logo

Dalam Tiga Pekan 312 Unit Shelter Rohingya Dibangun ACT

Dalam Tiga Pekan 312 Unit Shelter Rohingya Dibangun ACT

Para pekerja proyek pembuatan shelter Rohingya tak kenal lelah membangun rumah hunian sementara di kamp Cox's Bazar, Ban
Gerak cepat dilakukan oleh para pekerja pembangunan 1000 Shelter Rohingya di Cox,S Bazar, telah selesai dan siap huni.

COX'S BAZAR, BANGLADESH (Suara Karya): - Bendera Indonesia itu masih terpacak di tiang tinggi yang menjulang.

Meski tiangnya hanya sebatang bambu, tapi Sang Merah Putih tetap gagah berdiri di tengah-tengah luasan Kamp Rohingya terbesar di Distrik Cox’s Bazar: Kamp Kutupalong, Bangladesh Bendera Merah itu pun menjadi tanda bahwa di titik itu, persis di sekitar bendera, sedang dibangun sebuah pekerjaan kemanusiaan skala masif, yakni 1000 shelter dari Indonesia untuk Rohingya.

Sementara itu, di sekeliling bendera Merah Putih itu, puluhan pekerja tampak sibuk menggarap bagian atap shelter. Mereka kompak berseragam kaos Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan tulisan gagah “Indonesia” di bagian belakangnya. Peluh membasahi kaos mereka satu per satu.

Peluh deras mengalir karena di atas tiang-tiang atap yang sedang mereka kerjakan itu, para pekerja jelas-jelas menantang matahari yang begitu terik. Tapi semua bekerja dengan kecepatan maksimal.

Sebab, pekan ini sudah masuk pekan ke-3 pembangunan shelter dari Indonesia untuk Rohingya.

Menurut General Manager Communication and Media Network ACT Lukman Azis Kurniawan, memasuki pekan ke-3 sejak proses pembangunan pertama kali dilakukan, amanah pembangunan shelter dari masyarakat Indonesia untuk pengungsi Rohingya telah rampung sejumlah 26 set shelter.

Faisol Amrullah salah satu Leader Tim SOS Rohingya di Cox’s Bazar mengatakan, setiap set berisi 12 unit shelter, bisa digunakan oleh 12 keluarga. “Sampai Senin pagi (27/11), jika ditotal seluruhnya, sudah dibangun 26 set.

Berarti unit shelter yang sudah terbangun berjumlah 26 set dikali 12 unit = 312 unit shelter,” tutur Faisol langsung dari Kamp Kutupalong, Ukhiya, Cox’s Bazar. Pembangunan shelter Rohingya ini benar-benar diburu dengan waktu.

Sebab, shelter dibangun menggantikan shelter lama milik keluarga Rohingya yang dianggap tak layak lagi untuk menjadi tempat tinggal. Shelter baru menggantikan plastik terpal tipis yang menjadi dinding dan atap shelter lama pengungsi Rohingya di Kamp Kutupalong.

Faisol menjelaskan, setiap shelter baru yang dibangun berbahan dasar anyaman bambu, dengan atap seng kualitas mumpuni dan lantai yang disemen.

“Alhamdulillah, sampai Senin (27/11) sudah ada total 15 set shelter ACT amanah masyarakat Indonesia yang telah dihuni oleh keluarga Rohingya. Artinya, 15 set itu kini telah ditempati dan dimanfaatkan penuh oleh 180 keluarga Rohingya. Insya Allah, sepanjang hari ini akan bertambah lagi shelter yang rampung dan langsung bisa ditempati,” ujar Faisol.

Direktur Global Humanity Response (GHR) – ACT Bambang Yriyono yang tengah berada di Cox’s Bazar juga menjelaskan, pembangunan shelter setiap harinya terus dikebut. “Beberapa shelter yang belum sempat terpasang atap seng, sementara menggunakan polytent (terpal) untuk sementara, selagi menunggu seng dipasang.

Pertimbangan kontraktor adalah supaya secepat mungkin keluarga Rohingya itu bisa masuk ke unit shelter yang sudah jadi,” kata Bambang.

Yon Parjiyono
Editor : Yon Parjiyono