logo

Cegah HIV, Masyarakat Harus Terbiasa Lakukan Deteksi Sejak Dini

Cegah HIV, Masyarakat Harus Terbiasa Lakukan Deteksi Sejak Dini

Sigit Priohutomo. (Dok. Kemenko PMK)
Masyarakat diminta agar lebih proaktif menyukseskan pencegahan penularan human immunodeficiency virus (HIV) dan memeriksakan diri sejak dini.

JAKARTA (Suara Karya): Deputi Bidang Koordinasi Peningkatakan Kesehatan, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayan (Kemenko PMK) Sigit Priohutomo mengingatkan masyarakat untuk senanntiasa melakukan deteksi sejak dini terkait permasalahan kesehatan, khususnya untuk mengetahui status HIV di dirinya.

"Kita harus berani untuk mengurangi risiko penularan virus HIV dengan cara memeriksakan diri sejak dini, sehingga dapat segera diobati jika hasilnya positif," ucap Sigit saat mengikuti puncak peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang digelar di Halaman Griya Agung Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (5/12).

Melalui pesan tertulisnya, Sigit mengatakan jajaran Kemenko PMK sangat menyambut baik atas diperingatinya Hari AIDS Sedunia ini.
Peringatan puncak Hari AIDS Sedunia ini mengangkat tema 'saya berani, saya sehat'.

Menurut Sigit, tema HAS tersebut ditujukan kepada masyarakat agar lebih proaktif menyukseskan pencegahan penularan human immunodeficiency virus (HIV), penyebab terjadinya kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya kekebalan tubuh atau disebut Aqcuuired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin berharap dengan diperingatinya HAS ini, masyarakat menyadari akan pentingnya segala hal yang berkaitan dengan kesehatan. "Tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA)," ucapnya.

Pada peringatan HAS itu, Gubernur Alex Nurdin mencanangkan Fast Track 90-90-90 atau strategi akselerasi, yakni: temukan, obati dan pertahankan (TOP) untuk mencapai target tahun 2030 sebagai tahun bebas AIDS.

Dia menambahkan Fast Track 90-90-90 bermakna: 90% orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini,  90% ODHA mengetahui status HIV untuk memulai pengobatan Antiretroviral (ARV), dan 90% ODHA dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya.

“Ini semua dilakukan agar kemudian bisa mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA,” katanya lagi. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor :