logo

Ormas Islam & Ekonomi - Politik

Ormas Islam & Ekonomi - Politik

Hal mendasar dari dua tema besar yaitu kebersamaan bagi Muhammadiyah dan ekonomi warga bagi NU secara tidak langsung menegaskan bahwa dua persoalan ini menjadi isu penting bagi Indonesia, utamanya terkait tahun politik yaitu pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia di bulan Nopember 2017 ini memiliki gawe besar yaitu Muhammadiyah pada 18 Nopember merayakan 105 tahun pergerakannya dengan tema ‘Muhammadiyah Merekat Kebersamaan’dan NU pada 23 - 25 Nopember menyelenggarakan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar bertema ‘Mengukuhkan Nilai Kebangsaan Dengan Agenda Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga’. Hal mendasar dari dua tema besar yaitu kebersamaan bagi Muhammadiyah dan ekonomi warga bagi NU secara tidak langsung menegaskan bahwa dua persoalan ini menjadi isu penting bagi Indonesia, utamanya terkait tahun politik yaitu pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019. Tahun politik tersebut tentu tidak bisa terlepas dari peran dari dua ormas keagamaan termasuk NU dan Muhammadiyah dan di sisi lain kebersamaan dan ekonomi warga menjadi isu strategis dan sensitif untuk dijual pada tahun politik.

Bagaimanapun juga NU dan Muhammadiyah tidak bisa terlepas dari peran strategis di percaturan demokrasi yang berkembang di republik ini. Artinya, sejarah panjang dalam pergerakan NU dan Muhammadiyah secara tidak langsung telah memberikan warna di perkembangan kehidupan sosial ekonomi politik di Indonesia. Oleh karena itu, beralasan jika tokoh-tokoh dari NU dan Muhammadiyah turut andil dalam pemerintahan, baik itu secara langsung duduk di parlemen atau jajaran birokasi tingkat pusat atau dibalik layar dengan memberikan sumbang saran, baik diminta atau tidak kepada pemerintah demi kesatuan - keutuhan NKRI. Jika dicermati, sebenarnya kiprah NU dan Muhammadiyah cukup besar, meski di sisi lain ada juga beberapa keterlibatannya yang dianggap minor dan tentu ini hal yang wajar dalam ranah kehidupan demokrasi dan politik yang semakin dewasa karena perbedaan pandangan pasti terjadi.

Ekonomi - Politik

Tanggung jawab NU dan Muhammadiyah terhadap umat untuk Indonesia ke depan saat ini cenderung semakin kompleks, bukan hanya dalam konteks persoalan ekonomi, tapi juga lingkup sosial - politik. Oleh karena itu, peran nyata dari NU dan Muhammadiyah sangat diharapkan untuk mendukung target pembangunan, termasuk misalnya target pertumbuhan 5,1 persen. Betapa tidak dengan dukungan basis massa yang tersebar di pelosok tanah air maka kekuatan basis umat dari NU dan Muhammadiyah tidak hanya menjadi obyek pembangunan dalam konteks pasar, tapi juga sebagai subyek utamanya sebagai produsen dengan semua skala jenis usaha yang dilakukan, baik itu besar – kecil dan menengah. Mata rantai dari semua geliat bisnis yang dilakukan oleh basis umat NU dan Muhammadiyah secara tidak langsung akan menggerakan roda perekonomian, baik di tingkat pusat, wilayah, cabang dan ranting secara sistematis dan berkelanjutan.

Argumen itu juga mengacu komitmen era otda karena kiprah terhadap semua aktivitas yang ada di daerah semakin dominan, apalagi ini didukung alokasi dana desa di daerah yang memungkinkan berkembangnya geliat ekonomi kreatif dan didukung oleh basis ekonomi digital. Bahkan, pemerintah juga berkomitmen mengembangkan 1.000 UMKM untuk memasuki era e-commerce. Artinya, basis umat baik NU dan Muhammadiyah di semua daerah berpotensi semakin berkembang dengan dukungan dana desa dan era otda serta kampanye e-commerce bagi UMKM dan kalangan bisnis kelompok start-up yang saat ini semakin pesat. Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas terbesar dituntut peduli terhadap eksistensi otda, terutama mengacu peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran umat dan rakyat di daerah, tanpa terkecuali. Bahkan di era Jokowi - JK seharusnya ada lebih banyak tokoh-tokoh intelektual dari NU dan Muhammadiyah yang bermain untuk membawakan misi perubahan ke arah yang lebih baik, utamanya untuk peningkatan kesejahteraan umat dan warga.

Amal usaha NU dan Muhammadiyah memungkinkan mendukung kiprahnya di era otda, meski diakui tidak mudah implementasinya dan karenanya ini butuh dukungan sektoral dan lintas sektoral. Ada keyakinan untuk mencapai itu semua maka diperlukan semangat filantropi (kedermawanan sosial). Masyarakat yang kuat hanya mampu dibangun dengan dukungan keberadaan organisasi non-pemerintah dan ormas keagamaan yang berdaya dan filantropi yang efektif. Filantropi Islam terdiri dari zakat, infak dan sedekah (ZIS) dan wakaf. Gerakan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan tetapi juga mereduksi pengangguran dan kemiskinan yang pada dasarnya menjadi musuh besar ajaran agama.

Kedermawanan ummat Islam di Indonesia dapat diterjemahkan dari angka-angka. Said Aqil Al-Munawar menegaskan potensi dana zakat di Indonesia mencapai Rp. 7,5 triliun per tahun. Pemerintah mendukung kedermawanan dengan keluarnya UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang merupakan indikasi dana zakat diproyeksi sebagai salah satu pilar pembangunan masyarakat. UU ini menjadi lampu hijau atau pengakuan pemerintah dalam pengelolaan zakat yang kemudian lahir lembaga-lembaga amil zakat yang dikelola bukan pemerintah, misal Dompet Dhuafa Republika dan Pos Keadilan Peduli Ummat. Fakta lembaga ini hanya sebagian kecil dari ratusan lembaga sejenis di Indonesia yang digerakan oleh ormas keagamaan, termasuk NU dan Muhammadiyah untuk peningkatan kesejahteraan umat dan warga. Jika ini bisa dilakukan profesional maka dampak positif terhadap kesejahteraan pasti tercapai, termasuk juga tantangan pemerintah untuk mengelola dana haji yang nilainya triliunan.

Terlepas dari potensi dana umat yang sangat besar, bahwa peran NU - Muhammadiyah untuk berkiprah bagi peningkatan kesejahteraan umat tidaklah diragukan. Sebagai salah satu gerakan massa berbasis keagamaan maka eksistensi NU - Muhammadiyah menjadi salah satu penopang bagi kepentingan umat dan kemaslahatan. Jika hal ini berkelanjutan maka sinergi antara peran NU - Muhammadiyah bagi gerakan sosial dan keagamaan bisa mendukung peningkatan kesejahteraan dan sekaligus mereduksi kemiskinan. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Gungde Ariwangsa SH
Wartawan Sertifikat Utama. WA: 087783358784 - HP: 082110068127.- E-mail: aagwaa@yahoo.com
Editor :