logo

Gebyar KKN Posdaya di Magelang

Gebyar KKN Posdaya di Magelang

Masyarakat merasa mendapat dukungan dan masukan dari para mahasiswa, yang bekerja dengan baik bersama para pemuda di desa. Mahasiswa selalu mengajar rakyat jauh lebih dekat dibanding para pejabat, yang biasanya sibuk melayani rakyat banyak.

Oleh : Haryono Suyono

Minggu lalu, di bawah guyuran hujan di pagi hari, di Alun-alun Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, sekitar 500 mahasiswa dan dosen UNNES Semarang, bagian dari sekitar 5000 mahasiswa yang dikirim ke berbagai Kabupaten di Jawa Tengah, menggelar hasil Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama satu bulan lebih. Dalam acara yang gegap gempita itu, biarpun hujan belum reda, para mahasiswa dan penduduk pedesaan yang selama ini menjadi tuan rumah, serta ratusan mahasiswa ber-KKN menggelar berbagai stand di bawah tenda yang memenuhi alun-alun.

Tenda-tenda itu dipenuhi hasil produksi keluarga desa yang mendapat sentuhan mahasiswa. Produk yang digelar bermacam-macam, produk makanan lokal dari yang sederhana, sampai makanan yang mendapat sentuhan modern. Seakan, produksi pabrik yang diolah dengan mesin dan teknologi modern. Kendati hujan masih rintik-rintik, acara yang diikuti mahasiswa, masyarakat, serta keluarga desa yang selama ini menjadi mitra dan tuan rumah selama masa KKN itu berlangsung meriah. Acara juga dihadiri oleh para pejabat teras kabupaten, camat dan kepala Desa. 

Para camat dan kepala desa sengaja diundang karena secara kebetulan kami diberi tanggung jawab sebagai Ketua Dewan Pakar Menteri Desa dan PDTT, ingin mengadakan dialog dengan para camat dan kepala desa. Dialog itu, untuk belajar keadaan lapangan terkini, untuk mengembangkan program pembangunan yang makin marak. Kehadiran camat dan kepala desa membawa manfaat guna pengembangan program di masa depan.

Acara yang menarik itu dimulai dengan upacara di bawah rintik hujan. Semua berdiri menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti ribuan hadirin dengan khusuk. Pejabat daerah, mahasiswa dan masyarakat desa di bawah puluhan stand yang dipajang memenuhi alun-alun Kecamatan Bandongan, Magelang berdiri menyanyikan lagu kebangsaan di lapangan yang dikelilingi gunung yang indah dan udara dingin sungguh mengundang rasa haru yang mendalam. Pejuang pasti akan sangat berterima kasih bahwa di lapangan yang gerimis, lagu kebangsaan yang mengantar para sesepuh bangsa berjuang, hari ini tetap dinyanyikan dengan khusuk biarpun dalam keadaan hujan dan lapangan becek.

Setelah pidato pembukaan yang disampaikan oleh Ketua LPPM Prof Dr Totok Sumaryanto MPd mewakili Rektor UNNES, yang kebetulan sedang melakukan Ibadah Umrah ke Tanah Suci Mekah, bersama para wakil rektor. Sambutan singkat yang menceritakan betapa nikmatnya mahasiswa disambut rakyat di pedesaan, sehingga bisa melaksanakan praktek KKN dengan berhasil.

Ketua LPPM tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bupati Magelang yang kebetulan sedang bertugas di tempat lain, kepada para Camat dan Kepala Desa yang wilayahnya selama satu setengah bulan menjadi tempat mukim mahasiswa bergaul dengan masyarakat desa. Ucapan rasa terima kasih para mahasiswa semester ke tujuh yang dalam waktu singkat akan menjadi sarjana bidang pendidikan juga disampaikan. Sehingga, mereka secara serius belajar bersama masyarakat menyampaikan gagasan seakan sudah seperti sarjana dan mendapat umpan balik yang sangat berguna dalam menulis skripsi di kemudian hari. Banyak mahasiswa, yang biarpun sudah siap di kampus, mendapat pengalaman lapangan yang sangat berharga melengkapi bahan kuliah yang diperolehnya selama tujuh semester di peguruan tinggi yang bergengsi di Jawa Tengah tersebut. 

Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan Bupati yang disampaikan oleh wakilnya, yang mengucapkan terima kasih karena Magelang selalu menjadi tempat mahasiswa KKN dan mengharapkan agar di masa depan mahasiwa tetap dikirim ke desa. Karena, masyarakat merasa mendapat dukungan dan masukan dari para mahasiswa, yang bekerja dengan baik bersama para pemuda di desa. Mahasiswa selalu mengajar rakyat jauh lebih dekat dibanding para pejabat yang biasanya sibuk melayani rakyat banyak dengan segala keperluan yang tidak dapat ditunda lagi. Para mahasiswa bahkan bisa bermain olah raga, main musik dengan generasi muda dan salah satu yang menarik anak muda desa bisa lirak lirik dengan pemuda mahasiswa, siapa tahu ada yang jatuh cinta. 

Acara dilanjutkan dengan sajian tarian lokal yang dilakukan oleh satu rombongan penari muda bersama-sama, menggambarkan kebersamaan dan irama yang ditata rapi dengan isian pelajaran agama, yang diramu dalam tatanan seni yang menarik dan memakan waktu yang lama. Istimewa sekali karena seluruh penonton yang tadinya berjejer hampir memenuhi alun-alun tumplek blek maju ke depan, seakan ingin dekat dengan rombongan penari yang jumlahnya cukup banyak.

Para penonton kagum bahwa penari yang membawakan tarian dengan iringan rombongan penyanyi yang berpakaian seperti kapten angkatan laut dengan baju dan celana putih bertutup kepala seperti kapten kapal itu menyanyi tanpa putus untuk waktu yang sangat lama. Nyanyian itu kalau kita tidak di lapangan hampir pasti membawa kita tidur nyenyak karena nikmat yang dibawakannya, membawa kita seakan terkena sihir yang menenteramkan.

Setelah acara yang menarik itu para penonton yang banyak mendesak ke dekat panggung segera kembali ke alun alun menyebar. Acara dilanjutkan dengan sambutan kami dari Jakarta yang diisi dengan dialog langsung dengan pejabat daerah, para Camat dan Kepala Desa. Para Camat dan Kepala Desa merasa sangat nyaman karena dari Jakarta dioleh olehin arahan Menteri Desa yang terbaru tentang kemajuan empat program utama berupa Prukades yang harus sukses karena bisa mengangkat ekonomi desa dan tetangga desanya kearah kekuatan ekonomi yang berskala besar. 

Sehingga, pendapatan rakyat dan pemerintah desa akan bertambah tinggi untuk menopang kemajuan daerah pedesaan dan peningkatan pendapatan keluarganya. Program BUMDes di setiap desa harus segera dilaksanakan agar ada pemerataan ekonomi yang pemainnya adalah keluarga desa. Pengalaman masa lalu dengan PKK, Takesra Kukesra, Posdaya dan lainnya hendaknya ditampung dalam BUMDes agar ada keberlanjutan pembangunan ekonomi oleh setiap keluarga yang akan bangkit di setiap desa.

Kekuatan ekonomi desa ini akan mengantar kekuatan yang makin besar untuk program lainnya yaitu Embung Desa dan Sarana Oleh Raga Desa yang harus diisi oleh kawula muda yang aktif dan dinamis. Penjelasan dan penegasan ke empat program itu disambut oleh para Kepala Desa dengan natusiasme yang sangat tinggi. Mereka sangat mengharapkan agar kelanjutan program itu dijamin hingga berhasil baik.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Dewan Pakar Menteri Desa PDTT RI).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH