logo

Museum Taman Prasasti, Berkaitan Erat dengan MSJ di Kota Tua

Museum Taman Prasasti, Berkaitan Erat dengan MSJ di Kota Tua

Arca The Crying Lady dari Itali.
Kepada para guide  saya minta mengenalkan Museum Taman Prasasti," ujar Sri Kusumawati , Kepala UPT Museum Sejarah Jakarta.

 

JAKARTA (Suara Karya): Museum Taman Prasasti di Jalan   Tanah Abang I, Kebon Jahe, dekat Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, berkaitan erat dengan Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua. Koleksinya 862 prasasti seakan dapat bernarasi tentang rentang zaman di Indonesia dan orang orang ternama dari seluruh dunia.

Jaraknya hanya sekitar 5,5 km dari Kota Tua. Tak berlebihan bila Kepala Museum Sejarah Jakarta  mengatakan,  wajib pengunjung Museum Sejarah Jakarta (MSJ) di Kota Tua melanjutkan kunjungan mereka ke Museum Taman Prasasti tersebut.

"Kepada para guide  saya minta mengenalkan Museum Taman Prasasti," ujar Sri Kusumawati , Kepala UPT Museum Sejarah Jakarta, di Kota Tua, Jumat (17/11).

Menurut Sri Kusumawati, UPT Museum Sejarah Jakarta memang  meliputi Museum Taman Prasasti, Museum Joang 45 di Menteng Raya dan Museum Mohammad Husni Thamrin di Jl Kenari II. 

Untuk MSJ selama tahun 2016 pengunjungnya mencapai 726.714 orang dan tahun 2017 sampai Oktober, 656.278 orang. 

Sementara pengunjung Museum Taman Prasasti tahun 2016 hanya 9.485 orang dan tahun 2017 dalam periode yang sama  hanya  6.351 orang. 

Jadi pengunjung Museum Taman Prasasti yang luasnya 13.000 m2 itu seperseratus dari pengunjung MSJ yang luas lahan bersama gedungnya sekitar 3.000 m2.

Dari warga Batavia  bernama Pieter Erbervelt yang dihukum mati oleh VOC Belanda tahun 1722, ada prasastinya. Yang satu  asli berada di halaman dalam MSJ dan satunya lagi replika berada  di Taman Prasasti. 

Sejarahnya, Pieter Erbervelt seorang pemuda Indo, ayahnya keturunan Jerman dan ibunya dari Thailand. Erbervelt dituduh bersekongkol dengan Raden Kartadriya orang Jawa bersama 17 temannya mau melawan VOC dan akhirnya dihukum mati dengan ditarik dua kuda ke kiri dan ke kanan yang dikenal dengan peristiwa Pecah Kulit. Terakhir terungkap, itu hanya fitnah agar pejabat tinggi VOC dapat menguasai tanah tanah Erbervelt yang cukup luas.

Dari Kota Tua ke museum taman yang hijau itu cukup mudah. Bahkan dengan naik Mikrolet 08 Trayek Jakarta Kota - Tanah Abang hanya satu kali jalan. 

Tiba di depan Museum Taman Prasasti terlihat kereta jenazah dari zaman Belanda warisan Yayasan Palang Hitam lengkap dengan peti matinya. Di sebelah kiri kereta keraton milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Satu kereta keraton lagi dipajang di kantor museum tersebut. Dua kereta keraton itu tadinya untuk mengikuti Kirab Agung Keraton se Dunia di Lapangan Monas 5-8 Desember 2013. 

Lewat gerbang, terlihat taman indah dengan banyak arca bidadari dari marmer dan bangunan makam dengan ornamen bernuansa Eropa.  

Terlihat arca wanita  bersimpuh, kepalanya menunduk dengan kedua tangannya memegang batu nisan. 

"Itu namanya The Crying Lady," ucap Andri Laksana, Kepala Satuan Pelayanan Museum Taman Prasasti yang memandu pengunjung.

Di alas arca itu terpahat tulisan Milano, Itali. Di sebelah selatannya ada makam Ny Olivia Mariamne, isteri Gubernur Jenderal Stamfford Raffles. Wanita ini senang pada tanam tanaman sehingga Raffles membangun Kebun Raya Bogor. 

Dari catatan sejarah,  Olivia yang meninggal dunia pada 23 November 1841 di Buitenzorg (sekarang Bogor) itu dianggap aneh, mengapa  dia minta dimakamkan dekat dengan John Casper Leyden, sahabat keluarga Raffles yang dimakamkan lebih dahulu. 

Hal yang  baru di Museum Taman Prasasti ini adalah dua peti jenazah Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta yang juga Presiden dan Wakil Presiden RI pertamakali tahun 1945. Tadinya bertahun tahun kedua peti mati itu  disimpan di gardu kecil, kemudian dipindahkan ke  gedung Serba Guna.

Kini dipajang di  pendapa membuat  pengunjung mudah mengamatinya. Pada tutup kaca kedua peti jenazah tertulis keterangan masing masing.

Ir Soekarno lahir di Surabaya 6 Juni 1901, wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar pada 22 Juni 1970.

Sedang Drs Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi 12 Agustus 1902 , wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Tanahkusir, Jakarta pada hari itu juga.

Agaknya kedua proklamator itu tetap berdampingan seperti saat memproklamasikan kemerdekaan bangsanya pada 17 Agustus 1945 silam. 

 Andri Laksana  didampingi Yudi selaku pemandu wisata Museum Taman Prasasti menunjuk beberapa makam dan prasasti in situ yang semuanya berjumlah 32 bangunan lengkap dengan batu nisan, hiasan dan prasastinya.

Yang termasuk penting adalah makam DR JL Andries Brandes,  tokoh pengungkap candi dan bangunan purbakala diJawa. Brandes lahir di Rotterdam 13 Januari 1875 dan tutup usia di Batavia 26  Juni 1905. Makam Brandes mirip candi dengan batu nisan berbentuk stupa.

Di Candi Sumberawan di Kecamatan Singosari ada batu prasasti Brandes. 

Ada lagi tokoh mahasiswa 66 Soe Hok Gie salah seorang pendiri Mapala Universitas Indonesia. Ia yang meninggal dunia di Gunung Semeru, Jawa Timur Desember 1969. Pernah dimakamkan di sini dengan ditandai arca bidadari kecil  dan prasasti.

           Tempat Kebangkitan

Ada yang tak boleh dilupakan adalah makam H.F. Roll dengan makam berbatu nisan berbentuk buku terbuka. Roll lahir 27 Mei 1867 di Negeri Belanda  dan tutup usia 20 September 1933 di Batavia. Dia penggagas dan pendiri Stovia atau Sekolah Tinggi Kedokteran Jawa (Indonesia)  yang diresmikan tahun 1902.

Dari Stovia inilah lahir Pergerakan Nasional Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang tiap tahun diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Di sini ada makam Mayor Jenderal KNIL JHR Kohler yang tewas dalam Perang Aceh pada 14 April 1873.

Menurut Andri Laksana yang dibenarkan Arkeolog Candrian Attahiyat, Kohler pernah dimakamkan di sini dengan nisan prasasti asli masih terpasang di tempat semula.  Namun jazadnya telah dipindahkan ke Kerkof Banda Aceh saat pembongkaran makam Kober Kebon Jahe 1975. Di sana ada nisan dan prasasti replika serupa di sini.

Museum Taman Prasasti ditanami bunga bunga dan puluhan pohon pohon pelindung. "Di sini dilarang ditanami pohon buah terutama yang bergetah,"  kata  Andri yang dibenarkan Yudi. Itu dimaksudkan agar ratusan prasasti terhindar dari noda getah dari buah maupun tanaman tersebut.

Pengunjungnya tahun 2015 tercatat 6.802 orang , tahun 2016 meningkat menjadi  9.485 orang dan tahun 2017 dalam 10 bulan sampai Oktober mencapai 6.351 orang.

Tercatat  Sabtu (11/11) dan Minggu pengunjungnya mencapai 85 orang dan 110 orang.

Pada umumnya pengunjung di sini pelajar dan mahasiswa di antaranya siswa sekolah ataupun kursus fotografi. Keistimewaan taman ini benuansa Eropa dengan ornament antik. Tidak jarang untuk lokasi pemotretan prewedding dan. keperluan lainnya. ***

Dwi Putro Agus Asianto -
Karir di Harian Umum Suara Karya sejak 1992. Email:dwiputro2014@gmail.com
Editor : Dwi Putro Agus Asianto -