logo

Diplomasi Meja Ketupat Tahu di Magelang

Diplomasi Meja Ketupat Tahu di Magelang

Seperti restoran besar di kota besar yang bonafit, dinamik dan disukai pelangganannya, pesanan datang sebelum kami sadar apakah pesanan itu dicatat dengan baik. Kecepatan pelayanan yang luar biasa itu tidak kalah dengan Restoran besar di New York.

Oleh : Haryono Suyono

Minggu lalu dalam keadaan hujan gerimis setengah deras, setelah acara gelar kiprah KKN Posdaya UNNES di Alun-alun Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang yang biarpun dalam keadaan becek karena hujan tetapi sangat meriah, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang, Dr Ir Eko Muh  Widodo MT, yang mendengar kedatangan sahabat lamanya di Magelang, mengundang untuk mampir di kampusnya di kota yang sama. Mengetahui bahwa hari itu adalah hari libur Sabtu, dimana kampus tidak buka secara penuh kecuali ada kegiatan ekstra, secara halus undangan mampir ke Kampus itu disarankan dipindah ke tempat pertemuan lain yang lebih nyaman. Tawaran bertemu di Restoran mewah secara halus ditolak karena kita sedang berjuang mengentaskan kemiskinan, sehingga nampak kurang elok kalau bertemu di tempat yang mewah. Diusulkan pilihan di tempat yang memiliki nilai “kultural” asli Magelang. Disepakati bertemu di Warung Ketupat Tahu sederhana, warung lokal yang menyajikan makanan rakyat Ketupat Tahu yang memiliki rasa “sangat Magelang”.

Maka segera acara jedah dan peninjauan stand yang ramai di alun-alun digelar, rombongan dari Jakarta pamit dan meluncur ke tempat pertemuan, Warung Ketupat Tahu khas Magelang, dimana Rektor Unmuh Dr Ir  Eko Muh Widodo MT, disertai Wakil Rektor dan Ketua LPPM telah menunggu bersama rakyat banyak yang sedang menikmati makan siang jajanan Ketupat Tahu dengan lahapnya. Melihat betapa pengunjung dengan lahab dan wajah ceria menikmati ketupatnya, rasa kepingin segera duduk dan menikmati hidangan khas Magelang itu menguasai selera yang makin menggebu. Setelah bersalaman dan pelukan kangen karena sudah agak lama tidak bertemu dengan Rektor yang dinamik dan sangat aktif dalam mendukung kegiatan KKN Posdaya di masa lalu, kami segera duduk di kursi panjang dimana mejanya penuh makanan ekstra seperti kerupuk dan nyamikan lainnya. Dengan spontan Rektor yang sangat akrab itu memberi aba-aba, mungkin karena melihat mata kami sudah sangat kepingin segera makan ketupat, kepada Ketua LPPM Dr Heni Setyowati ER, S kp M Kes., untuk memesan ketupat lengkap dengan minuman yang kami segera tunjuk pilihannya.

Seperti Restoran besar di kota besar yang bonafit, dinamik dan disukai langganannya, pesanan datang sebelum kami sadar apakah pesanan itu dicatat dengan baik. Kecepatan pelayanan yang luar biasa itu tidak kalah dengan Restoran besar di New York. Sambil menyeruput Ketupat Tahu hangat dan pedas nikmat, kami segera terlibat dalam nostalgia membahas kegiatan mahasiswa, khususnya mahasiswa Unmuh Magelang yang tetap tegar bersama rakyat memberdayakan keluarga miskin melalui upaya gotong royong mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan keluarga secara sistematis.

Upaya yang akhir-akhir ini didasarkan pada roadmap MDGs telah dilanjutkan oleh Unmuh dengan landasan baru SDGs yang dijalankan dengan sungguh-sungguh sehingga Rektor dan jajarannya merasa mulai ada hasilnya yang menggembirakan. Banyak kelompok keluarga di desa yang bergabung dalam Posdaya makin gandrung dan menghendaki agar usaha yang dilakukan oleh para mahasiswa Unmuh itu dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan agar hasilnya makin nyata dan bermakna.

Mendengar semangat yang sangat tinggi itu, dijelaskan bahwa dewasa ini Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi RI, Eko Putro Sandjojo, ditugasi oleh pemerintah memimpin program pembangunan di pedesaan secara besar-besaran. Ada empat prioritas utama yang sedang digarap di pedesaan sebagai upaya pemberdayaan berkelanjutan, yaitu pengembangan Prukades, suatu usaha secara sungguh-sungguh agar keunggulan desa dan antar desa diangkat dalam skala besar agar memberikan dampak kemakmuran yang sangat tinggi bagi rakyat banyak di tingkat pedesaan. Prioritas kedua adalah BUMDes, pengembangan badan usaha di tingkat desa, agar rakyat banyak yang memiliki keunggulan komparatif dapat mengembangkan usaha ekonomi secara berkelanjutan dan sekaligus dapat memenuhi hajat hidup rakyat banyak serta memberi keuntungan guna menjamin hidup berkelanjutan yang lebih sejahtera. Ketiga, pengembangan embung desa agar masyarakat petani yang biasa mendapat air yang melimpah pada musim hujan dapat menghemat air itu sampai jauh di musim kering, sehingga ladang tetap bisa ditanami dalam keadaan subur yang lebih panjang, dan sekaligus dapat dikembangkan kombinasi pertanian dan perikanan yang menguntungkan rakyat petani yang mayoritas di desa. Dan keempat, pengembangan Sarana Olah Raga Desa agar anak-anak muda tetap betah di desa karena fasilitas olah raga, seni dan kesempatan pengembangan budaya dapat diramu dalam lapangan serba guna sehingga kreatifitas remaja dapat dijamin dengan sepenuhnya.

Menteri Desa dan PDTT telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga dalam rangka memfasilitasi pembangunan keempat prioritas pemberdayaan di pedesaan itu, termasuk menggalang kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi. Apabila Unmuh berkenan kiranya akan disampaikan kepada Menteri dan jajarannya agar kegiatan KKN yang selama ini sering dilakukan dengan baik bersama masyarakat luas, utamanya para ulama dan kalangan masyarakat Islam di desa, dapat dipadukan dengan kegiatan yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah daerah, camat dan Kepala Desa dengan empat prioritas tersebut.

Mendengar kemungkinan itu, Rektor dan jajarannya menanggapi kemungkinan kerja sama itu dengan baik, dan nampaknya diplomasi Ketupat Tahu Magelang siang itu menjadi sarana kerja sama baru antara Kementerian Desa dan PDTT dimana mahasiswa bisa mendampingi masyarakat desa melakukan upaya pemberdayaan yang berkelanjutan menuju masyarakat modern yang kekuatan sosial ekonominya akan makin tangguh untuk menjamin kehidupan yang sejahtera dan lestari. Para dosen dapat berperan sebagai pembina mahasiswa yang turun ke desa menjadi pendamping secara sukarela dan sekaligus menjadi merangsang tenaga muda desa makin bersemangat belajar pada tataran perguruan tinggi dengan baik.  Agar kemudian hari dapat menjadi tenaga penggerak pembangunan di pedesaan yang tidak lagi miskin tetapi mampu memanfaatkan kekayaan alam bukan sekedar sebagai kekayaan yang dipetak-petak kecil dengan aneka tanaman yang nilai ekonominya sekedar untuk konsumsi lokal, tetapi suatu upaya petanian modern dengan skala ekonomi besar yang mampu memproduksi hasil pertanian dalam skala besar yang mampu mengisi kebutuhan global dengan kualitas ekspor yang kompetitif. Suatu usaha pertanian modern yang diolah dengan teknologi tinggi, manajemen modern serta diarahkan pada pasar dunia yang tidak ada hentinya karena membawa keuntungan yang tidak ada batasnya.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Dewan Pakar Menteri Desa PDTT RI).

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH