logo

Harapan Rakyat Kepada Pemimpin Masih Tinggi

Harapan Rakyat Kepada Pemimpin Masih Tinggi

Demokrasi bukan priotitas utama tetapi demokrasi lebih difokuskan kepada upaya bangsa untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh : Dr Mulyono D Prawiro

Indonesia memiliki nilai falsafah hidup dan budaya yang sangat ampuh, yaitu Pancasila. Rakyatnya memiliki semangat tinggi dalam bekerja sama dalam bentuk gotong-royong serta kesatuan dalam keberagaman. Budaya dan semangat gotong-oyong yang ditanamkan oleh nenek moyang pendiri bangsa ini sungguh luar biasa. Dulu demokrasi bukan hal yang paling ditonjolkan, tetapi yang lebih dipentingkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hidup gotong-royong dalam bingkai kebhinekaan. Demokrasi bukan priotitas utama tetapi demokrasi lebih difokuskan kepada upaya bangsa untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Prof Farid Elashmawi, PhD, seorang Direktur dan Pendiri Global Succes di San Jose, Amerika Serikat, dan juga seorang warga negara Mesir yang tinggal Amerika ini, mengatakan bahwa agama, keluarga, hubungan, konsensus, senioritas, dan kesetiaan merupakan nila-nilai kunci bagi kehidupan orang Indonesia. Jadi menurutnya, kita adalah bangsa yang selalu menjunjung tinggi hubungan kemitraan dan menghindari adanya konflik sosial di antara warga bangsa serta menjaga keharmonisan.

Untuk memperlihatkan adanya penghormatan, senioritas menjadi tumpuhan yang sangat berarti dalam mencapai kesepakatan. Kerja sama dan saling melindungi telah lama muncul bersama-sama dengan peradaban manusia, karena kerja sama merupakan tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya. Seperti halnya dalam menjalankan organisasi, baik itu organisasi pemerintahan maupun organisasi swasta, pemimpin memegang peranan yang sangat penting, karena itu pemimpin dinilai akan membawa orang lain menuju gerbang yang dicita-citakan.

Seorang pemimpin diibaratkan sebagai petani bebek, dengan tongkatnya yang panjang mereka mampu membawa bebek-bebek itu ke suatu tempat yang diinginkan. Dengan tongkatnya itu, seluruh bebek-bebek dengan tekun dan iklas mengikuti instruksi sang petani bebek itu dengan baik. Disini terlihat bahwa bebek-bebek itu adalah suatu tim yang kuat, bersatu, bersama-sama dan sangat patuh kepada komandannya dan siap menunggu perintah. Jika sang komandan mengatakan “jalan”, maka seluruh anak buah akan langsung bergerak sesuai yang diperintahkan, demikian juga dengan rakyat.

Untuk hal-hal tertentu, khususnya yang terkait dengan pengambilan keputusan-keputusan penting dan strategis, seorang pemimpin memerlukan adanya konsensus dari sebuah tim, ketimbang sang pemimpin memutuskannya sendiri. Yang sampai saat ini masih melekat pada budaya bangsa kita antara lain adalah, menilai tinggi keharmonisan, hubungan dan etika antar pribadi dalam interaksi sosial, dan menginginkan adanya rasa aman, serta menghidari adanya perilaku kekerasan, konfrontasi, perilaku yang berlebihan, emosional yang semuanya dianggap arogan serta menjaga sikap sopan dan menghargai orang lain.

Kebiasaan yang sampai saat ini masih terus berkembang, yaitu menyerahkan semua keputusan penting dan strategis kepada sang pemimpin semata, dan pemimpin dianggap sebagai figur seorang ayah dalam hubungan pengambilan keputusan akhir. Haparan kepada sang pemimpin masih sangat tinggi, itu berlaku di semua tingkatan dalam organisasi, baik itu organisasi kecil maupun besar. Demikian juga harapan rakyat kepada pemimpin juga sangat besar, sehingga di alam demokrasi seperti sekarang ini, diperlukan adanya pemimpin yang memberikan harapan besar kepada rakyatnya, bukan dengan janji-janji kosong, tetapi janji-janji yang bisa memenuhi harapan rakyat banyak.

Memperhatikan banyaknya pemimpin yang saat ini sedang menikmati posisinya, yang tidak seluruhnya mampu mengendalikan rakyatnya sebagaimana sang petani bebek, kita kembali diingatkan kepada Almarhum Bapak HM Soeharto, Presiden RI ke-2, dengan gaya kepemimpinan yang sederhana itu mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Ini terlihat bahwa sebagai seorang pemimpin yang mendapat dukungan rakyat selama 32 tahun, mampu membawa perubahan yang sangat fundamental terhadap bangsa ini.

Persoalan utama yang dihadapi bangsa ini pada awal tahun 1970-an, adalah kemiskinan dan keterbelakangan. Negara kita tergolong negara miskin dan pendidikan rakyatnya relatif rendah. Merubah negara miskin menjadi negara berkembang bukan hal yang mudah, tetapi diperlukan pemimpin yang kredibel, mampu menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, berwibawa dan yang penting yang oleh para ahli kepemimpinan dan manajemen disebut juga sebagai orang yang Karismatik. Dengan kepemimpinan yang berwibawa, disiplin, tegas, dan karismatik yang oleh sebagian orang dianggap diktator, ternyata mampu membawa bangsa Indonesia keluar dari belenggu kemiskinan.

Angka kemiskanan telah mampu diturunkan, dari 69 persen di tahun 1970, menjadi sekitar 11 persen di tahun 1996. Demikian juga masalah pendidikan dan kesehatan, Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan. Pak Harto adalah seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat dan selalu tersenyum di depan rakyatnya dan tidak pernah menunjukkan kemarahan atau emosi di depan publik. Selalu tersenyum merupakan ciri khas Pak Harto, dengan demikian rakyat merasa dekat dengan pemimpinnya, rakyat merasa diayomi dan harapan rakyat kepada sang pemimpin benar-benar diwujudkan.

Hubungan rakyat dengan sang pemimpin berjalan dengan baik, kerukunan antar ummat beragama terjalin dengan sangat harmonis, cita-cita leluhur untuk membuat rakyat semakin sejahtera mulai terlihat hasilnya.  Dengan muculnya era demokratisasi dan modernisasi seperti yang terjadi akhir-akhir ini, di beberapa daerah, sifat gotong-royong mulai memudar, penghormatan kepada sang pemimpin juga mulai berkurang. Tidak sedikit pemimpin yang kehilangan kewibawaan, tidak memiliki karisma, sehingga rakyat berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang mengarahkan, bagaikan anak kehilangan figur bapaknya.

Namun demikian kita tetap bersyukur, bahwa mantan Menko Kesra dan Taskin, Prof. Dr. Haryono Suyono bersama mantan Menteri Koperasi dan UKM, Dr. (HC) Subiakto Tjakrawerdaja melalui Yayasan Damandiri telah berhasil merangkul banyak elemen masyarakat dan melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga termasuk perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga keuangan dan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan guna menghidupkan kembali budaya gotong-royong melalui pembentukan dan pengembangan Pos-pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di berbagai tempat di tanah air.

Dengan munculnya Posdaya-Posdaya di berbagai tempat di tanah air, budaya hidup gotong-royong dapat dihidupkan dan dilestarikan kembali, dengan demikian Posdaya merupakan sarana terbaik menghidupkan budaya gotong-royong.

* Penulis, Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta

Budi Seno P Santo
Wartawan Suara Karya sejak tahun 2005. Pernah meraih penghargaan jurnalistik M Husni Thamrin Award tahun 2008
Editor : Gungde Ariwangsa SH