logo

Menko PMK: Indonesia Komitmen Berantas Tuberkulosis 2035

Menko PMK: Indonesia Komitmen Berantas Tuberkulosis 2035

Dok. Kemenko PMK.
Bicara dalam forum internasional di Congress Hall, WTC Congress Centre, Moskow, Rusia, Kamis (16/11) waktu setempat, Menko PMK Puan Maharani menargetkan bahwa TB akan hilang dari Indonesia tahun 2035.

MOSKOW (Suara Karya): Indonesia merasa bangga dan berkomitmen penuh untuk mengeliminasi Tuberkulosis (TB) dalam rangka strategi mengakhiri/menghapuskan TB sebagai bagian dari tujuan pembangunan Indonesia.

Komitmen Penghapusan TB dipastikan dengan adanya kebijakan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan pengendalian TB yang meliputi penerapan strategi untuk bisa keluar dari bantuan luar negeri; Melaksanakan skema Jaminan Kesehatan Nasional dan perlindungan sosial; Melakukan pendekatan kesehatan keluarga dan masyarakat; Menetapkan strategi gabungan publik-swasta berbasis kabupaten/kota; Melaksanakan program penemuan dan kemitraan aktif; dan melibatkan kebijakan inovatif dalam pengendalian TB.

Demikian paparan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, saat bicara pada Rapat Pleno Tingkat Tinggi Pertama yang membahas berbagai upaya mengakhiri TB sebagai wabah pembunuh, di Congress Hall, WTC Congress Centre, Entrance 4, 2nd Floor, Moskow, Rusia, Kamis (16/11) waktu setempat.

Di forum pertemuan tingkat tinggi antarmenteri ini, Menko PMK berbicara selaku wakil dari negara yang sukses memerangi wabah TB.

Puan mengungkapkan, langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Indonesia itu adalah kunci untuk meningkatkan akses dan jangkauan penanganan kasus TB yang sebelumnya tidak terjangkau.

Pemerintah juga menyiapkan kerangka hukum --yang mencakup pernyataan bahwa TB sebagai penyakit yang dapat dikenali-- untuk memperkuat dan mendukung dalam mencapai penghapusan penyakit TB di Indonesia.

"Indonesia telah melaksanakan Pendekatan Keluarga di dalam perawatan TB dengan melakukan kunjungan ke rumah untuk mendeteksi TB yang akan ditangani/diobati dan penanganan masalah kesehatan lainnya di dalam keluarga. Untuk pengendalian faktor risiko kesehatan, Indonesia kini menjalankan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat untuk memotivasi masyarakat agar mempraktikkan gaya hidup sehat,” papar Puan, melalui rilis Kemenko PMK.

Bersama dengan Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Menkes India, dan Menkes China, Puan menegaskan tantangan bagi semua negara dengan beban penyakit Tuberkulosis yang tinggi untuk segera dapat mengakhiri epidemik TB. Juga menemukan kasus-kasus TB yang selama ini belum bisa ditemukan, agar melalui program pembangunan kesehatan selanjutnya, penyakit ini dapat ditemukan dan diobati.

"Kita juga kita harus memperingatkan mereka dalam rangka mengakhiri penularan dan penyebaran penyakit TB. Untuk tujuan ini, kita harus mengatasi banyak hambatan seperti kesulitan mengakses kasus TB yang tersebar di pedesaan dan perkotaan, keterbatasan sumber daya, hambatan geografis dan masalah sosial ekonomi," tanbahnya.

Menemukan cara baru dan menciptakan inovasi untuk mendeteksi sebanyak mungkin kasus TB yang harus diobati, untuk mengerahkan dan memobilisasi sumber daya yang terbatas, dan menyelesaikan hambatan sosio-ekonomi, merupakan hal-hal yang sangat penting dilakukan.

"Semua Ini dapat diimplementasikan dengan baik ketika kita mempunyai komitmen yang kuat dari semua sektor pemerintah dengan dukungan masyarakat yang kuat dan semua pihak terkait - termasuk sektor swasta,” imbau Menko PMK.

Sebagai penutup, Menko PMK menyatakan, Indonesia berkomitmen kuat untuk mencapai Eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2035 sebagai bagian dari agenda Pembangunan Nasional. "TB dapat mempengaruhi kita semua, TB adalah urusan semua orang," pungkasnya. 

Kedua Terbanyak

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek mengatakan saat ini Indonesia menduduki peringkat nomor 2 terbanyak penderita tuberkulosis atau TBC setelah India.

"Saat saya pergi ke beberapa negara, saya ditegur, kenapa banyak warga Indonesia yang terkena TBC, seperti TKI di Malaysia, terpaksa harus dipulangkan karena TBC," katanya.

Nila menilai kondisi itu perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pihak terkait untuk segera mengatasinya, bukan hanya pada pasien yang masuk rumah sakit, tetapi juga harus dilakukan intervensi sampai ke keluarganya.

"Begitu ada pasien TBC masuk rumah sakit, hampir bisa dipastikan anggota keluarga lainnya juga akan terkena penyakit tersebut, selanjutnya akan segera bergiliran anggota keluarga tersebut dirujuk ke rumah sakit," kata Nila.

Nila mengatakan pencegahan bisa dilakukan antara lain dengan melakukan kunjungan secara rutin ke rumah masyarakat guna memastikan bahwa tempat tinggal mereka memiliki sanitasi yang baik sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan.

Selain itu, tambah dia, perlu dilakukan pemetaan masalah di masing-masing daerah untuk memastikan penyakit-penyakit apa yang kini berkembang di daerah.

Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.

TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa padal tahun 2015, Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus baru TB terbanyak. TB di Indonesia juga merupakan penyebab kematian nomor 4 setelah penyakit kardiovaskular. ***

Laksito Adi Darmono
Wartawan Suara Karya. Email: dlaksitoadi@yahoo.com.
Editor : Laksito Adi Darmono