logo

Mediasi Gagal, Dea Imut Perkarakan DHL Karena Menghilangkan Kamera

Mediasi Gagal, Dea Imut Perkarakan DHL  Karena Menghilangkan Kamera

Pihak DHL dituduh melakukan penipuan (378 KUHP) dan penggelapan (372 KUHP) karena dianggap menghilangkan barang kiriman yaitu Kamera Canon C-500 seharga Rp 299 juta

JAKARTA (Suara Karya): Mediasi antara artis Dea Annisa atau akrap dipanggil  Dea Imut dengan perusahaan jasa pengiriman DHL mengenai kasus hilangnya kamera senilai Rp 299 juta di Pengadilan Jakarta Selatan, menemui jalan buntu. Pihak Dhea Imut langsung memperkarakan kasusnya baik secara pidana dan perdata.

“Untuk pidana, kasusnya sudah kami laporkan ke polda dengan no LP/4812/X/2017/PMJ/Ditreskrimum dan masih lidik. Sedangkan secara perdata, segera kami daftarkan setelah mediasi yang kami lakukan di PN Jaksel, gagal,” kata Henry Indraguna, pengacara Dea  seusai melakukan mediasi di PN Jaksel, Rabu (6/12).  

Dalam melakukan mediasi, pihak Dea ikut hadir Dea Imut, Masayu Chairani, dan tim dari Henry Indraguna & Partner, sedangkan dari pihak DHL diwakilkan pengacara perusahaan. Menurut Henry, pihak DHL tetap tidak bersedia mengganti kamera yang hilang.

Alasannya, barang tersebut sudah diambil oleh orang sebagaimana yang tercantum di pengiriman. Kamera Canon C-500, kata pihak DHL di Malang   bernama Totok Suhadi. Padahal, dalam pengirimaan kamera tersebut hendak dikirim  ke Suhadi atau Toto, dan dalam kesepakatan baraang akan diantar ke rumah, bukan diambil di kantor DHL Malang.

Jadi, kata Henry, ada dua yang dilanggar DHL, yaitu mengapa sosok bernama Totok Suhadi diperbolehkan mengambil meski namanya berbeda dengan nama yang dikirim yaitu Suhadi atau Toto. Seharusnya, kata Henry, DHL konfirmasi sebelum barang diserahkan. Kedua, mengapa barang tidak diantar ke rumah sesuai alamat.

“Cukup kasus Dea ini yang terakhir.  Semoga tidak menimpa orang-orang lain yang menggunakan jasa DHL. Itu karenanya, saya minta kasus Dea ini diselesaikan seadil-adilnya,” kata Henry. Pihaknya juga kecewa karena dalam mediasi pihak DHL tidak ada niatan untuk menempuh win win solution.

B Sadono Priyo
Wartawan Suara Karya sejak 1997
Editor :