya yang diketuai Ahmad Ramsi SH menghadirkan satu saksi meringankan (A de charge) yaitu Riana Rosmawati.

Terdakwa Sarah Susanti saat ditanya majelis hakim juga memberi keterangan yang meragukan mengenai pengetahuan dirinya soal buku nikah dan harta peninggalan Agus Maulana.

Sebelum menikah dengan Agus Maulana, terdakwa Sarah Susanti mengaku pernah menikah. Dihadapan majelis hakim, terdakwa mengaku pernikahan pertamanya itu, semua urusan buku nikah diurus oleh suami. Dia (Sarah) mengaku hanya tahu jadi saja. Begitupun halnya, pernikahannya dengan Agus Maulana, terdakwa Sarah mengaku urusan pembuatan buku nikah itu semua diurus oleh alm. Agus Maulana.

Pada persidangan sebelumnya terdakwa Sarah menerangkan bahwa dirinya hanya menikah siri dengan Agus Maulana.

Majelis hakim juga mempertanyakan bagaimana Sarah Susanti sampai saat ini masih dapat tinggal di rumah dinas Polri di Pengadegan, Jakarta Selatan.

Sarah mengaku sebenarnya rumah dinas itu sudah dikembalikan kepada Polri setelah suaminya meninggal. Polri sudah menyerahkan rumah dinas itu kepada perwira polisi lain yang masih aktif bertugas.

Dari perwira polisi itulah Sarah mengaku mendapat kuasa untuk tinggal di rumah dinas tersebut sampai saat ini.

Saat hakim menanyakan apakah ada bukti surat kuasa itu, Sarah mengatakan ada. Namun saat hakim menanyakan mana buktinya?, Sarah menyerahkan jawaban kepada penasehat hukumnya, Ahmad Ramsi SH.

"Kami akan menyerahkan bukti itu pada persidangan mendatang," kata Ahmad Ramsi.

Majelis hakim juga menanyakan kepada terdakwa sebenarnya aset (harta/warisan) apa saja yang ia (Sarah) dapatkan sekarang ini dari almarhum Agus Maulana.

Terdakwa Sarah mengatakan bahwa aset yang ia dapatkan hanya rumah dinas Polri yang ditinggalinya saat itu. Tanah rumah itu memang milik Polri, tapi bangunan rumahnya dibangun oleh Agus Maulana dan Sarah Susanti.

Menurut terdakwa Sarah beberapa mobil peninggalan almarhum Agus Maulana sudah diambil pihak leasing. Sementara surat-surat kepemilikan tanah, ruko dan rumah lain milik almarhum Agus Maulana, sudah diserahkan kepada Moudie Tasya Agustina (anak dari istri pertama Agus Maulana).

Majelis hakim justru mempertanyakan Sarah soal keterangan itu. Kalau memang betul Sarah Susanti istri sah Agus Maulana, seharusnya ia mendapatkan warisan yang lebih memadai.

               Saksi Tidak Tahu

Saksi Riana Rosmawati adalah Sekretaris Agus Maulana saat menjadi Pengurus Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI).

Riana mengaku mengetahui terdakwa Sarah Susanti adalah istri Agus Maulana dari penjelasan Agus Maulana kepada dirinya.

Riana juga menyebutkan bahwa Agus Maulana selalu mengajak terdakwa Sarah Susanti pada berbagai kegiatan IMBI.

"Saya tahunya Ibu Sarah Susanti itu istri Pak Agus Maulana ya dari penjelasan Pak Agus Maulana. Yang saya tahu, dalam setiap kegiatan IMBI, yang diajak mendampingi Pak Agus adalah Ibu Sarah Susanti. Soal buku nikah, ya saya tidak tahu," kata Riana.

Ia (saksi Riana) mengaku dirinyalah yang menyarankan kepada Sarah Susanti untuk mengajukan permohonan perlindungan kepada PP Polri untuk mengatasi teror dari Melpa Tambunan.

Seusai persidangan, wartawan meminta klarifikasi kepada Melpa Tambunan soal keterangan Sarah Susanti dan Riana Rosmawati.

Melpa membantah semua keterangan itu. "Saya mendatangi Sarah dengan baik-baik setelah Pak Agus Maulana meninggal," katanya.

Melpa (pelapor) menjelaskan bahwa dirinya sudah memberikan kesaksian dipersidangan soal pertemuannya dengan Sarah secara baik-baik itu soal aset peninggalan almarhum Agus Maulana.

"Dalam pertemuan itu, Sarah Susanti meminta saya uang sebesar Rp1,3 miliar jika dirinya harus menyerahkan semua aset peninggalan almarhum Agus Maulana kepada Melpa. Tapi saya tidak mau memenuhi permintaannya itu," kata Melpa. 

Persidangan dipimpin Ketua Majelis Hakim R Iswahyudi Widodo SH MH didampingi hakim anggota Irwan SH MH dan Achmad Guntur SH MH, dan dihadiri JPU Yan Ervina SH serta Jaksa  Rosmalina S SH.

Sidang dengan nomor perkara 1056/pin.b/2017/pn.jkt.sel akan dilanjutkan 2 pekan kedepan dengan agenda penyampaian tuntutan oleh JPU. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor :